Jalan Buntu Independensi KAMMI


Di antara permasalahan yang menjadi bahasan renyah dalam setiap diskusi KAMMI sepanjang 2012-2014 adalah pemaknaan independensi dan upaya pembinaan kader di tingkat komisariat maupun daerah.

Bagi penulis, dua hal ini merupakan bahasan tak ada ujung bagi sebuah organisasi yang ingin tetap hidup dan terus berkiprah secara sosial maupun politik di ranah publik.

Sebagai hasil dialog panjang, buku ini berisi tiga hal. Pertama, refleksi penulis yang selama masa kuliah bergelut sebagai bagian dari gerakan mahasiswa. Kedua, pemaknaan paradigma gerakan KAMMI dan tafsir independensi KAMMI sebagai asas organisasi. Ketiga, alternatif pola kaderisasi yang diterapkan di tingkat komisariat.

Selengkapnya, baca di buku berjudul JALAN BUNTU INDEPENDENSI KAMMI
Penulis: Alikta HS
Pengantar: Faqih AA
Penerbit: Sabuk Pustaka
Dimensi: 14×21 cm
Tebal: 185 halaman
Harga: 48.000,-

Pemesanan, hubungi @diditsetyopamuji 085 642 850 170 / saya 085 647 978 993 / akun penerbit @sabukpustaka

 

Iklan

Rohis dan Dakwah Sekolah


20375803_10203692409987827_6039060885405239981_n

Sebagai mantan pengurus rohis di SMA Negeri, saya sepakat bahwa keputusan Menteri Agama untuk mengawasi rohis adalah hal yang tidak mendidik. Terutama, bila pengawasan yang dimaksud adalah pembatasan dalam pengelolaan kegiatan rohis, dan bukannya pembimbingan dalam pengorganisasian ekstrakulikuler ini.

Di saat saya menjadi pengurus rohis, sekitar tahun 2009/2010, kami dalam masa awal mengubah mindset rohis bukan hanya sebagai panitia peringatan hari besar Islam. Kami ingin membuat sistem yang holistik mengenai bagaimana rohis terlibat dalam kegiatan dakwah universal dalam lingkup dakwah sekolah. Kami bercita-cita membuat kurikulum yang terpadu mengenai bagaimana pembinaan itu dilakukan dan diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya. Kami bersemangat melakukan ekspansi pemikiran itu, bukan hanya dalam lingkup sekolah kami, tapi dalam forum yang lebih besar: Forum Komunikasi Rohis Se-Kabupaten.

Apakah hal itu kami pikirkan dan rumuskan sendiri? Tidak! Ada sistem yang jauh lebih besar di balik itu. Sistem itu menaungi lingkup gerak kami. Menjadi penyokong ide dan benih wacana yang kemudian kami semai sendiri sesuai jiwa muda kami, dalam batas keluguan dan romantika masa muda.

Tarbiyah lah yang menjadi muasal lahir gerakan dakwah sekolah di SMA. Dulu, kami menciptakan sel sel kecil, tempat kami mendiasporakan ide dan gagasan tentang pemuda islam yang beriman dan berakhlak baik. Sebatas itu. Meskipun, pada lingkup yang lebih terbatas, beberapa “petinggi rohis” pun telah akrab dengan sistem dakwah Tarbiyah secara politik. Serta, akan mengarah kemana dakwah ini nantinya.

Segala bias dakwah dan.politik dicekokkan pada kepala belia yang bimbang. Konsepsi pertemanan antar lawan jenis menjadi bincang hiburan saat penat dengan segala macam rumusan tentang pola dakwah sekolah yang ideal. Tentang tujuan, sasaran, dasar, penyokong dana, lobi-lobi dengan pihak sekolah yang kami anggap terlalu ketat membatasi, hingga akhirnya kami membuat tim yang merumuskan dan mewariskan pola dakwah yang kami angankan.

Setelah kami lulus, kami berdiaspora ke beberapa kampus dan berusaha melakukan rekruitmen yang jauh lebih besar. Sistem sel yang mulanya terbentuk di SMA menjadi bibit unggul untuk disemai dalam lembaga dakwah kampus. Dan tentu saja, banyak dari alumni pengurus rohis menjadi tangan penghubung transfer yang terjadi.

Setelah beberapa tahun berlalu, saya melihat kelebat bayangan kenangan tentang ekspansi dakwah sekolah yang dulu kami lalui sebagai jalan berpikir yang lebih luas. Jalan yang menuntun saya berpikir bukan hanya untuk diri sendiri, tetapi pada cita-cita luhur tentang islam, pemuda, dan peradaban.

Ada yang salah pada sistem yang membesarkan saya selama SMA ini. Tentang keengganan orangtua kami di sekolah untuk ngemong jiwa muda yang berontak terhadap kejumudan, dan sikap ekstrimisme yang serta merta tertanam. Ada semangat kebaikan yang dibelokkan jadi pembangkangan.

Namun, rohis lebih berarti dari sekedar jadi panitia hari besar Islam. Ada semangat pemuda islam yang dapat ditransmisikan sebagai modal penggerak akhlaq yang mulia, pencari ilmu yang prestatif, serta manusia yang paham mengenai hakikat diri dan penciptanya.

Harapan saya, orangtua kami di sekolah selalu menyambut hangat semangat yang bersemi, bukannya membonsai dan mematikan. Bimbinglah adik-adik kami menjadi pemuda islam yang prestatif, berakhlak mulia, mencintai tanah air, dan memiliki cita-cita yang menjadikan Islam sebagai ruh dalam menjalani aktifitas. Jangan jadikan adik-adik kami menjadi ekstrimis dan radikal oleh pengekangan dan pembatasan.

🙂

MBAH NATSIR


 

Nduk, apa yang terjadi beberapa pekan terakhir membuat Mama teringat pada sosok Mbah kita, Mbah Mohammad Natsir. Beliau adalah seorang intelektual Islam, ulama, pendidik, sekaligus seorang politikus. Beliau sangat intens mengkaji dan menggaungkan gagasan mengenai persatuan agama dengan negara. Mbah Natsir meyakini, bahwa hanya dalam naungan Al-Qur’an, Pancasila akan hidup dengan subur. Pun, beliau meyakini bahwa dengan dasar negara Pancasila, kehidupan umat Islam akan terpenuhi hak dan kewajibannya sebagai warga negara yang beragama Islam.

IMG_20170318_184957

Namun, upaya beliau mempertemukan gagasan Islam-Pancasila ini mengalami titik jenuhnya ketika Pancasila kemudian diterjemahkan sebagai sistem sekuler. Atas dasar itu, Beliau menyuarakan gagasan mengenai sila pertama sebagai fundamen dasar sila-sila lainnya. Bahkan, beliau menyampaikan bahwa harusnya dasar negara Indonesia berganti menjadi Islam. Meskipun, pada akhirnya usul ini ditolak oleh Majelis Konstituante pada saat itu.

Jadi, Natsir seorang konservatif? Tidak. Pemikirannya sangat moderat. Beliau meramu asas-asas Islam dalam sebuah negara modern dengan pendekatan yang amat realistis. Misal, tentang keyakinannya bahwa prinsip syura dapat diwujudkan melalui parlemen dengan sistem multi partai.

Gagasan Mbah Natsir boleh kalah. Partai Masyumi yang ia hidupi, boleh dibubarkan. Ia yang disangkakan terlibat PRRI, boleh dilibas karir politiknya. Tapi, gagasannya terus berkembang, diwariskan, memiliki tempat dalam benak para intelektual muslim sesudahnya.

Ini bukan soal kalah atau menang, Nduk. Tapi, ini pelajaran buat kita semua. Bahwa pembubaran dan pemboikotan tak pernah mematikan ide.

Ide akan hidup. Melebihi usia manusia penggagasnya.

Sebenci apapun kita pada sebuah ide, jangan memberangusnya dari pikiran. Sebab, memberangus ide tak akan membuatnya mati. Kita sendiri justru yang sedang meracun diri.

Merayakan Hari Merdeka


Beberapa hari ini, lini masa sedang ramai berdebat tentang sekelompok gadis seksi berpakaian mini yang mahir berjoged sambil bernyanyi, yang kabarnya akan diundang memeriahkan perhelatan besar di Indonesia.

Sekelompok orangtua berkata, tidak. Sekelompok anak muda berkata, dasar kolot. Beberapa lainnya, memberi komentar beragam.

Hanya tak habis pikir saja, bagaimana perdebatan antara golongan muda dan golongan tua (sederhananya) memperdebatkan hal yang “nggak penting banget” ini. Dulu, perdebatan dua golongan membahas proklamasi, penerapan syariat Islam di Aceh (Rasuna Said vs Ulama Aceh), dll. Sekarang? Omaigat. Atau memang, sepenting itu hadir tidaknya mereka, ya? Gitu?

Barangkali, pelarangan adalah wujud sayang. Sebab yang tua paham, bahwa penumbuhan karakter, etika (dalam berpakaian, pergaulan, dll) ditumbuhkan lewat tayangan, visualisasi.

Sebab, perilaku terbentuk oleh siapa yang pertama mengajarkan, siapa yang lebih anak percaya, siapa yang menyampaikan dengan cara yg menyenangkan, serta siapa yg lebih sering menemani. Bila kesemua peran ini diambil alih oleh sekelompok idol dengan segenap personifikasi yg melekat padanya, apa yang bisa kita harapkan si? Sekelompok gadis ini memang menghadirkan kegembiraan lewat laku polos, tingkah energik, tawa ceria, dan juga cerita hiburan dalam balutan gosip (tentu saja) mereka dalam lika liku cinta dan karir. Hanya saja, menjadikan mereka sebagai sorot utama pembentuk laku memang mengkhawatirkan.

Belum lagi, fanatisme yang mengurat nadi. Membela hingga titik nadir tanpa paham benar salah asal ikut andil membela. Mestikah kita biarkan?

Sudah terlalu banyak pola asuh yang mengabaikan dan terlalu permisif. Anak diberi kebebasan seluas-luasnya tanpa batasan dan bimbingan. Namun, pelarangan saklek juga memang menyebalkan ya? Sikap otoriter terpatri dan menumbuhkan perlawanan yang justru makin keras. Ruang dialog yang demokratis seharusnya dibuka, agar dua generasi paham yang dimau dan yang tak diharap.

Hanya saja.. bagaimana membuka ruang dialog yang sepertinya macet ini? Ketika yang tua anggap yang muda tak bermoral. Ketika yang muda anggap yang tua kolot dan gagap membaca zaman yang berubah. Jadi, mungkin memang generasi kita sekarang darurat idol baru. Macam Tsamara dengan perempuan melek politiknya. Selebgram hijaber dengan dandanan dan pesan dakwahnya. Ustad atau hafidz rupawan dengan wajah dan akhlaknya. Juga, ribuan romansa cinta yang berbalut kesan Islami. Kadang, memang jengah memandang dakwah pop macam ini. Tapi…. entahlah.

Saya tidak tahu. Sama sekali.

Padahal malam tujuh belasan dengan menonton wayang dan mendegarkan tabuh gamelan bakalan syahdu sekali. Kalau bisa, lakonnya Gathutkaca Lair.

Gathutkaca lahir dari intrik politik dan kepentingan. Oleh Dewata, ia diminta bertarung. Lawannya enggan, sebab yang ia hadapi hanya seorang bocah. Maka, digodoglah ia dalan kawah, diberi pusaka dan kedigdayaan, lalu jadilah ia dewasa secara tak wajar. Tak ada rasa welas asih pada dirinya. Ia kehilangan empati. Kelak, dia bunuh Paman tercintanya, Kalabendana. Dia tantang saudaranya sendiri bertarung sengit. Dia jadikan dirinya mesin pembunuh paling beringas saat Bharatayuda.

Ada juga, lakon yang mirip dengannya kini. Ia lahir dari intrik politik dan kepentingan. Kiprahnya baik, tapi masih dalam lingkup yang amat kecil. Lalu, dia digoreng media. Jadilah ia berkekuatan sangar, digdaya! Karena dewasa dini, ia jadi tak paham susahnya rakyat. Ia naikkan ini dan itu, ia ambil ini dan itu. Ia tantang saudaranya. Ia terbitkan segala macam aturan yang merampas hak. Ia matikan sekutunya sendiri, tanpa ampun.

Oleh Bathara Narada, Gathutkaca dihadapkan dengan Patih Sekipu dan Prabu Kalapracona yang didakwa mengobrak abrik Kahyangan. Tapi, menurut saya memang kahyangan ini emang lagi mudah diobrak abrik sebab Hyang Wisnu memilih moksa dalam tubuh manusianya Sri Kresna. Pun, saya kira dulu ya lawannya tokoh kedua ini memang melawan angkara, pengobrak-abrik, penculik, pembunuh. Hehe

Tentu kisah ini berakhir beda. Yang pertama, gugur sebagai prajurit terbaik dan ksatria utama. Yang kedua, masih kita tunggu akhir kisahnya.

Teman Sekelasku jadi Suamiku


Foto Alikta Hasnah Safitri.Ketidaktahuan ternyata bisa jadi seindah ini ya. Awalnya, saya hanya sedang mencari foto2 zaman SMA yang menempatkan kami berdua dalam satu potret. Kemudian, sambil melihat kembali foto2 tadi, terlintas di pikiran saya tentang apa yang mungkin saya pikirkan bila dahulu kala saya tahu bahwa lelaki ini akan jadi suami dan ayah bagi anak saya.

Pernah saya bertanya pada dia @diditsetyopamuji, “dulu kan aku pernah mau pindah jurusan pas mau kenaikan kelas. Tapi wali kelas bilang eman2. Akhirnya kan aku tetep di IPA. Aku menyesal banget manut pak guru. Hiks. Apalagi akhirnya aku malah harus pindah jurusan pas aku kuliah. Lebih eman2 kan? Soalnya emang beneran nggak ada bakat sains blas aku. Eh, terus kita nikah gini. Terus kan aku jadi mikir, Masak iya aku tetep di kelas yg sama cuma biar kita ketemu, satu kelas, dan bikin kamu tergila2 sampe bertahun2.. 😆😆 kalo dulu aku pindah jurusan pas di SMA, kira2 kita tetep berjodoh nggak si? “

” insyaallah iya. Kan jodoh kita udah tertulis. Mungkin bakalan beda lagi skenarionya. ”

Lalu, saya mulai menyebutkan beberapa kemungkinan skenario. Misal, ketemu dan kenalan di angkot atau rebutan racikan di kantin atau ketemu di perkiraan pas sama2 telat. Hahahaha. Pokoknya ala ala drama ftv lah.

Well. Ketidaktahuan memang seindah ini. Ketidaktahuan membuat kita mengupayakan yang terbaik untuk segala hal yang kita lakukan. Ketidaktahuan mengajari kita untuk selalu bertawakal pada Allah yang menentukan takdir terbaik untuk setiap hambanya.

Lagian, kalo tahu kita bakal nikah, mungkin ya nggak bakalan lah kamu pose sendiri. Pasti bakalan ngajakin aku selfie sambil bilang, “nyicil foto prewed yuk, Al”. Dan, di masa kini, kita nggak jadi sibuk untuk search file yang menampilkan kebersamaan kita dalam satu potret 😅😅

Setelah 1439 Hijrah Nabi


Foto Alikta Hasnah Safitri.Hijrah di zaman Rasulullah adalah proses pendewasaan bagi sesiapapun ia yang terlibat. 1439 tahun berlalu sejak Hijrah Nabi, sudahkah kita melatih diri untuk berpikir dan bertindak dewasa?

Hijrah mengajarkan makna kemanusiaan yang paling hakiki. Sudahkah kita memanusiakan diri, kelompok, dan menempatkan “liyan” sebagai manusia yang sama?

Hijrah bukan melulu soal bagaimana rupa fisik dan pakaian yang kau kenakan kini. Bukan melulu terlihat dari sesiapapun ia yang kini berada di lingkaran terdekatmu.

Hijrah adalah langkah demi langkah yang ditempuh dalam keberanian, kemantapan hati, perjuangan, pengorbanan, keimanan. Dibingkai dalam persaudaraan dan kemanusiaan yang indah. 1439 tahun berlalu sejak Hijrah Nabi, mengapa masih banyak dari kita saling membenci, melukai perasaan, menyakiti dengan lisan dan tulisan, berprasangka dengan saudara Seiman? Kenapa?

MINI REVIEW: ORANG MAIYAH


Foto Alikta Hasnah Safitri.Ndredeg duluan mau sok-sokan bikin mini review buku ini. Soalnya saya hanya satu dua kali saja mengikuti forum maiyahan secara langsung, selebihnya menonton lewat siaran TV. Mbok salah tafsir atau makblas nggak mudeng, kan jadi keliatan sok taunya, waton njeplak 😂😂

Well, buku ini merupakan bunga rampai. Semacam curhat berbalas antara Cak Nun dan tujuh orang maiyah lainnya mengenai laku perjalanan nilai keseharian mereka.

Buku ini mengajak kita sebagai pembaca kembali merenungkan hakikat dan jalan panjang keilmuan, tentang makna keikhlasan dan cinta, tentang hidup dan kehidupan, tentang seberapa penting menjadi kaya atau miskin, juga tentang mengalahkan musuh abadi dalam diri.

Bahwa jalan keilmuan memang berat dan tak berujung. Bahwa jalan itu tak mesti bervisi berderetnya gelar, tetapi munculnya kecintaan yang hikmat pada Sang Pencipta. Juga, menghikmahi kekayaan dan kemiskinan dalam iman, dengan syukur dan sabar.

Terjawablah alasan mengapa orang maiyah kuat duduk manis semalaman 5-7 jam tanpa protes pada kantuk dan lelah. Tidak lain, karena disana mereka menemukan pintu menuju kesejatian hidup yang menenggelamkan mereka dalam perasaan cinta yang dalam 

In 📷 : Zia ingin mereguk secuil hikmah dari buku Mbah Nun. Moga barokah 😊

#igbookreview #goodreads #bukubagus #mbahnun#ilmuhidup #orangmaiyah