Kisah, Makna, Hidup

Jadilah Sempurna, Nak


Then I Met My Sister karya Christine Hurley Deriso atau yang kemudian diterjemahkan menjadi Kakakku yang Sempurna dalam Bahasa Indonesia adalah salah satu novel remaja yang cukup layak dibaca. Novel ini berkisah tentang Summer, seorang gadis belia yang sejak lahir hidup dalam bayang-bayang kesempurnaan mendiang kakaknya, Shannon. Pasalnya, hampir semua orang yang berada di sekitar Summer selalu memuja dan membanggakan kakaknya yang bahkan tak pernah ia temui selama hidupnya.

Cantik, cerdas, dan berbakat. Tiga hal yang mutlak telah menjadikan Shannon sebagai sosok gadis yang sempurna. Jelas, tiga hal itu terlalu mustahil bagi Summer. Orangtua Summer, terutama ibunya berharap Summer bisa memiliki sedikit saja kelebihan yang dimiliki kakakknya. Tuntutan demi tuntutan yang tak kunjung bisa ia wujudkan membuatnya tertekan, sekaligus membuatnya begitu membenci sang kakak.

Hingga pada suatu musim panas, ia membaca buku harian milik mendiang kakaknya. Ia baru sadar bahwa sosok Shannon yang ia pikir begitu sempurna menyimpan kisah tragis yang misterius dalam hidupnya.

Sebagaimana dirinya, Shannon pun mengalami tekanan akibat tuntutan kesempurnaan dari orangtuanya. Belum lagi, ia kemudian mengetahui fakta perselingkuhan ayahnya serta pengkhianatan sahabat baiknya. Segala persoalan yang ia hadapi membuat pribadi remajanya berontak dan melakukan perlawanan. Meski akhirnya, perlawanan itu harus berakhir dalam sebuah kecelakaan tunggal yang merenggut nyawanya.

Kisah tentang bagaimana orangtua menuntut anaknya menjadi sempurna bukanlah sebuah hal yang langka. Tuntutan keidealan dalam hal akademik amat lumrah terjadi dewasa ini. Sebab pangkalnya bisa banyak. Bisa tersebab orangtua menitipkan harap dan cita yang sebelumnya gagal ia capai atau ia justru menuntut anaknya agar menjadi seperti dirinya.

Bukan hal mudah bagi orangtua untuk mengesampingkan ego pribadinya demi melihat buah hati kesayangan berjalan di jalur yang ia pilih. Meski kadang orangtua pun tahu bahwa jalan itu sesuai dengan bakat, minat, dan kemampuannya.

Adalah kelapangan hati untuk menerima bahwa seperti dirinya yang tak sempurna, anaknya pun adalah sosok yang tidak sempurna. Seperti dirinya yang memiliki keinginan, anaknya pun telah memlih jalan citanya sendiri.

Dengan melihat anak kita sama seperti kita, kita telah memberi ruang yang lapang dalam hati kita untuk menerima. Ruang yang lapang untuk membebaskan diri dari segala bentuk tuntutan kesempurnaan semu.

Bahwa tuntutan justru akan menyakiti. Maka, rengkuh dan rangkullah anak-anak kita dengan doa terbaik.

 


Refleksi dari buku Then I Met My Sister terbitan Bhuana Sastra Imprint BIP (2011)

 

Catatan Kehamilan

Upil Kecil yang Merampas Kebebasan  


Euforia kebahagiaan yang saya rasakan atas hadirnya kehamilan yang tak direncanakan ini hanya berlangsung selama dua hari. Di hari pertama sejak alat tes kehamilan menunjukkan dua garis merah sejajar, saya dan suami mengabari kedua pasang orangtua serta sahabat terdekat kami. Mengharap doa terbaik agar hadirnya janin dalam rahim saya dapat membawa kebahagiaan dan kehangatan dalam rumah tangga baru kami. Hari berikutnya, kami pergi ke bidan terdekat. Saya bahkan tidak tahu apa yang akan saya lakukan saat menemui bidan tersebut. Demi menenangkan hati orangtua, pagi itu saya dan suami pergi ke bidan senior rekomendasi ibu kami.

Setelah berbasa-basi sebentar, bidan menghitung usia kehamilan berdasar HPHT (Hari Pertama Haid Terakhir). Berdasarkan hitung-hitungan tersebut, diketahui bahwa usia kehamilan saya memasuki umur lima minggu. Setelah berbaring dan bidan meraba perut saya, saya pun diminta menimbang berat badan. Sang Bidan senior ini mengangkat alisnya saat saya menyebutkan angka yang tertera di timbangan. Mendadak, saya cemas dan khawatir. Memang, berat badan saya turun 4kg dari berat badan yang biasanya. Ini saya maklumi sebab nafsu makan saya memang berkurang selama sebulan terakhir. Belum lagi saat bidan mengukur lingkar lengan saya yang juga masuk dalam kategori di bawah rata-rata, sehingga terkategori sebagai ibu hamil KEK (Kurang Energi Kronis). Meskipun cemas, khawatir, dan agak takut, kami pulang dari tempat praktik bidan dengan perasaan sumringah. Sembari menenteng buku berwarna merah muda berwarna merah muda dan vitamin untuk ibu hamil, tangan saya erat memeluk pinggang suami saya di atas sepeda motor. Kami larut dalam pikiran masing-masing.

Entah karena tersugesti bahwa hamil identik dengan mual muntah, atau karena konsumsi vitamin kehamilan yang tidak cocok. Di hari itu juga, mual muntah saya semakin menjadi. Oleh karena ibu mertua selalu meyakinkan bahwa morning sickness adalah hal yang wajar terjadi pada ibu hamil, dan hampir semua ibu hamil mengalami hal ini, saya jadi tak terlalu ambil pusing. Setelah muntah di pagi hari, saya akan tetap menyantap makanan yang tersedia untuk sarapan, meski tanpa selera. Saya mendapat banyak nasehat seputar kehamilan dari ibu mertua dan beberapa tetangga yang saya catat dalam benak dengan antusias. Bahkan, saya mendownload beberapa aplikasi kehamilan yang banyak tersedia di playstore. Semua aplikasi dan website yang saya buka memang memiliki konten yang senada, akan tetapi saya tetap membaca dan menganggapnya sebagai sesuatu yang sakral.

Saat mual dan muntah saya semakin menjadi, nafsu makan saya berkurang drastis, dan tubuh saya rasanya begitu lemas dan tanpa daya, semua nasehat tentang kewajaran hal-hal tersebut di trimester pertama kehamilan membuat saya jengkel. Mood saya pun turut memburuk. Nonsense dengan tetek bengek normal, wajar, si ibu ini juga mengalami, akan berkurang nanti, blab la bla. Ya kali!

Selama beberapa hari berikutnya, saya dan suami telah kembali hijrah ke Solo. Saya berencana merampungkan tugas akhir kuliah, sementara suami mengajar bimbingan persiapan SNMPTN di sebuah yayasan pendidikan sembari mempersiapkan S2nya. Keadaan menjadi kian memburuk. Kondisi saya menjadi semakin tak menentu. Mual dan muntah terjadi sepanjang hari, sementara asupan makan pun berkurang drastis. Bahkan, seringkali saya memuntahkan kembali makanan apapun yang masuk ke mulut. Kami hanya berdua di Solo, dan tentu saja tak punya pengalaman apapun soal kehamilan dan segala macam gejalanya.

Suami saya menyarankan agar saya memeriksakan hal ini ke dokter kandungan. Saya menolak dengan halus. Masih berpegang pada asumsi normal dan wajar yang seringkali didengungkan oleh setiap orang yang saya temui. Namun, hari itu berbeda. Mual muntah yang kian menjadi, ditambah perut kram yang terasa begitu menyiksa, serta tubuh yang begitu lemah meski hanya untuk berdiri dari tempat tidur membuat suami saya bersikeras membawa saya ke klinik kandungan. Demi melihat wajahnya yang biasa tenang berubah menjadi begitu panik, saya menurut.

Berdasar pemeriksaan, ternyata saya mengalami semacam dehidrasi dan harus segera mendapat pertolongan medis. Maka, hari itu juga saya resmi menjalani rawat inap. Sementara suami mengurus administrasi dan tetek bengek lainnya, saya dibawa ke ruang inap. Dalam kesendirian, segenap rasa bergolak dalam dada saya. Saya marah dan benci. Mengapa saya hamil tanpa persiapan seperti ini? Baru kemarin dosen pembimbing meminta saya merevisi skripsi dan menyatakan bahwa saya akan siap sidang pekan berikutnya, dan sekarang, bahkan sebelum saya menyentuh skripsi saya, saya harus terdampar di ruangan ini dengan cairan infus mengalir lewat pembuluh di tangan saya.

Saya menyesali kehamilan ini dan mulai mencari seseorang yang patut disalahkan untuk semuanya. Dan bahkan tanpa alasan yang jelas, saya menyalahkan suami dan diri saya sendiri. Kenapa kami memutuskan menikah secepat ini? Kenapa Tuhan harus memberikan kami tugas untuk mengurus janin ini saat kami berdua sama-sama belum siap? Kenapa? Kenapa?

Suami saya mengucap salam dan memasuki ruang inap. Saya memalingkan wajah, berusaha menyembunyikan wajah saya yang telah berurai air mata. Ia bertanya bagaimana keadaan saya, saya tetap diam. Ia menyentuh tangan saya, saya segera menariknya dengan sisa kekuatan. Tetapi, suami saya malah memeluk saya, membelai wajah dan menghapus air mata saya sembari meminta saya untuk bersabar. Saya kembali menangis. Membayangkan kebebasan yang terampas dari saya secara paksa. Harusnya, saya masih bisa berlari dengan bahagia, mungkin di pantai, atau jalanan lengang, atau dimana saja.  Harusnya, saya masih bisa menikmati makanan apa saja, cumi asam manis, udang lada hitam, atau makanan apa saja. Harusnya, saya sedang asyik membaca buku, atau berdiskusi, atau menulis, atau apa saja. Harusnya. Harusnya. Harusnya. Saya memejamkan mata. Kembali, sesenggukan.

Esoknya, saya menjalani tes USG. Dokter yang memeriksa saya berseloroh bahwa saya masih terlihat seperti anak SMA, saya mencoba tersenyum meski tertahan. Saya benar-benar tak ingin menanggapi selorohan dan basa basi apapun. Saya hanya ingin melihat bocah nakal itu dengan mata kepala saya sendiri. Dan, di layar monitor besar yang terpampang di depan saya, disanalah ia berada, makhluk yang merampas kebebasan, kesehatan, dan hari-hari sejahtera saya. Astaga, makhluk ini bahkan belum berbentuk, masih berupa gumpalan dalam kantong kecil. Besarnya mungkin hanya seupil.

“Upil nakal.” Saya membatin.

Lalu, euforia kebahagiaan itu terulang kembali. Meski dalam kondisi yang (bagi saya) mengenaskan, saya dapat tersenyum kembali. Suami saya menggenggam tangan saya, dan entah bagaimana, terasa begitu hangat dan menenangkan.

 

Catatan Kehamilan

Yang Hadir Tanpa Rencana


Bukan bermaksud tak bersyukur atau menolak karunia Tuhan, tetapi menurut saya, setiap perempuan berhak memilih waktu yang tepat bagi dirinya untuk hamil. Kehamilan adalah proses yang panjang, berat, membutuhkan kesabaran, tanggung jawab, dan kesiapan fisik serta mental. Artinya, ia memang harus diterima secara suka rela, tanpa paksaan maupun “dorongan negatif” lain hanya karena perkara celetukan orang, “Kok belum isi?”

Dan, saya hamil tanpa kesiapan itu.

“Sayang, aku telat sepuluh hari…” Saya diam menunduk saat mengatakan itu.

“Tapi, kamu jangan terlalu berharap ya. Wajar kok kalau perempuan telat haid sampai sepuluh harian.” Saya melanjutkan ucapan itu dalam ketenangan yang tak dibuat-buat.

Tiga hari kemudian, saya membeli test pack.

Dua garis berwarna merah muncul dengan jelas. Tak ada lagi keraguan. Saya positif. Dada saya bergemuruh. Jantung saya berdebar. Saya bahkan terlalu lemas untuk berdiri dan membuka pintu kamar mandi. Ada haru yang merebak, kegembiraan yang tertahan, syukur yang tak terucap, dan segala bentuk rasa tak bernama yang hadir. Segera setelah saya mengumpulkan kekuatan untuk membuka knop pintu, saya berlari masuk ke kamar dan memeluk suami saya.

“Yang…..” Saya tersendat, meski tanpa isak tangis atau air mata.

Saya bimbing ia berjalan ke kamar mandi dan menyuruhnya masuk, membiarkan ia sendiri melihat dua garis merah itu. Wajahnya riang dan berbinar. Bergegas ia memeluk dan mengecup kening saya.

Alhamdulillah…” Dia pun terdiam beberapa saat lamanya. Saat yang tak bisa kami hitung, sebab ia begitu cepat, juga terasa begitu lambat.

Kami kembali ke kamar dengan perasaan gembira dan syukur yang hadir begitu saja, meski tak benar-benar mengharapkan kehamilan dalam waktu secepat ini. Ya, secepat ini. Baru dua bulan lalu kami menikah, baru sekali saya mengalami haid, dan bulan berikutnya, Tuhan telah menganugrahkan kehidupan baru dalam rumah tangga kami yang baru seumur kecambah.

Ingatan saya berusaha memutar kembali rekaman peristiwa selama satu bulan terakhir. Mual dan muntah yang beberapa kali saya alami setiap pagi, saya tafsirkan sebagai masuk angin. Kram perut yang seringkali mengganggu, saya anggap sebagai buah akibat terlalu banyak makan pedas. Dan, sekalipun kadang terlintas pikiran tentang kehamilan di saat mual dan muntah itu tak jua berkesudahan, saya selalu menepisnya jauh-jauh.

Berbagai perasaan berkecamuk di pikiran saya. Tentu saja, saya tak dipaksa atau merasa dipaksa oleh dorongan negatif dari orang lain untuk menerima hadirnya kehidupan dalam rahim saya. Adalah suatu hal yang normal, wajar, dan ya-memang-sudah-seharusnya, setiap pasangan yang telah menikah berharap dikaruniai keturunan. Saya hanya merasa, ini terlalu cepat. Bagaimana dengan berbagai hal lain yang sempat tertunda selama mempersiapkan pernikahan dulu? Skripsi saya, persiapan magister suami saya, keinginan untuk menjelajah tempat-tempat baru bersama. Ah, Ya Tuhan. Serius?

Tapi, kebahagiaan yang lahir itu segera menepis semua kecemasan, mengusirnya jauh dari pandangan. Saya hanya merasa begitu beruntung, menjadi perempuan seutuhnya. Ada sebuah benda asing yang mendadak hadir di rahim saya. Ada kehidupan baru yang meminjam tubuh saya untuk bersarang sebelum ia menjadi manusia seutuhnya. Bukankah itu menakjubkan?

 

Hidup · Kisah · Makna

Kurban Pemimpin Kita


“Sungguh, Kami telah memberimu (Muhammad) nikmat yang banyak. Maka laksanakanlah sholat karena Tuhanmu, dan berkurbanlah (sebagai ibadah dan mendekatkan diri kepada Allah). Sungguh, orang-orang yang membencimu dialah yang terputus (dari rahmat Allah).” (QS. Al-Kautsar: 1-3)

Baru saja kita merayakan hari raya idul adha, hari dimana seorang muslim melaksanakan ibadah kurban, yakni menyembelih hewan tertentu sebagai jalan mendekatkan diri pada Sang Pencipta. Dalam dimensi spiritual, kurban secara simbolik dapat dimaknai sebagai upaya untuk menyembelih nafsu kebinatangan dalam diri manusia. Tak lain karena sebagai pemegang mandat kepemimpinan di muka bumi, seringkali manusia terjatuh ke dalam hawa nafsu kebinatangan yang dengannya sempurnalah kerusakan yang terjadi di wilayah kepemimpinannya.

Tidak akan sampai pada Allah daging dan darah dari hewan yang kita sembelih. Hanya ketakwaan kita yang dapat mencapai-Nya. Demikian Allah berfirman dalam kitab-Nya. Maka, daging binatang pun kita bagi untuk mereka yang membutuhkan, meminta ataupun tidak. Daya ini menjadi pendorong keshalihan sosial yang tercermin dalam solidaritas antar sesama.

Kesediaan untuk mengorbankan ketamakan terhadap harta yang dimiliki, kemampuan finansial untuk mewujudkannya dalam daging kurban sembelihan, keteraturan proses pembagiannya, serta efek solidaritas sosial yang ditimbulkan menjadi modal penggerak terciptanya kesejahteraan sosial yang didamba. Transformasi ini harusnya berlanjut dalam skala yang lebih luas sehingga dampak yang ditimbulkannya pun semakin besar.

Kesediaan berkorban dari semua elemen bangsa tak hanya dimaknai dalam persoalan kurban sembelihan, tetapi juga kesediaan untuk mengorbankan ketamakan dalam eksploitasi sumber daya alam serta penyembelihan besar-besaran segala bentuk egoisme antar kelompok, ras, maupun golongan dalam setiap aspek sosial, ekonomi, politik, dan budaya sehingga tercipta ketentraman dalam kehidupan berbangsa dan benegara.

Pemimpin yang telah dipilih oleh rakyat harusnya menjadi teladan dalam penularan kesadaran ini. Pemimpin yang dimaksud tak hanya ia yang menduduki jabatan struktural di pemerintahan, melainkan juga para tokoh adat, budayawan, akademisi, maupun pemuka agama yang seringkali menjadi rujukan bagi “rakyat”nya masing-masing. Tak hanya diharapkan memberikan teladan kurban dengan menyembelih satu dua ekor sapi, tetapi juga menghadirkan konsistensi dimensi spiritual ibadah kurban itu dalam tutur dan lakunya.

Selama ini, rakyat selalu dituntut untuk mengerti dan memahami apa yang dituturkan oleh para pemimpin ini. Tindakan mereka menjadi rujukan, ujaran mereka pun menjadi sabda. Sayangnya, sering kita amati inkonsistensi dalam tindakan dan ujaran mereka di hadapan publik.

Ketidaksesuaian antara ujaran dan kenyataan terpaksa dianggap kewajaran. Berubahnya segenap aturan dan kebijakan secara tergesa, terpaksa dianggap biasa, normal, dan memang sudah seharusnya. Tak jarang, kolaborasi antar pemimpin ini tak terbantahkan oleh sebab pemelintiran ayat suci, pembenaran secara ngilmiah, dan tentu saja, diamini kejenuhan (atau kebodohan?) rakyat atas segenap bualan. Lantas, sekali lagi, rakyat yang kian tercekik karena kehidupan menjadi semakin sulit menjadi kurban sembelihan para pemimpin binatang ini.

Penyembelihan rakyat secara besar-besaran dilakukan dengan beragam cara. Diantaranya, praktik penggusuran perumahan dengan alibi pengelolaan tata kota (yang kita tahu hanya dinikmati segelintir elite), pembodohan yang dipaksakan masuk ke ruang privat keluarga melalui saluran televisi, melambungnya harga kebutuhan pokok dan penyemaian budaya konsumsi kapitalisme, sabda agamawan yang ramai menyemai konflik antar sesama umat Tuhan, serta beragam varian kebijakan yang tak berpihak pada rakyat. Rakyat disembelih hingga tak berdaya menghadapi beragam belenggu ini.

Mendiamkan kezaliman, pun merupakan bentuk penyembelihan atas nurani yang murni. Namun, barangkali rakyat pun terlalu sibuk dengan kebutuhan (dan nafsu?) untuk mengenyangkan perutnya masing-masing, sibuk atas ukuran-ukurannya sendiri tentang kemapanan dan kesejahteraan, atau malah khusyuk dalam penantian datangnya perubahan yang tak kunjung datang.

Duh, lantas, ayat-ayat mana lagi yang dapat menjadi rujukan agar para pemuka agama bergegas menggalang umat dan para pemimpinnya agar beramai-ramai mengurbankan nafsu kebinatangan dalam dirinya? Atau, kita harus saling menyembelih, kemudian lebur bersama?

Kisah, Makna, Hidup

Sekolah Kehidupan


Maitara, selain menyuguhkan pesona alam yang menakjubkan juga mengajarkan arti kesungguhan perjuangan. Perjuangan yang tak hanya dimiliki orang dewasa dengan bekerja menantang gelombang, tetapi juga bagi para kanak-kanak yang selalu haus ilmu pengetahuan.

Di pulau kecil ini, jumlah sekolah amat terbatas. Pun, tidak diimbangi dengan fasilitas yang memadai. Namun, hal itu tak membuat langkah mereka surut, nyali mereka ciut, dan semangat merasa luruh. Mereka terus berpacu melawan keterbatasan demi menggenggam cita yang mereka sematkan dalam angan.

Menakjubkan bahwa saya menjadi saksi dari perjuangan yang mereka lakukan. Mendebarkan bahwa setiap detik waktu yang saya habiskan di pulau ini juga telah mendidik saya untuk belajar. Bahkan, mungkin lebih banyak dari apa yang bisa saya berikan untuk mereka.

Jika pendidikan adalah proses memanusiakan manusia. Sejatinya, saya telah belajar untuk menjadi manusia utuh dengan menempatkan diri diantara mereka, warga Pulau Maitara. Tak ada yang lebih pintar dari yang lain. Tak ada yang lebih hebat dari yang lain.

Kami bisa merancang desain sebuah bangunan, menentukan berapa banyak yang dibutuhkan. Tapi pada akhirnya, mereka yang mengajarkan pada kami bagaimana mengeksekusi konsep tersebut. Kami bisa membuat serangkaian program yang melambung, tetapi mereka pula yang membuat kami kembali menjejak bumi dengan segala kearifan dan kebijaksanaannya.

Sekolah, sekali lagi, bukan sekedar bangunan kokoh dengan kelas berpetak dan jajaran bangku yang tersusun rapi. Semua tempat bisa menjadi sekolah. Bagi masyarakat Pulau Maitara, semua tempat adalah ruang untuk belajar. Laut adalah sekolah. Hutan adalah sekolah.

Guru, bukan hanya mereka yang telah mengenyam bangku kuliah dan berdiri di depan kelas sembari menuliskan materi di papan tulis. Guru menjadi guru karena ada murid, dan sebaliknya, murid menjadi murid karena ada guru. Tetapi, semua orang bisa mengajar, dan setiap orang bisa belajar dari orang lain tanpa batasan kaku mengenai siapa yang menjadi murid dan siapa yang menjadi guru.

Setiap orang adalah guru. Mereka telah menjadi guru bagi kami tanpa pernah mereka sadari. Mereka telah mengajarkan arti kerja keras, perjuangan, kemandirian, konsistensi, serta komitmen untuk bergerak tanpa ragu, berjuang tanpa pamrih. Mereka mengajarkan arti keikhlasan tanpa menggurui, untuk memberi sebanyak-banyaknya tanpa pernah mengharapkannya kembali. Keikhlasan yang kian mahal untuk kita jumpai di dunia yang keras ini.

 Setiap detik yang saya lalui di pulau ini merupakan proses belajar. Proses yang membuat kami mengenal diri kami sebagai persona sekaligus bagian kolektif masyarakat. Bersama mereka, kami menemukan arti kehidupan. Bersama mereka kami tumbuh dewasa menjadi pribadi yang bertanggung jawab.

Bagi saya, ruang ini menjadi sekolah yang mengajarkan saya arti kehidupan. Hidup yang harus diperjuangkan, dan dimenangkan.