apa yang akan kuajarkan pada anak didikku nanti?


Mendidik.

Bagiku kata ini adalah kata yang teramat sakral artinya. Bukan karena aku bagian dari manusia-manusia yang terspesifikasi khusus untuk menjadi seorang pendidik, bukan pula (semoga) karena latah ikut-ikutan orang menyatakan bahwa mendidik adalah hal yang paling mulia di dunia.

Ah, itu benar. Tapi bagiku omong kosong saja.

Bagiku, mendidik adalah sebuah jalan untukku memanusiakan diriku sendiri sebagai seorang manusia, sejalan dengan yang dikemukakan oleh Ki Hajar Dewantoro yang menyatakan bahwa “Mendidik dalam arti yang sesungguhnya adalah proses memanusiakan manusia (humanisasi), pengangkatan manusia ke taraf insani.”

“Seorang manusia sejati (insan kamil) ialah yang kegiatan mental dan phsikisnya merupakan suatu keseluruhan. Kerja jasmani dan kerja ruhani bukanlah dua kenyataan yang terpisah. Malahan, dia tidak mengenal perbedaan antara KERJA dan KESENANGAN. Kerja baginya adalah kesenggangan dan kesenangan ada dalam dan melalui kerja. Dia BERKEPRIBADIAN, MERDEKA, MEMILIKI DIRINYA SENDIRI, MENYATAKAN KELUAR CORAK PERSEORANGANNYA dan mengembangkan kepribadian dan wataknya secara harmonis.

Dia tidak mengenal perbedaan antara kehidupan individu dan kehidupan komunal, tidak membedakan antara perorangan dan sebagai anggota masyarakat. . . .

Baginya tidak ada dikotomi antara kegiatan-kegiatan ruhani dengan jasmani, pribadi dan masyarakat, agama dan politik, maupun dunia dan akhirat. Kesemuanya dimanifestasikan dalam satu kesatuan kerja yang tunggal pancaran niatnya, yaitu mencari KEBAIKAN, KEINDAHAN, dan KEBENARAN (Nilai Dasar Perjuangan HMI, Bab 2)

Maka izinkan kali ini saya berbicara, bagaimana proses dehumanisasi tengah berlangsung dalam kehidupan pendidikan kita kini. Ah, bukan hanya pendidikan formil saya rasa, tapi bagaimana proses dehumanisasi ini hampir meledak menjadi sebuah virus mematikan dimanapun jua ia berada.

Dalam ruang-ruang diskusi, saat kita menundukkan kepala dalam-dalam, mencatat dengan manis dan rapi segala bentuk kata yang diucapkan pembicara, menjadikannya sebagai sebuah doktrin baru ‘jalan keselamatan’. Ah,  andaikan itu adalah makanan, mungkin saja kita telah menelannya bulat-bulat. Dengan dalih sadar diri dan posisi, kita lalu melupakan satu hal paling otentik kaitannya dengan metodologi diskusi : ‘dalam ruang-ruang dialektis, setiap orang memiliki hak yang sama untuk bicara’ (Kanda Eka)

Pun, dengan pendidikan kita sekarang. Banking Concept of Education-Pendidikan Gaya Bank. Sebuah konsep pendidikan yang menurit Paulo Freire diklaim telah mengkondisikan guru untuk memberikan pelajaran kepada muridnya sebagai upaya untuk melipatgandakan hasil, sehingga terciptalah robot-robot intelektual siap pakai yang nantinya akan digunakan oleh penguasa. Coba tebak mengarah kemana ini? Neolib, kapitalis. Efeknya? Kita jadi budak di negeri kita sendri. Ingat! Sukarno telah mewanti-wanti hal ini sejak lama, lama sekali.

Pedagogic dan Andragogic.

Proses pendidikan yang saya maksud disini mencakup keduanya. Dari orang dewasa ke anak kecil untuk membantunya mencapai kedewasaan. Pun antara sesama orang dewasa (untuk. . saling bantai, lebih menarik saya rasa :P)

Sudahkah pendidikan kita menggunakan komunikasi yang otentik manusiawi demi menghargai eksistensi peserta didik sebagai manusia?

Sudahkah pendidikan kita telah membawa bangsa ini keluar dari kebodohan sistemik yang menjerat?

Jadi sesungguhnya kawan. Apa yang terjadi sekarang? Sungguhkah kita tengah menutup rapat-rapat seluruh tabir actual-transenden untuk memanusiakan manusia?

Miris, jika kembali kita kembali membuka Pembukaan UUD 1945 yang dengan gamblang telah mengamanatkan Pemerintah Negara Indonesia untuk melindungi segenap bangsa Indonesia dan seluruh tumpah darah Indonesia dan untuk memajukan kesejahteraan umum, mencerdaskan kehidupan bangsa, dan ikut melaksanakan ketertiban dunia yang berdasarkan kemerdekaan, perdamaian abadi dan keadilan sosial.

Miris, jika kita kemudian menelisik sedikit saja dalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.20 Tahun 2003 yang menyebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan terencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”

Sungguhkah ini suatu kenyataan pahit, atau memang seharusnya inilah yang terjadi? Saya bertanya pada diri saya sendiri. Karena memang begitulah yang terjadi sedari dulu, Negara yang menggaungkan hak asasi manusia, menjunjung sila ke 2 yang berbunyi : Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab, kemudian mengantarkan pesera didiknya menuju dehumanisasi pendidikan? Lalu mau apa lagi?

Suatu ketika, seorang kakak (saya lupa siapa) menyebutkan sebuah istilah baru, masih sangat asing ditelinga saya, kalau tidak salah : Nekrofili (Kecintaan terhadap sesuatu yang tidak berjiwa).

Yah, pada akhirnya pendidikan macam ini akan melahirkkan generasi-generasi galau yang mudah lari dari kenyataan, sebab ia memiliki kecintaan berlebih terhadap sesuatu yang sebenarnya sama sekali tak ia pahami. Padahal, sering kita baca di berpuluh buku sidu/kiky yang kita miliki sejak SD, “Once You Learn To Quit, It Become A Habbit”.

Karena itu, pahamilah apa yang kau percayai. Seperti sindiran yang menampar saya dengan telak beberapa waktu lalu.

“Sudah kenal kamu dengan Nabi Muhammad?” Menunduk, Diam.

“Sudah pernah baca sirohnya?” Mengangguk (Ah, sudah lama, belum membacanya lagi sekian waktu ini, malah sibuk membaca buku-buku kacangan saja)

“Ah, bagaimana engkau bisa mengenal Tuhan yang menciptakanmu, yang telah memberikan pengajaran-Nya secara langsung melalui wahyu, jika kau sendiri tak mengenal dia yang terpilih itu!! Ketika kau ingin memahami ketuhanan yang maha esa dan ajaran-ajaranNya, maka kau harus berpegang teguh pada alQur’an dengan terlebih dahulu mempercayai kerasulan Muhammad SAW. Makanya, kalimat kesaksian kedua memuat esensi kedua dari kepercayaan yang harus dianut manusia.”

Sekali lagi, mengutip Paulo. Ia mengatakan, pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, damana melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan.

Jadi, berdasar telaah saya yang cetek, saya berkesimpulan bahwa Pendidikan dengan tujuan untuk MEMANUSIAKAN MANUSIA adalah PENDIDIKAN UNTUK KEMERDEKAAN, bukan atas dasar doktrinasi guna mencapai kepentingan-kepenntingan atas nama kekuasaan.

Seperti makna independensi sebuah lembaga, seperti itu pula-lah ilmu memiliki independensi. Independensi janganllah sekadar dimaknai sebagai kemandirian dan keterlepasan dari kekuasaan, akan tetapi secara etis juga harus menjadi proses pemerdekaan hak-hak intelektual manusia.

Manusia adalah manusia. Dengan segala kesempurnaan penciptaannya. Janganlah kita gunakan ilmu, apapun bentuknya, hanya dalam fokus garapan untuk MENJINAKKAN MANUSIA.

Pada akhirnya, meski ini bukan hari pendidikan nasional. Hari ini, aku mencangkan tujuan pendidikanku (untuk kuanut dan kujaga idealnya sesuai caraku sendiri) : MANUSIA MERDEKA.

Tetapi, kemerdekaan yang bersifat individualis tak hanya bisa dipandang sebagai asasi primer semata, ia juga harus dipandang sebagai kausalitas sekunder. Menyadari bahwa diriku pun hidup ditengah alam sebagai makhluk sosial.

Karenanya, kemerdekaan harus diciptakan untuk pribadi dalam konteks hidup ditengah masyarakat. Aku akan membangun –isme ku, jalanku. Aku ingin mengajakmu berfikir dan bertindak merdeka melalui pendidikan. Pendidikan yang HUMANIS (yang manis J)

Seperti kata Ki Hajar : “Pendidikan hendaknya memperkuat rasa percaya diri, mengembangkan hara diri, setiap orang harus hidup sederhana dan guru hendaknya rela mengorbankan kepentingan-kepentingan pribadinya demi kebahagiaan para peserta didiknya.”

Sungguh Nak, engkau yang akan menjadi anak didikku suatu saat nanti. Ini adalah janji yang kutanamkan dalam diriku dalam dalam. Kuharap aku selalu mengingatnya dan menjadikannya pedoman dalam melangkah menuju hari-hari depan menyongsong kemerdekaanmu dan aku, menggapai kemerdekaan kita bersama-sama.

Hingga kemudian akan tertulis dalam UUD kita bahwa : . . TELAH MENGANTARKAN RAKYAT INDONESIA MEMASUKI PINTU GERBANG KEMERDEKAAN INDONESIA

Anakku, anak-anak merdeka yang suatu saat nanti lahir dari rahimku, aku mencintai kalian dengan kemerdekaanku mencintai.

Pun denganmu, anak-anak yang lahir dari rahim ibu pertiwi, aku mencintai kalian dengan kemerdekaan yang sejati.

Meski Secara dialektis suatu kenyataan tidak mesti menjadi suatu keharusan.  Kuharap. Aku bisa.
bahwa sistem pendidikan nasional harus mampu menjamin pemerataan kesempatan pendidikan, peningkatan mutu serta relevansi dan efisiensi manajemen pendidikan untuk menghadapi tantangan sesuai dengan tuntutan perubahan kehidupan lokal, nasional, dan global sehingga perlu dilakukan pembaharuan pendidikan secara terencana, terarah, dan berkesinambungan (SISDIKNAS)

 

Kami adalah orang-orang yang berpikir dan berkendak merdeka. Tidak ada satu orang pun yang bisa memaksa kami bertindak. Kami hanya bertindak atas dasar pemahaman, bukan taklid, serta atas dasar keikhlasan, bukan mencari pujian atau kedudukan. (Kredo gerakan KAMMI, No 1)

Kami adalah ilmuwan yang tajam analisisnya, pemuda yang kritis terhadap kebatilan, politisi yang piawai mengalahkan muslihat musuh dan yang piawai dalam memperjuangkan kepentingan umat, seorang pejuang di siang hari dan rahib di malam hari, pemimpin yang bermoral, teguh pada prinsip dan mampu mentransformasikan masyarakat, guru yang mampu memberikan kepahaman dan teladan, sahabat yang tulus dan penuh kasih sayang, relawan yang mampu memecahkan masalah sosial, warga yang ramah kepada masyarakatnya dan responsif terhadap masalah mereka, manajer yang efektif dan efisien, panglima yang gagah berani dan pintar bersiasat, prajurit yang setia, diplomat yang terampil berdialog, piawai berwacana, luas pergaulannya, percaya diri yang tinggi, semangat yang berkobar tinggi.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s