apakah pendidikan itu?


BAB I

PENDAHULUAN

1.1  Latar Belakang Masalah

Mendidik adalah pengertian yang sangat umum yang meliputi semua tindakan mengenai gejala-gejala pendidikan. Memang kebanyakan orang masih menganggap enteng dan mudah terhadap hal mendidik itu. Kebanyakan orang tua mendidik anak-anaknya berdasarkan pengalaman-pengalaman praktisnya saja. Mereka banyak meniru perbuatan nenek moyangnya yang belum tentu benar dan baik.

Mereka beranggapan bahwa kepandaian mendidik itu sudah dengan sendirinya akan dipunyai oleh setiap orang dari pergaulannya dengan anak-anak. Mereka percaya bahwa dalam setiap situasi intuitif akan mendapat sikap dan tindakan yang tepat. Jadi mereka berkehendak secara intuitif belaka, sehingga kurang mampu mempelajari dan menyelidiki hal mendidik secara ilmu pengetahuan dan teoritis.

1.2   Rumusan Masalah

Dalam makalah ini penulis merumuskan masalah dalam bentuk beberapa pertanyaan yaitu:

  1. Apa arti beberapa istilah yang berkaitan dengan pendidikan?
  2. Apa yang dimaksud dengan mendidik?
  3. Mengapa anak harus dididik?

1.3   Tujuan

Adapun tujuan penulisan makalah ini adalah untuk mengetahui apa yang dimaksud dengan pendidikan.

1.4   Manfaat

Dengan mengetahui tentang apa yang dimaksud dengan pendidikan diharapkan para pendidik maupun pelajar dapat menerapkannya dalam kehidupan sehari-hari serta dapat  meningkatkan kualitas proses pendidikan itu sendiri.

 

BAB II

KAJIAN PUSTAKA

2.1 Pengertian Pendidikan

Kata pendidikan Berasal dari kata Pedagogi, yaitu dari kata “paid” artinya anak dan “agogos” artinya membimbing. Itulah sebabnya istilahpedagogi dapat diartikan sebagai “ilmu dan seni mengajar anak.

Ada dua istilah yang hampir sama bentuknya, tetapi berbeda artinya, yaitu pedagogik (paedagogiek) dan pedagogi (paedagogie). Pedagogik artinya ilmu mendidik atau ilmu pendidikan, sedangkan pedagogi berarti pendidikan. Pedagogik berasal dari kata Yunani paedagogiek, kata turunan dari perkataan paedagogia  yang berarti “pergaulan dengan anak-anak”. Paedagogia berasal dari kata  “paedos/paes”,yang berarti anak, dan  “agogos/ago”, yang berarti mengantar atau membimbing. Paedagogos, berarti “seorang pelayan atau bujang pada zaman Yunani Kuno yang pekerjaannya mengantar dan menjemput anak-anak ke dan dari sekolah”. Dari kata paedagogos lahir kata paedagoog (bahasa belanda), yang artinya pendidik atau ahli didik. Jadi secara harfiah pedagogik itu berarti  “pembantu laki-laki yg pekerjaannya mengantar anak majikannya ke sekolah”. Secara kiasan pedagogik diartikan sebagai “seorang ahli yang membimbing anak ke arah tujuan hidup tertentu”.

Secara istilah pedagogik itu adalah ilmu pendidikan atau ilmu mendidik, yang berarti ilmu pengetahuan yang menyelidiki, merenungkan tentang gejala-gejala perbuatan mendidik (Ngalim Purwanto, 2004 : 3).  Menurut J. Hoogveld “pedagogik adalah Ilmu yang mempelajari masalah membimbing anak ke arah tujuan tertentu, yaitu  mampu secara mandiri menyelesaikan tugas hidupnya”.

M.J. Langeveld (1955, dalam Depdikbud 1984) mengemukakan bahwa pedagogik (ilmu mendidik atau ilmu pendidikan) adalah “suatu ilmu yang bukan saja menelaah objeknya untuk mengetahui betapa keadaan atau hakiki objek itu, melainkan mempelajari pula bagaimana seharusnya bertindak”. Oleh karena itu ilmu ini juga disebut ilmu praktis. Namun demikian, dapat dibedakan antara ilmu mendidik teoritis dan ilmu mendidik praktis. Untuk hal yang pertama, pemikiran tertuju (a) pada penyusunan persoalan dan pengetahuan sekitar pendidikan secara ilmiah, dan (b) dari praktek ke arah penyusunan suatu sistem teori pendidikan.  Sedangkan untuk hal yang kedua pemikiran tertuju  pada cara-cara bertindak, dan pelaksanaan perwujudan dari apa yang diidealkan dalam ilmu mendidik teoritis. Sekalipun secara keseluruhan ilmu mendidik itu merupakan “ilmu praktis (applied science)”, namun terdapat aspek-aspek yang bersifat teori di dalamnya.

Namun pendidikan juga memiliki pengertian sendiri menurut para ahli, yaitu:

  1. Langefeld mengatakan mendidik adalah membimbing anak dalam mencapai Kedewasaan
  1. Heageveld mengatakan mendidik adalah membantu anak dalam mencapai Kedewasaan
  1. Bojonegoro mengartikan mendidik adalah memeri tuntunan kepada manusia yang belum dewasa dalam pertumbuhan dan perkembangannya sampai tercapai kedewasaan
  1. Ki Hajar Dewantara mengartikan pendidikan sebagai daya upaya untuk memajukan budi pekerti, pikiran serta jasmani anak, agar dapat memajukan kesempurnaan hidup yaitu hidup dan menghidupkan anak yang selaras dengan alam dan masyarakatnya
  1. Rosseau mengatakan mendidik adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa anak-anak, tapi dibutuhkan pada masa dewasa.
  1. Darmaningtyas mengatakan tentang difinisi pendidikan yaitu pendidikan sebagai usaha dasar dan sistematis untuk mencapai taraf hidup dan
    kemajuan yang ledih baik.
  1. Paulo Freire ia mengatakan, pendidikan merupakan jalan menuju pembebasan yang permanen dan terdiri dari dua tahap. Tahap pertama adalah masa dimana manusia menjadi sadar akan pembebasan mereka, damana melalui praksis mengubah keadaan itu. Tahap kedua dibangun atas tahap yang pertama, dan merupakan sebuah proses tindakan kultural yang membebaskan.
  1. Ivan Illc mengatakan pendidikan adalah pengalaman belajar yang berlangsung dalam segala lingkungan dan sepanjang hidup.
  1. Edgar Dalle mengartikan pendidikan adalah usaha sadar yang sistematis dalam mengembangkan seluruh potensi yang ada dalam diri manusia untuk menjadi manusia yang seutuhnya.
  1. Hartoto mengartikan pendidikan adalah usaha sadar, terencana, sistematis, dan terus-menerus dalam upaya memanusiakan
  1. Ngalim Purwanto mengartikan pendidikan adalah segala urusan orang dewasa dalam pergaulannya dengan anak-anak untuk memimpin perkembangan jasmani dan rohaninya kearah kedewasaan

2.2 Pengertian Mendidik

  1. “Mendidik” dapat diartikan sebagai suatu usaha untuk mengantarkan anak didik ke arah kedewasaan baik secara jasmani maupun rohani. Oleh karena itu “Mendidik” dikatakan sebagai upaya pembinaan pribadi, sikap mental dan akhlak anak didik. “Mendidik” tidak sekedar transfer of knowledge, tetapi juga transfer of values. “Mendidik” diartikan secara utuh, baik matra kognitif, psikomotorik maupun afektif, agar tumbuh sebagai manusia yang berpribadi. (Sardiman)
  2. Mendidik ialah usaha untuk mengajar anak, apa yang jarang dijumpai pada orang dewasa. (Karl Heinz Pickel)
  3.  Mendidik adalah mengajak (memotivasi, mendukung, membantu, menginspirasi, dst) orang lain untuk melakukan tindakan positif yang bermanfaat bagi dirinya dan orang lain (lingkungan).
  4. Mendidik adalah proses membuat tunas berkembang baik dan menjadi besar. Karenanya mengawali pendidikan anak dengan proses yang benar adalah awal perjalanan. Awal yang baik pendidikan dini adalah setengah dari perjalanan hidup anak di masa depan.

Sumber: Heageveld mengatakan mendidik adalah membantu anak dalam mencapai Kedewasaan.

  1. Menurut Jean-Jacques Rousseau, mendidik adalah memberikan pembekalan yang tidak ada pada masa kanak-kanak tapi dibutuhkan pada masa dewasa
  2. Menurut Usman mengajar adalah membimbing siswa dalam kegiatan belajar mengajar atau mengandung pengertian bahwa mengajar merupakan suatu usaha mengorganisasi lingkungan dalam hubungannya dengan anak didik dan bahan pengajaran yangmenimbulkan terjadinya proses belajar.
  3. Menurut Sarief, melatih pada hakekatnya adalah suatu proses kegiatan untuk membantu orang lain(atlet) mempersiapkan diri dengan sebaik-baiknya dalam usahanya mencapai tujuan tertentu.

Jadi dapat disimpulkan bahwa mendidik dan melatih merupakan kegiatan yang lebih spesifik dibandingkan dengan mengajar. Mendidik adalah kegiatan memberikan bekal kepada anak, hal-hal yang bermanfaat bagi mereka setelah dewasa kelak. Kemudian, melatih merupakan kegiatan mempersiapkan diri bagi atlet untuk mencapai suatu prestasi. Sedangkan mengajar adalah kegiatan memberikan bimbingan kepada siswa untuk belajar lebih baik, tidak terpaku oleh penggolongan siswa.

2.3 Alasan Anak Harus Dididik

Didalam Undang-Undang Sistem Pendidikan Nasional No.29 Tahun 2003 disebutkan bahwa “Pendidikan adalah usaha sadar dan berencana untuk mewujudkan suasana belajar dan proses pembelajaran agar peserta didik secara aktif mengembangkan potensi dirinya untuk memiliki kekuatan spiritual keagamaan, pengendalian diri, kepribadian, kecerdasan, akhlak mulia, serta keterampilan yang diperlukan dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.”

Dalam undang-undang pendidikan adalah usaha sadar dan berencana. Jadi, pendidikan harus terencana dengan baik agar peserta didik juga memilika kecerdasan, aktif mengembangkan potensi dirinya, dan kepribadian. Dengan pendidikan juga peserta pendidikan bisa mempunyai keterampilan yang diperlukan untuk dirinya, masyarakat, bangsa dan Negara.

Tidak dapat disangsikan lagi, bahwa setiap manusia dilahirkan dari ibunya sejak dahulu kala hingga sekarang selalu membutuhkan bantuan dan pertolongan dari orang tua atau orang lain dalam berbagai hal. Berbagai bantuan dan pertolongan tersebut secara tidak langsung adanya upaya dari orang tua maupun lainnya (pendidik) untuk mendidik anak-anaknya, meskipun masih dengan cara sederhana.

Setiap makhluk hidup dilahirkan dengan memiliki bawaan alamiahnya sendiri-sendiri. Bawaan alamiah ini diturunkan dari orangtua pada diri anak masing-masing. Bukti nyata adalah dapat diamati pada saudara kembar yang telah dipisahkan sejak lahir dan diasuh oleh orangtua dan lingkungan berbeda. Ketika diteliti mereka memiliki kemiripan satu dengan yang lainnya mulai dari cara berjalan, tersenyum, mengambil keputusan dll. Inilah yang membuktikan bahwa ada sejumlah karakteristik yang dibawa oleh tiap manusia sejak ia lahir.

Mencius, seorang guru besar dalam sejarah Cina, orang kedua langsung setelah Konfusius, mengatakan: “Orang Bijak (gentleman) berpikiran, kalau saya menengadah ke langit saya tidak merasa bersalah kepadanya, pada saat saya melihat pada manusia saya tidak pernah merugikan dia, itulah sukacita pertama. Kedua, kalau ayah dan ibu masih ada, seluruh saudara belum ada yang meninggal, itulah sukacita kedua. Ketiga, ketika saya bisa mendapatkan orang-orang yang pandai di bawah kolong langit ini dan saya boleh mendidik mereka dengan baik, itulah sukacita yang ketiga.”

Menurut butir ketiga dari pikiran Mencius jika kita mendapatkan orang-orang yang bodoh, malas, nakal, maka kita akan sangat susah. Tetapi jika kita bisa mendapatkan anak-anak yang pandai, yang rajin, yang hebat, tetapi yang rendah hati, kemudian kita dengan waktu yang relatif pendek dapat memberikan hasil yang sangat besar. Ini menjadi suatu hal yang memberikan sukacita yang luar biasa. Ada suatu ketidakadilan di dalam pendidikan ketika orang pandai dididik oleh guru yang bodoh, dan guru-guru yang pandai mendapatkan murid-murid yang sangat bodoh. Ini dua hal yang sangat tidak seimbang. Jika seorang murid yang sangat pandai, cerdas dan berpikiran tajam, tetapi mendapatkan guru-guru yang bodoh, maka ia memerlukan kesabaran yang luar biasa untuk ia dapat hidup baik-baik di dunia ini. Ketika murid-murid itu berpikiran tajam, gurunya bodoh, ini merupakan siksaan jiwa dari seorang “arsitek jiwa” yang tidak memiliki “ijin arsitek.”

Murid yang baik perlu mendapatkan guru yang bisa merangsang, membentuk dan menjadikan dia murid yang sukses. Tetapi bagaimana mengirim murid itu kepada guru yang memadai merupakan hal yang tidak mudah. Demikian juga bagaimana guru yang baik bisa menemukan murid yang betul-betul bisa dididik dengan baik, juga merupakan hal yang sangat penting. Di dalam sistem pendidikan, guru yang baik seharusnya mendapatkan murid-murid yang baik, dan murid-murid yang baik itu bisa memakai waktu yang sedikit untuk mendapatkan penyaluran kebenaran yang banyak dari gurunya.

Dalam mendidik anak, maka segala usaha ditujukan terhadap perkembangan anaknya. Seperti seorang ibu selalu menyiapkan makanan dan minuman untuk anggota keluarganya, agar mereka dapat tumbuh dan berkembang dengan baik. Begitu juga seorang ayah yang bekerja mencari nafkah untuk menghidupi keluarganya. Dengan demikian apa yang dikerjakan oleh kedua orang tuanya secara tidak langsung membantu pertumbuhan anaknya. Akan tetapi pada kenyataannya, perkembangan anak tidak selalu cocok dengan apa yang diharapkan oleh orang tuanya. Misalnya anak-anaknya sejak kecil sudah memperoleh kesempatan sekolah sampai dapat menyelesaikan ke jenjang yang lebih tinggi, akan tetapi setelah menyelesaikan pendidikan formalnya dia belum memperoleh pekerjaan sesuai dengan harapan.

Berbagai hal yang mempengaruhi anak, baik secara langsung atau tidak langsung dan dilakukan secara sadar maupun tidak sadar merupakan sebuah proses pendidikan. Hal inilah yang melatarbelakangi mengapa anak membutuhkan suatu pemahaman untuk kelangsungan pendidikannya. Sebagai pendidik ataupun lembaga pendidikan harus sadar dan tanggap dari perilaku anak atau anak didik itu sendiri

Anak bagaikan kertas putih yang bersih tanpa noda dan polos. Seorang anak pasti harus dididik agar ia tumbuh menjadi manusia yang berpendidikan, mengembangkan potensi yang ia miliki, serta bisa berkepribadian. Orang tua harus bersikap baik atau memberikan contoh perbuatan baik dan benar sesuai dengan etika, moral dan agama. Karena anak belum mengetahui mana yang baik dan buruk sehingga anak mudah dipengaruhi oleh lingkungan sekitar. Jadi, anak sangatlah perlu untuk dididik agar ia mempunyai potensi, kepribadian, pintar, bisa bersosialisasi dengan masyarakat atau temannya dan mempunyai sikap dan sifat yang baik

Anak hanya bisa meniru apa yang dilihatnya di lingkungan sekitarnya. Ketika anak melihat perbuatan kedua orang tuanya pasti ia akan meniru perbuatan tersebut. Jadi, sikap seorang anak tergantung juga kepada orang tua. Meskipun ada faktor lain selain orang tua seperti lingkungan,sekolah dan teman, tapi peran orang tua sangatlah besar karena waktu seorang anak lebih banyak dihabiskan di rumah bersama keluarganya.

Bayangkan jika seorang anak tidak mendapatkan pendidikan atau tidak di didik. Bagaimana sikap dan sifat anak tersebut di masa yang akan datang? Pastilah sikap dan sifatnya kurang baik. Contohnya mungkin dia melawan kepada orang tuanya,bersikap kurang baik dengan teman-temannya, tidak sopan dalam bersikap, dan seperti anak yang tidak mempunyai kepribadian serta tidak bisa mengembangkan potensi yang ia miliki

Anak perlu di didik tidak hanya di sekolah oleh gurunya karena sekolah hanyalah sarana pengembangan potensi diri serta sebagai tempat bersosialisasi dengan temannya.

Sadar atau tidak memang kehadiran guru dikelas dapat memberikan pengaruh tehadap perkembangan anak dalam penghayatan nilai kehidupan, motivasi belajar dan bersikap positif terhadap pembelajaran.jadi secara tidak langsung sekolah juga mempunyai peran penting. Guru sebagai pengganti orang tua di sekolah harus memberikan perhatian kepada anak didik dan anggaplah seperti anak sendiri. Jika ada seorang anak yang terlihat kurang bersosialisasi dengan temannya atau kurang dalam pelajaran lakukanlah pendekatan yang lebih pribadi untuk mengetahui apa sebab anak tersebut seperti itu. Lalu, selesaikan masalah itu bersama anak.

Lingkungan sekitar juga mempengaruhi kepribadian anak.Agama mempunyai peran yang penting juga dalam kepribadian anak karena melalui agama anak akan mengetahui tentang akhlak yang sesuai dengan kaidah keagamaan. Dalam agama juga anak di didik untuk berakhlak mulia dan mempunyai moral yang baik. Serta anak akan mempunyai iman yang kuat dalam beragama.

Dapat disimpulkan bahwa betapa pentingnya orang tua maupun anggota keluarga yang lain ( pendidik ) memberikan bimbingan terhadap anak-anaknya dalam keluarga akan hidup dan kehidupan, baik sedang dialami kelak akan dihadapi. Dengan demikian, peran orang tua, anggota keluarga, pendidik / guru dan anggota masyarakat sangat besar terhadap pembentukan pengetahuan, wawasan, ketrampilan, sikap dan kepribadian anan didik.

Oleh karena itu, disarankan kepada para pendidik baik itu orang tua atau guru agar lebih mengerti tentang karakteristik dan sifat yang ada pada diri seorang anak atau anak didik tanpa menambah beban kepada mereka berupa pemikiran yang masih jauh dengan kondisi usianya dan psikologisnya.

Tanpa pendidikan anak tidak akan menjadi seseorang yang lebih baik dan mungkin tidak bisa berguna bagi dirinya, keluarga, masyarakat, bangsa dan Negara.

BAB III

REFLEKSI 

Seorang anak pasti harus dididik agar ia tumbuh menjadi manusia yang berpendidikan, mengemban potensi yang ia miliki, serta bisa berkepribadian. Sebab jika seorang anak tidak mendapatkan pendidikan atau tidak  dididik, “Bagaimana sikap dan sifat anak tersebut di masa mendatang” pastilah sikap dan sifatnya kurang baik.

Contohnya mungkin dia melawan kepada orang tuanya, bersikap kurang baik dengan teman-temannya, dan seperti anak yang tidak mempunyai etika dan kepribadian ditambah tidak bisa mengembangkan potensi  yang ia miliki.

Gen orang tua (heredity), diri (self) serta lingkungan sekitar (environment) sangatlah mempengaruhi kepribadian anak.Karena itu dibutuhkanlah penanaman didikan yang baik sejak dini guna mengarahkan dan membentuk si anak agar mempunyai karakter kuat,cerdas serta pribadi yang lembut dan santun. Seorang anak sejatinya adalah seperti kertas kosong yang masih putih,akan menjadi seperti apa nantinya itulah tugas pendidik baik melalui sistem formal, informal maupun non formal untuk mendidik si anak agar menjadi seorang  yang memiliki daya guna tinggi baik bagi dirinya maupun orang di sekelilingnya kelak.

Seorang anak yang sejak kecil mendapat didikan dasar yang baik dengan cara-cara pendekatan yang baik pula sesuai dengan karakter pribadinya,penyampaian secara halus tapi menegaskan dengan bermacam-macam penanaman ilmu,wawasan pengetahuan serta mengajak untuk saling bertukar cerita berbagi pengalaman  pasti akan memberikan efek yang baik pada pribadi dan karakter si anak karena ia merasa dianggap dan dihargai di lingkungannya. Jadi didikan yang baik akan sangat berpengaruh pada tumbuh kembang pribadi si anak menjadi seseorang yang lebih baik.

Karena tugas dan peran guru dalam proses belajar mengajar akan didapatkan dalam Ilmu Pendidikan nantinya.Dalam kegiatan proses belajar mengajar  tersebut akan meliputi banyak hal sebagaimana fungsi calon guru adalah sebagai guru pengajar.Sebab seorang calon guru dalam melaksanakan kegiatan belajar mengajar pasti ada tujuan yang ingin dicapai, baik tujuan jangka pendek maupun jangka panjang.Misalnya seorang mahasiswa belajar Ilmu Pendidikan, tujuan yang ingin dicapai dalam jangka pendek mungkin  ingin memperoleh pengetahuan, sikap dan keterampilan tentang Ilmu Pendidikan yang diwujudkan dalam bentuk kelulusan dengan memperoleh nilai yang bagus.

Sedangkan tujuan jangka panjangnya ingin menjadi guru yang efektif  dengan memiliki kompetensi yang memadai tentang Ilmu Pendidikan. Seorang pendidik adalah sumber informasi para murid yang mana haruslah memiliki pengetahuan dan wawasan yang lebih tinggi dan luas dibanding yang dididik. Memiliki pengetahuan yang lebih luas daripada dasar dalam textbook atau rencana pelajaran adalah sebuah keharusan bagi seorang pendidik karena seringkali murid mengeluarkan spontanitas pertanyaan yang cenderung rasa keingintahuan pribadi yang tidak tercantum dalam textbook.

Disamping itu juga seorang guru harus memiliki jiwa besar dan mental yang kuat dalam menghadapi tingkah laku para murid yang terkadang sulit dikontrol.Serta mampu memahami tiap anak didiknya dari sisi psikologis, karena terkadang apa yang mereka pikirkan dan rasakan sulit untuk  diterjemahkan.

Dalam hal ini Ilmu Pendidikan sangat diperlukan bagi seorang guru,yaitu untuk mempelajari segala hal yang berkaitan dengan dunia pendidikan.Bagaimana cara mengajar yang baik yang sistematis agar murid cepat menangkap apa yang kita maksudkan dan ajarkan, pemahaman karakter dan keadaan psikis serta kondisi setiap individu murid dengan penyesuaian pendekatan dan cara belajar yang efektif bagi mereka. Dengan begitu berbagai aktivitas mengenai pembelajaran akan dilakukan dan diarahkan untuk mencapai tujuan Ilmu Pendidikan tersebut.

 

DAFTAR PUSTAKA

 

Hasbullah.1996. Dasar-dasar Ilmu Pendidikan.Jakarta: PT Rajagrafindo Persada

http://carapedia.com/pengertian_definisi_pendidiakan_menurut_para_ahli_info405.html. Diakses pada tanggal 3 September 2012

http://coach94.wordpress.com/2008/06/25/apa-melatih-itu/.  Diakses pada tanggal 3 September 2012

http://novia27.wordpress.com/2008/06/25/perkembangan-peserta-didik/. Diakses pada tanggal 3 September 2012

http://www.syaarar.com/index.php?module=content&id=912. Diakses pada tanggal 3 September 2012

http://www.e-psikologi.com/epsi/pendidikan_detail.asp?id=462. Diakses pada tanggal 3 September 2012

http://www.infokomunitas.com/index.php?option=com_content&task=view&id=652&Itemid=28. Diakses pada tanggal 3 September 2012

Purwanto, Ngalim. 2007. Ilmu Pendidikan Teoritis dan Praktis. PT Remaja Rosdakarya

Romlah, M.Ag, Dra.2004. Psikologi Pendidikan.Malang:UMM Press

Undang-undang No . 23 Tahun 2003 Tentang Sistem Pendidikan Nasional

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s