Mengeja Tauhid-ku


Pandangan hidup umat Islam yang hakiki harus merujuk pada konsep tauhid. Kalau diibaratkan kekokohan pandangan hidup itu seperti sebuah pohon, maka tauhid adalah akar-akar yang menghunjam ke dalam bumi, yang menopang tegaknya pohon tersebut. Oleh karena itu, setiap strategi yang kita rencanakan, setiap langkah yang kita lakukan, semestinya harus kita landasi dengan pemahaman yang benar tentang konsepsi tauhid.

Sejak jaman pertama kehidupan manusia, dunia ini secara garis besar terbagi menjadi 2 kekuatan, yaitu kebaikan dan kejahatan. Kedua kekuatan ini akan terus berperang hingga akhir jaman. Islam diturunkan sebagai petunjuk bagi umat manusia. Apabila seseorang telah mengucapkan 2 kalimat syahadat, maka ada konsekuensi yang harus diembannya, yaitu meng-Ilahkan Allah semata dan menegasikan segala sesembahan selain Allah.

Dalam Islam konsep Tuhan dikenal dengan konsep Tauhid (menunggalkan) yang tidak mengalami perubahan sejak zaman Nabi Adam sehingga Nabi Muhammad Saw. Tuhan adalah eksistensi tertinggi yang dapat menjadi tempat bertumpu dan berlindung hamba (makhluk).

Dalam Nilai Dasar Perjuangan HMI BAB I (Dasar-Dasar Kepercayaan) disebutkan bahwa manusia memerlukan suatu bentuk kepercayaan. Kepercayaan tersebut dianut bukan saja karena kebutuhan, tetapi juga karena kebenaran. Dalam kenyataan, sering kita temui bentuk kepercayaan yang beraneka ragam di kalangan masyarakat. Itu artinya ada dua kemungkinan, kesemuanya berarti salah, atau salah satu saja diantaranya yang benar, atau bisa jadi kepercayaan malah mengandung unsur-unsur kebenaran dan kepalsuan yang campur baur. Kepercayaan melahirkan nilai-nilai yang melembaga dalam tradisi yang diwariskan turun temurun dan mengikat anggota masyarakat yang mendukungnya. Nah, disinilah kontradiksi itu muncul, yakni ketika ia menjadi penghambat perkembangan dan kemajuan manusia. Karenanya, manusia harus selalu bersedia meninggalkan setiap tata nilai tradisional dan menganut kepercayaan yang sungguh-sungguh merupakan kebenaran. Kebenaran yang mutlak adalah Tuhan Allah.

Allah telah berfirman: “Kebenaran itu adalah dari Tuhanmu, sebab itu jangan sekali-kali kamu termasuk orang-orang yang ragu.”

Artinya, kebenaran itu ada, sumbernya dari Tuhan, yakni yang disampaikan kepada kita melalui wahyu. Jadi jangan pernah bersikap ragu dan membenarkan keraguan itu, karena pegangan kebenaran jelas dan ada, yakni wahyu. Jadi, jangan lagi ada kata, kebenaran itu relative, karena jelas kebenaran sejati hanya milik Allah swt.

Perumusan kalimat persaksian dalam Islam: ‘Tiada Tuhan selain Allah’, mengandung gabungan antara peniadaan dan pengecualian. ‘Tidak ada Tuhan’ berarti meniadakan segala bentuk kepercayaan, sedangkan ‘Selain Allah’ memperkecualikan satu kepercayaan kepada kebenaran. Membebaskan diri dari belenggu, dan tunduk pada ukuran kebenaran : Allah, Tuhan yang Maha Esa. Tunduk dan pasrah itu disebut Islam.

Imam Ibnu Katsir membagi konsep tauhid ini dalam dua bentuk :

(1) Tauhid Formalis (Tauhidul Ism), yaitu meyakini bahwa Allah Swt adalah Esa secara otomatis dengan namanya tersebut, maka penyebutan dengan nama selain Allah Swt tidak diperbolehkan.

(2) Tauhid Konseptual (Tauhidul Ma’na), yaitu konsep tauhid yang mementingkan sisi konseptual bahwa ketuhanan dalam Islam adalah Esa (Surat Al Isra 17: 110, Al Ikhlas 112: 1).

Berdasarkan Konsep Tauhid maka Allah Swt adalah :

(1) Pencipta alam semesta dan seisinya, berarti disinilah ketergantungan manusia sebagai makhluk-Nya.

(2) Dimensi yang memungkinkan dimensi – dimensi lainnya.

(3) Memberikan arti dan kehidupan kepada setiap sesuatu.

(4) Tak terhingga dan hanya Dia yang tak terhingga dalam kehidupan sebagai tanda bahwa Dia sebagai Pencipta.

(5) Segala sesuatu selain-Nya akan musnah. Maka jika ada manusia menganggap bahwa ada zat yang Maha Agung selain Allah Swt, terlebih lagi kemudian tenggelam dalam perbuatan men-Tuhan-kannya maka manusia itu menjadi musyrik

Menurut Jujun S. Suriasumantri, pada dasarnya terdapat dua cara pokok bagi manusia untuk mendapatkan pengetahuan yang benar. Yang pertama adalah mendasarkan diri kepada rasio, dan yang kedua mendasarkan diri kepada pengalaman. Yang pertama disebut paham rasionalisme, dan yang kedua disebut paham empirisme.

Di samping rasionalisme dan empirisme, masih terdapat cara untuk mendapatkan pengetahuan yang lain. Yang penting dari semua itu, menurut Jujun, adalah intuisi dan wahyu. Intuisi merupakan pengetahuan yang didapatkan tanpa melalui proses penalaran tertentu. Seseorang yang sedang terpusat pemikirannya pada suatu masalah tiba-tiba saja menemukan jawaban atas permasalahan tersebut. Tanpa melalui proses berpikir yang berliku-liku tiba-tiba saja dia sudah sampai di situ. Inilah yang disebut intuisi.

Pendekatan untuk mengenal konsep Tuhan bisa dillakukan dengan tiga jalan dengan merujuk pada filsafat ilmu, yakni secara ontologis, epistemologis, dan aksiolaogis.

Secara ontologis, artinya kita membahas mengenai APA yang dikaji (subjek materiil, atau objek formil). Objek material adalah suatu hal yang menjadi sasaran pemikiran yang akan dipelajari, sedangkan objek formal merupakan cara pandang dalam melihat/ meninjau yang dilakukan peneliti terhadap objek material. Kaitannya dengan agama, maka objek materialnya adalah Manusia dan Tuhan, sedang objek formalnya adalah ‘penghambaan’ manusia terhadap Tuhan.

Deer Heer Goot wurfelt nicht! (Tuhan tidak melempar dadu!)-Alber Einstein

 

Secara epistemologis, artinya kita membahas mengenai bagaimana cara mendapatkan ilmu tersebut. Ilmu diawali dengan fakta, dan diakhiri dengan fakta. Ini juga-lah yang akan menjawab pertanyaan ‘mengapa agama harus dimulai dengan rasa percaya sedangkan ilmu dengan ragu-ragu?’. Jawabnya terletak pada daerah penjelajahan agama yang menjangkau keluar dari daerah pengalaman manusia. Dalam keadaan seperti ini, wahyu dari Tuhan akan diterima sebagai hipotesis yang kebenarannya akan diuji oleh manusia. Proses pengujian ini tidak sama dengan proses pengujian ilmiah yang hanya berdasarkan tangkapan panca indera, mmelainkan juga harus meliputi semua aspek kemanusiaan kita seperti : penalaran, perasaan, intuisi, dan imajinasi, disamping pengalaman. Sehingga, kepercayaan keagamaan bersifat personal dan subjektif, berbeda dengan ilmu yang bersifat impersonal dan objektif. (Filsafat Ilmu, Hal : 139)

Agama bukanlah hal yang ilmiah. Agama lebih dari sekedar ilmiah. (Bp. Djaelani, Dosen Agama Islam)

Sedangkan secara aksiologis, yaitu kita membahas mengenai nilai kegunaan ilmu. Albert Einstein mengatakan bahwa tidak cukup bagi kita hanya memahami ilmu agar hasil pekerjaan kita membawa berkah bagi manusia. Perhatian kepada manusia itu sendiri dan nasibnya harus selalu merupakan minat utama dari semua ikhtiar teknis. Jangan kau lupakan hal ini ditengah tumpukan diagram dan persamaan.

Ilmu tidak saja memerlukan kemampuan intelektual namun juga keluhuran moral.

Dalam presentasinya Arqom Kuswanjono memaparkan mengenai struktur ontologis, epistemologis, dan aksiologis ilmu dan agama sebagai berikut :

  1. Struktur ontologis  ilmu dan agama
  1. Kebenaran ilmu dan agama tergantung struktur ontologisnya
    1. Ada korelasi antara penguasaan ilmu dan agama dengan kedekatan eksistensinya dengan Allah, sehingga tidak mungkin seorang ilmuwan menjadi anti Tuhan
  1. Struktur epistemologis ilmu dan agama
  1. Integrasi ilmu dan agama tidak berada pada wilayah overlap ilmu dan agama  tetapi pada seluruh bagan, artinya ilmu yang lebih dominan menggunakan rasio dan empiri, menyisakan ruang bagi intuisi dan rasio. Demikian pula agama yang lebih dominan menggunakan intuisi dan wahyu, menyisakan ruang bagi rasio dan empiri
  2. Hal ini agar tidak terjadi rasio-empirisasi agama dan teologisasi ilmu
  1. Struktur ontologis, epistemologis dan aksiologis lmu dan agama
  1. Kebenaran dan kebaikan ilmu dan agama secara mutlak ada pada Allah
  2. Ilmuwan harus selalu berupaya melakukan ‘gerak eksistensial’ mendekatkan diri kepada Allah agar menemukan kebenaran dan kebaikan ilmu yang sesungguhnya dan sebaiknya

Namun, inti dari semuanya adalah bahwa TUHAN ITU ADA, DAN SECARA MUTLAK HANYALAH ALLAH. Pendekatan untuk memahami Tuhan memang bisa dilakukuan dengan berbagai jalan, akan tetapi karena Tuhan adalah Mutlak dan manusia adalah nisbi, maka manusia tidak dapat menjangkau sendiri kepada pengertian akan hakikat Tuhan yang sebenarnya. Karena itu, ‘wahyu’ sebagai pengajaran/ pemberitahuan langsung dari Tuhan diperlukan sebagai bentuk kelengkapan kepercayaan kepada Tuhan.

Menurut Kuntowijoyo “Wahyu” itu sangat penting”. Unsur wahyu inilah yang membedakan epistemologi Islam dengan “cabang-cabang epistemologi Barat yang besar seperti Rasionalisme atau Empirisme, yang mengakui sumber pengetahuan sebagai hanya berasal dari akal atau observasi saja”.

Dalam epistemologi Islam menurut Kuntowijoyo, “unsur petunjuk transendental yang berupa wahyu juga menjadi sumber pengetahuan yang penting. Pengetahuan wahyu, oleh karena itu menjadi pengetahuan apriori. “Wahyu” menempati posisi sebagai salah satu pembentuk konstruksi mengenai realitas, sebab wahyu diakui sebagai “ayat-ayat Tuhan” yang memberikan pedoman dalam pikiran dan tindakan seorang Muslim. Dalam konteks ini, wahyu lalu menjadi unsur konstitutif di dalam paradigma Islam.

Dalam Islam wahyu yang dianggap paling sempurna dan karena itu memiliki otoritas tertinggi adalah Al Qur’an. Al Qur’an merupakan kumpulan wahyu yang diyakini diturunkan oleh Allah swt melalui perantaraan malaikat Jibril kepada manusia yang dipilih oleh Allah swt untuk menyampaikan wahyu tersebut kepada seluruh umat manusia, yaitu Muhammad saw Oleh karena itu, dalam keyakinan umat Islam Muhammad saw adalah seorang Nabi dan utusan Allah (Rasulullah).

Untuk ajaran Islam misalnya bahkan hampir seluruh aktifitas keagamaan itu sumbernya adalah wahyu Tuhan, dan hanya sedikit sekali unsur-unsur gagasan manusia disana, demikian juga dengan agama-agama yang lain yang menganggap berbagai aktifitas itu sumbernya adalah Tuhan.

Untuk lebih memahami makna Tauhid dalam Islam, berikut saya sajikan tabel struktur dalam Islam menurut kuntowijoyo

Tauhid                                                                  <——- innate structuring

| capacity

———————————————————————

|                       |                    |                 |                   |

Akidah         Ibadah          Akhlak       Syariat         Muamalah    <——- deep structure

|                       |                    |                 |                   |

Keyakinan       Sholat/      Moral/               Perilaku       Perilaku         <—— surface structure

Puasa/        Etika                Normatif       Sehari-

Zakat/                                                        hari

Haji

Tauhid adalah pegangan pokok dan sangat menentukan bagi kehidupan manusia, karena tauhid menjadi landasan bagi setiap amal yang dilakukan. Hanya amal yang dilandasi dengan tauhidullah, menurut tuntunan Islam, yang akan menghantarkan manusia kepada kehidupan yang baik dan kebahagiaan yang hakiki di alam akhirat nanti.

Tauhid bukan sekedar mengenal dan mengerti bahwa pencipta alam semesta ini adalah Allah; bukan sekedar mengetahui bukti-bukti rasional tentang kebenaran wujud (keberadaan) Nya, dan wahdaniyah (keesaan) Nya, dan bukan pula sekedar mengenal Asma’ dan Sifat-Nya. Iblis mempercayai bahwa Tuhannya adalah Allah; bahkan mengakui keesaan dan kemaha-kuasaan Allah dengan meminta kepada Allah melalui Asma’ dan Sifat-Nya. Kaum jahiliyah kuno yang dihadapi Rasulullah juga meyakini bahwa Tuhan Pencipta, Pengatur, Pemelihara dan Penguasa alam semesta ini adalah Allah. (Lihat Al Qur’an: 38: 82, 31: 25, 23: 84-89). Namun, kepercayaan dan keyakinan mereka itu belumlah menjadikan mereka sebagai makhluk yang berpredikat muslim, yang beriman kepada Allah.

Tauhid adalah pemurnian ibadah kepada Allah. Maksudnya yaitu menghambakan diri hanya kepada Allah secara murni dan konsekwen dengan mentaati segala perintah-Nya dan menjauhi segala larangan-Nya, dengan penuh rasa rendah diri, cinta, harap dan takut kepada-Nya. Untuk inilah sebenarnya manusia diciptakan Allah, dan sesungguhnya misi para Rasul adalah untuk menegakkan tauhid dalam pengertian tersebut di atas, mulai dari Rasul pertama sampai Rasul terakhir, yaitu Nabi Muhammad saw.

“Barang siapa yang mengingkari thaghut dan beriman kepada Allah, maka ia benar-benar telah berpegang teguh kepada tali yang paling kuat.” (QS. Al Baqarah: 256).

“Janganlah kamu menjadikan bersama Allah sesembahan yang lain, agar kamu tidak menjadi terhina lagi tercela.” (QS. Al Isra’: 22).

Milik Allah-lah kebenaran mutlak itu. Segala kesalahan datang dari saya

 

Sumber Referensi :

  1. AlQur’an. Hak cipta milik Allah swt
  2. Kitab Tauhid. Penulis : Muhammad bin Abdul Wahab
  3. Materi presentasi ‘Epistemologi Profetik’-nya Pak Arqom Kuswanjono
  4. Filsafat Ilmu-nya Jujun S. Suriasumantri
  5. Teks Nilai Dasar Perjuangan (NDP) Himpunan Mahasiswa Islam
  6. Buku Asistensi Agama Islam
  7. Beberapa E-Book

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s