Refleksi Sumpah Pemuda dan Mainstream Indonesiasentris sebagai Usaha Membangun Karakter Pemuda Indonesia


Refleksi Sumpah Pemuda dan Karakter Pemuda Indonesia

Lahirnya sumpah pemuda 84 silam bukan saja merupakan batu pijakan dari rangkaian proses sejarah yang bertonggak pada kejemuan akan realitas penjajahan yang sarat dengan penderitaan dan kesengsaraan, akan tetapi merupakan hasil pergolakan sekaligus pembuktikan kualitas dan karakter pemuda Indonesia kala itu.

Sumpah Pemuda membuktikan kuatnya karakter pemuda kita sebagai pemuda yang Visioner dan Pemberani. Para pemuda kita telah melompati mainstream pemikiran kedaerahan, kesukuan, bahkan melampaui batas-batas rasial yang membelenggu, membiarkannya merambah dalam wilayah-wilayah universal, penolakan kolonialisme, dan keinginan mewujudkan kesetaraan manusia. Keberanian meneriakkan dengan lantang dan mengambil sikap melawan entitas penjajah bukan merupakan hal yang main-main, mereka dengan berani telah menyatakan persatuan bangsa Indonesia dan sebuah cita-cita mulia untuk mendirikan sebuah bangsa yang merdeka dan berdaulat.

Mari kita cukupkan romantisme sajarah tentang heroisme pemuda dalam periode yang lalu. Pertanyaannya, bagaimana dengan kondisi pemuda kita hari ini? Kebudayan bangsa Indonesia yang bernilai luhur dan agung begitu saja terkikis akibat hegemoni budaya asing. Konflik horizontal yang marak terjadi pun semakin memperlihatkan dengan gamblang disentegrasi bangsa.

Jika menilik lagi sejarah, barangkali memang pemuda (dalam hal ini mahasiswa) mulai mabuk akan demonstasi pada 1998. Letih dengan demonstrasi, mahasiswa mabuk label keilmiahan kemudian mengingkari semangat angkatan ’98 untuk berteriak dan turun ke jalan memperjuangkan rakyat. Kini, bukannya menempa pikir dalam kajian dan diskusi untuk mencari solusi, mahasiswa malah asyik masyuk menjadi event organizer. Beberapa mengklaim bahwa mereka memberi solusi pada permasalahan bangsa, nyatanya solusi tersebut terongrong dalam ego dan sikap elitis, selesai dalam ruang-ruang seminar dan kajian akbar.

Menjamurnya berbagai lembaga dan organisasi mahasiswa, mulai dari BEM, DEMA, Pers Mahasiswa, hingga Unit Kegiatan Mahasiswa telah membentuk spektrum yang mencerminkan karakter mahasiswa dalam skala yang relatif lebih luas, sayangnya hal ini pun berdampak pada lemahnya konsolidasi visi dan orientasi sehingga terjadi dikotomi dan pelepasan tanggung jawab mengemban amanah reformasi yang telah dititipkan oleh generasi sebelum kita.

Merefleksi Sumpah Pemuda 84 tahun silam semestinya bisa menumbuhkan spirit dan semangat membangun karakter baru untuk berpikir visioner melampaui mainstream pemikiran umum sehingga dengan berani kita bisa memberikan sumbangsih ide, gagasan, dan tindakan untuk perbaikan bangsa ini ke depan.

Pada hakikatnya, mahasiswa haruslah memiliki karakter yang ideal, kuat dan cerdas. Akan tetapi bagaimanakah cara menumbuhkan karakter ideal tersebut? Apakah ia akan tertanam melalui seminar satu dua hari saja? Atau melalui kontribusi konkrit dengan pengadaan event-event kepemudaan serta beribu lembar karya ilmiah? Ataukah, karakter itu akan muncul saat kita memilih untuk menempuh alternatif gerakan pecinta lingkungan dan pengabdian pada masyarakat?

Agaknya, pertanyaan-pertanyaan tersebut menjadi suatu hal yang sukar untuk dijawab lewat tiga sampai lima lembar kertas saja, melainkan harus melalui penelaahan yang panjang dan kontinyu sehingga dapat ditemukan pola kontruksi karakter mahasiswa yang ideal untuk menjawab tantangan zaman.

Mainstream Indonesiasentris

Indonesiasentris mengacu pada nilai-nilai dan pandangaan yang mengacu pada sudut pandang Indonesia. Sentrisme Indonesia ini adalah suatu bentuk reaksi terhadap sikap elitis dan cara pandang parsial, salah satunya di bidang pendidikan. Paulo Freire menyatakan bahwa pendidikan kita saat ini jelas menerapkan gaya bank. Pendidikan kini bukan lagi diletakkan sebagai proses memerdekakan manusia dari penjajahan kebodohan, kebutaan akan hidup dan kehidupan. Ruang-ruang pendidikan seperti sekolah dan universitas kini menjadi pabrik  yang mencetak generasi terbaik bangsa sebagai pekerja, buruh di negeri sendiri.

Terbatasnya sikap keindonesiaan menyebabkan keterpurukan pemuda dalam menjelaskan interpretasi dan eksplanasi, sehingga mereka cenderung membuat generalisasi berdasar narasi besar yang abstrak semata. Jarang pemuda kita membuat konsep yang berbeda dari narasi umum yang ada. Seolah apabila sedang bicara tentang nasionalisme maka kita bicara soal bertempur dan melawan musuh. Padahal ada bentuk-bentuk lain dari perjuangan dalam rangka nasionalisme. Pada akhirnya, perlu kita sadari bersama bahwa masing-masing pihak mempunyai cara sendiri tentang bagaimana berjuang.

Solusi yang bisa diupayakan untuk merekonstruksi karakter mahasiswa yang ideal adalah dengan menanamkan mainstream Indonesiasentris pada pola pikir yang berbasis pada kesadaran.

Seringkali kita masih terhegemoni dengan romantisme sejarah bahwasanya mahasiswa adalah tonggak sejarah perubahan bangsa yang telah menumbangkan kekuasaan tiran dan memperjuangkan nasib rakyat. Dan tentu saja, kini kita melihat dengan nyata bahwa sejatinya, kita pun telah dikhianati oleh segelintir oknum yang kala itu memperjuangkan nasib kita. Kesadaran mengenai realita sejarah bermakna bahwa mahasiswa kini harus mampu mengenali dirinya secara utuh sehingga mampu menentukan langkah dan arah geraknya sendiri, tak mesti menunggu untuk ditunggangi kepentingan-kepentingan yang akan memposisikan dirinya sebagai bidak-bidak catur yang tak punya daya dan upaya untuk bergerak sesuai nuraninya.

Dalam masyarakat industrial seperti sekarang ini, yang mengatur bukan lagi orang tetapi sistem sehingga perseorangan harus menyesuaikan diri terhadap sistem yang berlaku. Hal ini menunjukkan pada kita bahwa rasionalitas modern telah menempatkan individu sebagai pihak yang otonom dan bebas, sehingga mereka dapat mengambil tindakan atau keputusan terlepas dari kewibawaan institusi. Representasinya tercermin dari sifat konsumerisme dan gaya hidup hedonisme yang kini memiliki arti penting dalam praktek bermasyarakat.

Karakter mahasiswa ideal harus peka dalam menghadapi tantangan ini dan mampu menempatkan diri sebagai director of change. Bukan bermaksud untuk latah dengan kembali mengulang stigma (semoga saja belum usang) bahwa mahasiswa adalah ‘Agen Perubahan’, pemegang tahta tertinggi dalam kancah pendidikan. Namun, seiring berkembangnya jaman, lapuk pula-lah slogan itu. Sebuah paradigma baru (yang entah siapa pembuatnya) mengantar orientasi berpikir mahasiswa untuk menjadi si kaya yang bodoh dan sombong. Sombong  karena berani berkoar didepan umum dengan janji akan menaklukan dunia di tangannya, tapi akhirnya binasa sebelum melangkah ke medan laga.

Konstelasi ini harus dijawab oleh setiap individu dengan menumbuhkan karakter yang utuh, tanpa terdistorsi kepentingan-kepentingan personal maupun golongan tertentu.

Semestinyalah ada penerusan dari kesadaran individual menuju kesadaran kolektif. Gambaran tentang masa depan tidak saja berkaitan dengan kesadaran individu, melainkan juga secara sosial/ kolektif dengan jalan mengintegrasikan diri dalam sebuah komunitas masyarakat yang yang mempunyai agenda kebajikan di tengah masyarakat luas. Sehingga individu-individu yang terhimpun dapat saling  mengeksplorasi pikiran tentang Indonesia di masa yang akan datang.

Pada Akhirnya, Mari berbenah

Upaya untuk membangun karakter pemuda Indonesia bukanlah semata-mata kerja seorang teoritisi. Proyek ini merupakan tanggung jawab setiap elemen sosial yang melibatkan kerja proaktif baik dari kalangan aktivis maupun akademisi. Upaya selanjutnya adalah bagaimana menginstutisionalkan kerja-kerja teknis dalam upaya penanaman mainstream Indonesiasentris dalam diri pemuda Indonesia.

Pada tingkatan nasional misalnya, para aktivis dan kaum intelektual yang bergerak di gerakan akar rumput harus melampaui mainstream karakter perjuangan mahasiswa pada umumnya yang sebatas melakukan aksi turun ke jalan tanpa merumuskan solusi yang konkrit, menulis sejumlah proyek ilmiah namun tak memberikan kontribusi yang berarti pada masyarakat, serta terus menerus memberikan sumbangan materi pada masyarakat miskin tanpa disertai dengan upaya pengabdian sosial.

Perjuangan untuk menumbuhkan karakter Indonesiasentris pada diri pemuda merupakan hal yang sangat penting, karena dengan perhatian pada konfigurasi tatanan pewaris masa depan Indonesia akan menjadi jalan untuk menumbuhkan ulang semangat visioner dan pemberani yang dimiliki oleh pemuda Indonesia dalam momentum 84 tahun silam saat mereka mengikrarkan sumpah pemuda.

Beberapa di antara kita mungkin memaknai sumpah pemuda dengan menjadikannya sebagai ritual yang kosong dengan hanya sekedar berucap SELAMAT HARI SUMPAH PEMUDA di jejaring sosial, mungkin pula hanya sekedar menjadikannya pelengkap tema-tema diskusi, atau bisa jadi kita mengambil momentum ini hanya sebagai tema aksi. Tanpa pernah kita benar-benar merefleksikan releansi semangat sumpah pemuda untuk menjawab tantangan masa depan bangsa Indonesia.

Inilah saat kita berbenah, Pemuda Indonesia.

6 tanggapan untuk “Refleksi Sumpah Pemuda dan Mainstream Indonesiasentris sebagai Usaha Membangun Karakter Pemuda Indonesia

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s