Jawabku : “ Kok Tau?”


Alikta Hasnah Safitri

 “Ayahmu dokter ya?”

Jika kata-kata itu  dikirimkan seseorang ke ponsel anda, atau diucapkan secara langsung di hadapan anda. Apa yang ada di benak anda untuk menjawab pertanyaan tersebut? Jika anda seorang yang cukup sensitif terhadap kata-kata yang bertemakan ‘rayuan gombal kekinian’, mungkin anda akan ge er, dan mengira bahwa seseorang, yang anda asumsikan hendak merayu anda itu bermaksud mengatakan bahwa, misal saja : “karena kau telah mengobati luka menganga di hatiku.” (apa penulis seseorang yang gombal? Silakan anda asumsikan sendiri). Sehingga, jawaban pertama yang muncul di benak anda adalah jawaban absolut yang juga sedang tren, “kok tau?”  Tetapi, jika anda seorang yang tidak mengerti tentang dunia ‘gombalisme’ zaman sekarang, mungkin anda akan menjawab dengan jawaban yang jujur, “Bukan kok. Ayah saya petani.”

Tahukah anda? Betapa kata-kata, kalimat-kalimat, begitu polos dan jujur, jernih dan netral, kitalah yang sebenarnya memberikan tafsiran sesuai dengan penalaran, pengalaman, dan pemahaman kita. Tentu hal ini sifatnya subyektif, sebab nilai-nilai yang kita terapkan dalam pergaulan tentulah akan sesuai dengan konteks sosiologis dan psikologis kita, bahkan gender pun mempengaruhi pengambilan sikap kita dalam memahami sesuatu itu.

Dalam konteks kehidupan kita dalam bersosialisasi, acap kali kita tidak menjaga jarak yang obyektif terhadap pemaknaan rangkaian kata ini, sehingga terkadang kita akan terjerumus pada kesalahan tafsir dan makna ambigu dari sebuah pertanyaan maupun pernyataan.

Mungkin anda pernah mengalami ini. Ketika seorang kawan mengatakan, “hei, kamu lulus ujian. Selamat ya….” Tentu kita akan merasa  senang mendengarnya, tapi bagaimana jika kawan kita itu belum selesai meneruskan kalimatnya, kemudian mengatakan, “nilaimu C, terendah di kelas.” Apa yang ada di benak anda kala itu? Apa lantas anda sedih dan kecewa karena anda memaknainya dengan ketidaksenangan, dan bahkan kebencian? Sebaliknya, jika kita cukup cerdas. Mungkin kalimat itu bisa menjadi motivasi dan pelecut semangat untuk berusaha mendapatkan nilai yang lebih tinggi.

Demikianlah kita, disebabkan kedangkalan kita terhadap makna-makna, kita sering memberikan tafsir secara harfiah sehingga memasung potensi positif kita sendiri.

Kawan, ucapan juga merupakan sebuah wujud kasih sayang, entah dalam wujud perhatian maupun penyemangat. Baik itu dalam konteks persahabatan, hubungan kakak-adik, ibu-anak, maupun dalam konsep struktural organisasi sebagai ‘atasan dan bawahan”. Namun, tak serta merta komunikasi kita terjemahkan hanya dalam bahasa verbal (apalagi kalimat rayuan yang membuat kita berbohong seperti contoh diatas). Realitanya, satu sentuhan mewakili sejuta kata, bukan?

Mungkin, bentuk ungkapan cinta ini telah diajarkan oleh seorang lelaki mulia yang ketika memimpin perjalanan jauh maupun dalam posisinya sebagai pemimpin negara sempat bertanya, “Mana si Fulan? Mengapa ia tak tampak?” Juga ketika beliau menyuapi seorang Yahudi yang senantiasa menghujat dan memakinya. Lihat? Alangkah indahnya sebuah bahasa CINTA.

Ucapan yang terangkai sungguh merupakan bentuk ungkapan perhatian dan kasih sayang. Ia merupakan bagian dari kekayaan hati manusia. Sekali lagi, bukan terletak pada manisnya ucapan maupun dahsyatnya rayuan, yang bahkan cenderung lebih mengawang-awang dan memiliki makna yang ambigu. Tapi, oleh sebuah sugesti bahwa ternyata kita menempati sebuah ruang dihati orang lain.

Kawan, sejatinya setiap momen dalam hidup kita adalah momen yang tepat untuk mengungkapkan cinta. Kita tak butuh waktu demi berhenti sejenak dan memikirkan trik rayuan apa yang paling dahsyat atau rangkaian kalimat apa yang paling indah untuk mengungkapkannya.

Pernahkah terlintas dalam benak kita untuk berbagi cinta dengan menebar manfaat?

Apa kabar imanmu? Apa kabar Islammu? Apa kabar Ikhlasmu?

Apa kabar hatimu, kawanku? Masihkah ia terhijab dari godaan nafsu dunia?

Atau, sudahkah anda tilawah hari ini, akhi/ukhty?

Seiring berjalannya waktu, maka setiap detik dalam kehidupan ini semoga akan menjadi waktu yang tepat bagi kita untuk saling menebar cinta dengan ucapan doa, semangat, dan nasihat dalam kebaikan.

“Antum muslim ya?’

“Alhamdulillah, Ya. Kok Tau?”

 “Karena ketika melihatmu, aku mengingat Allah.”(ini gombal lagi bukan?).

Wallahua’lam

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s