Renungan Pagi – Keringnya Hati


Pernahkah antum merasa? Dari syuro’ ke syuro’ yang antum hadiri, masih saja ada kekosongan yang hambar dalam jiwa?

Pernahkah antum merasa? Dari ruku ke sujud yang antum lakukan sebagai rutinitas tiap hari itu antum mendapati jiwa antum masih merasa gersang?

Pernahkah antum merasa? Dari tilawah yang antum lantunkan, dari hafalan yang antum tuntaskan. Kesemuanya itu tak menghadirikan rasa tenang dalam jiwa? Hanya kepuasan sesaat yang teramat jelas terasa.

Ya, hafalanku tuntas. Ya, targetku terlampaui.

Lalu, apa gunanya itu semua ketika satu ruang kosong itu masih tersisa. Ketika sebuah ruangan kosong dalam jiwa antum malah menghadirkan sesak baru yang begitu merongrong dan menyiksa.

Betapa sangat menyedihkan, ketika pada akhirnya yang kita dapati dari seluruh rutinitas keseharian kita sebagai aktivis dakwah hanyalah rasa lelah yang cepat atau lambat akan menguap, tersapu angin, dan menghilang begitu saja.

Lagi-lagi, masih saja menyisakan kering.
Kering dalam panas. Kerontang dalam tandus. Kembali, hanya membawa dahaga dan rasa lelah luar biasa.

Dan kita merasa, ITU NORMAL.
Dan kita tetap merasa, ITU WAJAR.
Dan lagi lagi, kita menganggap ITU SIKLUS.

Adakah yang salah dalam diri kita?
Toh, semua target amal yaumi terlampaui.
Toh, target hafalan tertuntaskan.
Toh, rutinitas syuro’ dan kegiatan dakwah tak terganggu.
Manajemen waktu yang luar biasa, semua sukses. Prestasi akademik pun hampir memuaskan.
Adakah yang salah??
Mengapa masih ada satu ruang kosong yang menyisakan kering??

Maka, cobalah beranjak dari segala kesibukan. Cobalah berfikir dan merenungkan tentang ini semua
Adakah yang salah?

Robbi.. Apakah shalat-shalat itu hanya rokaat-rokaat kosong tanpa penghayatan dan makna?
Robbi.. Apakah tilawah, hafalan, dan tasqif pekanan itu hanya rutinitas konstan yang terjadwal saja?

Mungkin, masih jelas tergambar dalam benak antum waktu-waktu dulu, ketika manajemen waktu menjadi sebuah pertanyaan besar.
Bagaimana caranya tawazun, bagaimana cara mengatur jadwal kegiatan dengan baik, bagaimana cara agar kegiatan kelembagaan tak mengurangi produktivitas kita dalam ranah akademik??
Kini, pertanyaan-pertanyaan ini mungkin terlihat sebagai sesuatu yang klise bagi antum.

Ah, begitu keringnya hati ini.
Ketika diri merasa telah hebat, ketika manajemen waktu seolah tak dibutuhkan
itu sudah terinternalisasi. Begitu mungkin pikir antum.

Jangan-jangan itu masalahnya. Jangan-jangan itulah sumber kekeringan hati antum. Jangan-jangan muaranya adalah kestagnanan antum.

Ah, begitulah kalau diri merasa telah hebat. Dalam segala kesibukan, yang kita rasa hanyalah rakaat-rakaat kosong tak ada makna, yang kita rasa hanyalah kekosongan.
Hampa dan menyiksa.
Maka, sudikah antum kembali mengosongkan cangkir kehebatan dan ego dalam diri antum?
Maka, sudikah antum kembali memulai segalanya kembali dengan niat yang terbaharui???
Mari meluruskan niat.

*kata seorang teman : menyepilah disuatu tempat yang sangat asing hingga kau tak merasa asing lagi dengan dirimu

2 tanggapan untuk “Renungan Pagi – Keringnya Hati

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s