Saat dimana nanti kudatangi kubur bayangan kelam masa laluku


Suatu hari nanti, saat aku sudah letih dengan semua ini. Merasa tak berdaya untuk berkata “ya sudahlah”, aku akan terjun kedalam api yang menyala dengan beringas, yang lebih dulu melibasmu dengan segala kepongahanmu.
Maka sambut dan peluklah aku dengan hangat. Dan mari sayangku, kita berenang di dalam api yang hangat ini, lalu menjadi onggokan bara merah yang merekah marah.

Saat dimana nanti kususuri tiap jengkal masa laluku, akan kuhirup angin yang tiap hari kau hirup dalam-dalam. Angin yang membawa pasir dari sahara yang pernah mengambil paksa jiwamu dan kebebasanmu.
Maka sayangku, tunggulah aku.
Akan kubawakan segelas air jika kau haus. Sisa tampias hujan yang kutadahi dari butir-butir air mata yang sengaja mereka peras dari kebebasan yang mereka rampas dengan beringas.

Gemuruh air akan terasa mengalir dari jiwamu, panas dan bergejolak. Itu aliran darahmu sayangku. Yang terus bergemuruh seperti petir yang menyambar-nyambar penglihatan kita hingga kita dibuat buta karenanya.
Mari sini sayangku, kita berjalan bergandengan.
Setidaknya aku masih memilikimu, dan setidaknya engkau masih menerimaku.
maka kubiarkan kau menuntunku dalam kebutaan kita.

Gelap sayang?
Ya memang.
Bukankah kita sedang menggali kubur kita dan menyesuaikan diri hidup didalamnya?

Saat dimana nanti kudatangi kubur bayangan kelam masa laluku
Akan kupasang tiap hasta langit yang menaungi kita dengan tiang gantungan. Untuk sekalian menghabisi nyawa orang-orang yang kita cinta
Agar mereka tak tersuruk pada api yang sama. Cukup kita saja.

Jiwa terlalu sesak, hati sedang sekarat
Bisakah kau raba bahasa waktu?

Sayangku, saat dimana nanti kudatangi kubur bayangan kelam masa laluku
Aku akan mampir ke pusaramu
Dan berkata pada tuhan
“Dia yang pertama mengajariku bernafas dengan angin yang membawa butiran pasir. Dia yang telah membunuh mereka yang tak berdosa agar mereka tetap suci dalam tanggungan dosa kami. Dia yang mengajariku berenang dalam api yang menyala, lalu menyerah dan menjadi bara. dia yang pertama menuntunku dalam kegelapan menuju kepekatan yang dalam. Dia yang pertama memungut dan mengajariku : bahasa ini”

Jam kosong kuliah
27 November 2012

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s