Aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam


Aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam. Sejak Sang Kelam mengajarkan bahasa rupa tingkah para brengsek manja yang kini menjadi tiran. Jadi muasal para begundal jalanan bertingkah seperti orang gila yang kelaparan, mencakar perut mereka yang kopong, hingga membiarkan usus dan segala macam rupa organ dalam terburai begitu saja hingga menyisakan rintih kesakitan yang teredam oleh teriakan jijik, ratapan sendu, serta tawa riang para pemakan bangkai sialan yang justru berpesta pora atas kematian biadab ini.

Tak ada tempat yang tanpa syarat, begitu yang dikatakan Kelam padaku saat pertama aku datang meminta perlindungan dalam bayangannya. Biar aku sembunyi dari sinar bulan yang terus memaksaku merundukkan kepala, agar mereka tak melihat sinar hijau yang berpendar dari kelopak mata yang selalu memuntahkan darah atas berkat zalim yang para tiran ciptakan.

Berlutut dalam tangis, kukorbankan kematianku sebagai tawaran perjanjian busuk ini.

“Kau pengkhianat busuk. Tiran-tiran itu akan segera memangsamu. Belatimu saja belum terasah, sedang aku hampir menjemput kematianku. Harusnya, kau tak pernah datang padaku.”

“Kumohon.” Pintaku.

Aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam. Sejak Kelam mengendalikan rasa takutnya, ia memanipulasi ketakutan pada diriku. Hingga menjadikannya sumber kekuatan terbesarku, kekuatan tak terbantahkan yang lebih besar kuasanya dari Cinta. Maka, malam demi malam kulewati dengan berlatih, mengasah belati yang tumpul dan berkarat, menenun baju zirah dari baja-baja rongsokan yang para tiran tinggalkan sejak perang terakhirku. Hingga tanganku jadi kasar dan penuh sayatan, kakiku lebam dan bernanah, mukaku sayu berjelaga hitam. Menyerupai Kelam.

“Kau bertempur untuk memilih jalan kematianmu. Tanpa pernah kau fikirkan bahwa masih ada orang-orang yang harus kau lindungi. Bukankah kematian yang kau jual padaku adalah bayaran yang setimpal untuk keabadianmu, hingga kau bisa melindungi mereka yang kau cinta?”

“Pertarungan adalah jalan kematian yang kupilih.” Ujarku sambil memilin sayatan daging yang terkelupas dari tanganku yang masih mengucurkan darah merah segar.

Aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam.
Malam demi malam terlewati begitu saja dibawah birunya sinar bulan, dan aku mulai menikmati kebersamaanku dengan Kelam yang masih terus menyembunyikanku dalam bayangannya.

Semakin lama semakin sulit dan berat, Sang Kelam yang sudah tua itu rupanya mulai lelah menyangga dirinya, ia ingin segera luruh di dataran luas bernama Penerimaan.

“Kau harus kuat secepatnya. Kau tak bisa terus menerus berlindung dalam bayanganku.” Katanya lemah, menyongsong detik kematiannya. “Kau tahu, sejak kau sembunyi dalam bayanganku, mereka pikir kau telah mati.-”

“Maka biarkan aku mati bersamamu.” Tandasku.

Aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam.
Ini hari kedua sejak Kelam mati. Dan aku masih menangis sambil memeluk kegelapan yang pekat, berharap ia akan hidup kembali.

Aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam.
Aku sadar, bahwa Kelam telah mati dan ia tak akan hidup kembali.

“Pembalasan dendam tak akan pernah memuaskan hatimu,” begitu kata Sang Kelam menjelang kematiannya.

Namun batinku meronta. Kematian harus dibalas kematian.

Berbekal belati berkarat yang ku asah sekenanya, dengan baju zirah yang kutenun dengan jemari yang berkali mengelupaskan daging dari tulangnya ini. Aku berangkat menantang sinar bulan, untuk membunuhnya.

Mata hijau antik yang berpendar dalam gelapnya malam tak lagi kusembunyikan, kutengadahkan kepala dengan berani.

“Hei kau tiran brengsek sialan, siapkan kematianmu.” Kataku berapi-api.

Namun sungguh, para tiran itu ternyata lebih licik dan berbisa. Mereka telah mengadakan perjanjian dengan sinar bulan untuk mencekikku dalam paruh waktu menjelang tengah malam, dan menawarkan gemilang harta untuk menyilahkan kilaunya berpendar dalam dunia asing yang tak mengenal siang ini.

Maka, sebelum sinar bulan datang menjemputku. . . .

Kutundukkan kepalaku, menyurukkannya diatas tanah dimana Kelam menyerahkan dirinya. Mendadak aku tak bisa menguasai diri lagi, bertingkah seperti orang gila yang kelaparan, mencakar perut yang kopong, hingga membiarkan usus dan segala macam rupa organ dalam terburai begitu saja.

Menyongsong keabadianku, dalam pelukan kelam.
Sungguh, sejak aku berteman dengan Kelam dan mulai jatuh cinta pada Malam.

Solo, 4 November 2012
masih merasa asing dengan malam yang sunyi seperti ini
malam yang tanpa kehadiranmu

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s