Menjadi Ibu Peradaban


“Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu” (QS At-Tahrim : 6)

Keluarga adalah madrasah pertama bagi seorang anak guna pembinaan aqidah, kepribadian, penguasaan dasar-dasar tsaqofah Islam melalui pengalaman hidup sehari-hari. Sehingga, diharapkan anak-anak yang lahir dari rahim ibunda bisa menjadi generasi yang tangguh dan berkualitas dalam mengusung peran strategisnya sebagai pejuang yang akan memperjuangkan Islam dengan seluruh jiwa dan raganya.

Bagi sebuah peradaban, keluarga adalah benteng terakhir yang mana harus benar-benar dijaga dan tak boleh lengah dari penjagaan. Keluarga adalah tempat dimana kebiasaan, nilai-nilai, dan cita-cita dipancangkan. Berawal dari ini pula-lah, seluruh proses pendewasaan disemai dan ditumbuhsuburkan.

Namun, jika kita lihat potret generasi sekarang yang justru didominasi oleh tingginya angka kejahatan, depresi, kemalasan, gaya hidup konsumtif dan hedonis. Masih layakkah kita bermimpi bahwa anak-anak akan jadi tulang punggung kejayaan Islam dan ditangan mereka-lah kewajiban atas kesejahteraan umat ini diembankan?

Saya masih optimis bahwa jawaban dari pertanyaan tersebut adalah : Ya, Harapan itu masih ada. Berawal dari kesadaran untuk menyehatkan tatanan kehidupan keluarga dengan nuansa Islami, sehingga lahirlah generasi soleh, cerdas, taat pada orang tua, juga taat pada Allah dan Rasul-Nya.

Tanggungjawab inilah yang dilimpahkan pada sosok seorang wanita bernama : istri/ibu. Mereka-lah yang memegang kendali dalam pembinaan keluarga. Mereka-lah yang memiliki peran besar untuk menjadi ibu generasi. Serangkaian hukum syariat telah Allah siapkan demi mengatur peran, posisi, dan hak-hak mereka dalam kehidupan sesuai dengan kodrati tersebut.

Yusuf Al Qardhawi dalam Fiqih Wanita menyatakan bahwa Rumah adalah kerajaan besar bagi wanita. Disini wanita sebagai pengelolanya, istri dari suaminya, partner hidupnya, pelipur laranya, dan ibu bagi anak-anaknya. Islam mempersiapkan profesi wanita untuk mengatur rumah dan memelihara urusan suami dan mendidik anak-anak dengan baik sebagai bentuk ibadah dan jihadnya. Sehingga, setiap system yang beupaya mencabut wanita dari ‘kerajaannya’ dan merampas suami dan buah hatinya atas nama ‘kebebasan’ adalah musuh baginya. Beliau menambahkan, Islam mengizinkan wanita bekerja diluar rumah selama pekerjaannya itu sesuai tabiat, spesialisasi, dan kemampuannya serta tidak meghilangkan naluri kewanitaannya.

Sungguh, semua kebaikan dan harapan akan lahir dari peran dan kontribusi besar seorang ibu. Tak semua pekerjaan rumah harus dikerjakan sendiri, karena ada pekerjaan yang bisa dilimpahkan pada yang lain. Akan tetapi, menananamkan nilai-nilai, mengajarkan etika, dan mempelajari ruh agama adalah tugas utama seorang ibu, sehingga Rumah sebagai pilar peradaban utama itu akan menghasilkan generasi tangguh yang berkualitas.

Ibu peradaban bukan hanya soal mengajarkan anak bisa belajar membaca dan menulis. Lebih dari itu, buatlah anak belajar membaca dan menulis kehidupan dari ibunya. Yang belajar untuk bersabar dalam menghadapi beratnya cobaan hidup, yang belajar makna perjuangan dan pengorbanan dalam mengarungi belantara kehidupan.

Pikiran saya menerawang, terpesona dan terkagum pada sosok muslimah yang menjadi pembicara dalam sebuah konfrensi beberapa waktu yang lalu. mereka sungguh adalah cerminan wanita yang cerdas, yang membekali akalnya dengan pengetahuan dan makna hidup terbaik. Luas cakrawala ilmu mereka membuat saya sadar bahwa saya harus cepat-cepat melek, membuka mata saya lebar-lebar pada semua diskursus yang pada hakikatnya sangat utama diketahui oleh seorang muslimah. Mulai dari sejarah Islam, hingga berbagai pengetahuan modern terkait ekonomi, kesehatan, ideologi, sastra, dan lain-lain

sungguh, saya yakin bahwa dengan kecerdasan tersebut, seorang ibu akan dapat menjalankan tugasnya dengan keilmuan yang memadai.

Anak adalah Penerus Mimpi. Begitu kata seorang teman sore kemarin. Ya, itu benar. Taurits. Pewarisan cita-cita, mimpi, dan harapan. Pewarisan kecintaan dan kebermanfaatan. Pewarisan akan harapan terwujudnya nilai-nilai Islam dalam kehidupan. Pewarisan keimanan dan keistiqomahan yang akan dengan teguh ia pegang sebagai pondasi dalam menjalani kehidupan.

Sebuah sms jarkom yang dikirim seorang ukhti pun turut menggetarkan hati :
________________________________________________________________
Jadilah seorang ibu tempat berbagi suami dan buah hati.
Jadilah ibu cerdas yang selalu mendengar, mengerti, dan berempati.
Jadilah seorang ibu bagi terbitnya kembali harapan bagi mereka yang tak lagi
berharap.
Jadilah ibu yang selalu mengatakan : ‘nahnu du’at qobla kulli syai`in’
*dikutip dengan beberapa perubahan (afwan ukhti)
_______________________________________________________________
Ah, seketika tergelitik, terketuk, dan tertohok.
Bagaimana memulainya? Diri sendiri pun belum baik. Masih suka mengeluh dan menggerutu, masih senang asal dan tak tau aturan. Bagaimana bisa?

Kata seorang ustadzah, islahu an nafs. Mulailah dari diri sendiri. Tuh, selamatkan aqidahmu, benarkan ibdahmu, kokohkan akhlaqmu, luaskan wawasanmu, kuatkan fisikmu, mandiri belum neng? Bisa mengendalikan nafsu pada kefanaan belum? Rapikan urusuanmu, perhatian sama waktumu. dan sudahkah kau memberikan kemanfaatan pada orang-orang disekitarmu?

Sungguh, perbaikan diri adalah titik pangkal dari seluruh perbaikan yang lainnya.

*masih terngiang kisah Asma’ binti Abu Bakar
Dalam perjalanan panjang, 23 Desember 2012

2 tanggapan untuk “Menjadi Ibu Peradaban

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s