Alfa


Alfa

Hujan malam ini baru saja reda, menyisakan butiran basah yang jatuh satu demi satu dari atap rumah, menyisakan rinduku akan hadirmu yang kini mulai manja bergelayut dalam sepi.

Aku berhenti membaca Muqoddimah Ibnu Khaldun yang sedari kemarin jadi kesayanganku, beralih membuka inbox di Hp, begetar dengan senyum tertahan saat mengeja namamu yang terpampang di layar, membuka pesan-pesan pendek yang kau kirimkan padaku beberapa hari belakangan, kubaca cermat satu per satu, kuresapi maknanya, dan berharap temukan celah saat kau tanpa sadar luapkan perasaannmu. Tapi kau selalu bicara dengan akalmu, tak pernah ada celah sedikitpun. Tak ada.

 

Alfa

Barangkali jika aku pejamkan mata saja malam ini, aku bisa resapi makna cinta yang sesungguhnya, yang menjelma biasa jadi udara yang menyejukkan dan menenangkan. Hingga tak kurasa debar-debar aneh tak tentu yang terus saja menyiksa.

Tapi aku takut terlelap begitu saja karena aku begitu lelah. Aku takut kau tak lagi hadir dalam selimut mimpiku, lalu kau hilang dan pergi tanpa bekas, sama seperti hadirmu yang tak pernah tentu.

 

Alfa

Barangkali di sana kau masih terjaga. Berfikir akan hari-hari esok yang bahagia, atau susun rencana paling biadab untuk hancurkan angkara. Ah, ku tebak kau masih betah duduk berlama-lama di depan laptopmu sambil menyesap rokok kesukaanmu. Kuharap kau baik-baik saja.

 

Alfa

Aku selalu ingat malam itu. Malam minggu yang gerimis, malam yang sungguh berbeda dari biasanya. Saat kita berjalan pelan dan canggung menyusuri Slamet Riyadi berdua. Kau genggam tanganku, dan aku begetar, tertunduk malu. Kau bertanya, ini pertama kalinya? Kujawab dalam diam. Lalu kau makin eratkan genggamanmu seolah berkata, Percayalah.

Gerimis yang sejuk, menghangat meresap menyapu pori-pori tubuhku. Kita yang muda, kita yang ingin bahagia, kita yang sama-sama ingin bebas dari jeratan tradisi. Kau bisikan satu kata yang tak ku lupa, malam itu, dibawah gerimis yang hangat, dalam butiran basah yang ciptakan suasana sederhana yang hanya bisa kita maknai sendiri dalam kesan abstrak yang tak bisa kita ungkapkan.

Kita masih benar-benar canggung satu sama lain. Kita masih benar-benar takut orang-orang tahu yang kita lakukan malam itu. Tentu, kau tak bisa sembunyikan bias cemas di wajahmu, Lirik kanan kiri. Sungguh, aku tahu kau pun tak berharap tanpa sengaja temui orang-orang yang kita kenal lalu kacaukan kesederhanaan momen ini.

 

Aku bertanya padamu, takut ketahuan? Kau terkikik pelan dan menggeleng.

Tapi itu bukan jawaban. Karena seringkali kita hanya terdiam dalam raut kecemasan yang tergurat di wajah masing-masing. Sibuk dalam pikiran kita masing-masing yang berserabut liar seperti suara kendaraan bising yang lalu lalang, lalu melamun lurus menatap jalanan yang jauh.

Aku menerka kau sama cemasnya.

 

Alfa

Masih ingatkah kau kata yang kau ucapkan malam itu?

Kau bisikkan ___________

 

Alfa

Tahukah kau betapa menyesalnya aku saat mendadak aku berhenti dan melepas genggaman tanganmu dariku? Tahukah kau betapa aku marah pada diriku sendiri saat aku berlari meninggalkanmu begitu saja? Tahukah kau betapa sesaknya menahan air mata saat aku hendak berbalik dan tak kutemukan kau di posisimu semula?

Benarkah kau pergi begitu saja?

Samar kulihat kau pergi menjauh sambil nyalakan sebatang rokok favoritmu. Aku mendesah pelan.

Setidaknya, kau bawa rokokmu malam ini untuk menemanimu habiskan malam.

 

Alfa

Malam ini aku masih terjaga dan diam-diam membuka facebook dan blogmu, membaca perkembanganmu, berupaya membaca hatimu tanpa pernah memberi komentar atau sekedar meng-klik ‘like’. Tapi tak kau selipkan sesal atau rindumu. Barangkali kau anggap aku tak pernah ada.

 

Alfa

Kau yang pertama kali datang dan angkat aku dari kubangan tradisi yang mengikat. Yang hancurkan tembok kata yang pisahkan dunia kita. Kau pisahkan aku dari buku kesayangan yang memenjarakanku, lalu ajak aku susuri waktu dan hirup asap rokokmu, asap kebebasan dan kemerdekaan.

 

Kau tahu?

Hanya dengan membaca pesan-pesan pendek yang kau kirimkkan itulah aku merasa kuat. Setidaknya sementara waktu menuju pagi ini, aku tahu bahwa kau nyata dan memang benar ada. Dan saat aku merasa letih dan tak bisa berdiri lagi, aku ingin bersandar lagi di bahumu, dan lagi-lagi dengarkan ocehanmu, sumpah serapahmu, atau hirup aroma keringat yang membuatmu maskulin dalam versi otak bodohku, atau kau bisa izinkan aku jadi teman duduk saat kau nikmati tiga-empat batang rokok tiap jamnya.

 

Alfa

Hujan baru reda. Aku sedang baca pesan pendekmu.

Aku rindukan permainan petak umpet kita

 

“Jangan berisik

Jangan beritahu siapa pun

Jangan sampai ketahuan”

 

#tak terjadi dalam kehidupan nyata

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s