ISLAM DAN KESADARAN KEBANGKITAN NASIONAL


Oleh : Alikta Hasnah Safitri

 

Islam Sebagai Simbol Nasionalisme

Kondisi penjajahan dan penindasan yang telah dilakukan oleh Barat melahirkan pemahaman bagi rakyat Indonesia bahwa Islam identik dengan kebangsaan atau Nasionalisme, sedangkan imperialisme atau penjajahan itu identik dengan kristenisasi. Oleh karena itu, Islam menjadi Simbol Nasionalisme Bangsa Indonesia pada saat itu.

Menyikapi hal ini, pemerintah kolonial Belanda merasa perlu berupaya memadamkan cahaya Islam, sebab imperialisme yang dilakukan terhalang oleh kehadiran Islam yang sudah terlebih dahulu menyebar di nusantara.

Upaya yang dilakukan oleh Belanda antara lain :

  1. De-Islamisasi penulisan sejarah Indonesia yang menafsirkan bahwa setelah jatuhnya kerajaan Hindu-Budha di Nusantara berdampak menimbulkan kemunduran bangsa Indonesia.
  2. Penelitian Arkeologi yang menerangkan bahwa masa lalu nenek moyang bangsa Indonesia adalah manusia purba yang tergolong ‘manusia kera’. Sehingga, secara politis mengarah pada pemahaman bahwa bangsa kulit putih adalah manusia beradab yang berhak menjajah bangsa kulit berwarna.
  3. Kehadiran pakar Belanda : Snouck Hurgronje (meneliti Islam di Aceh) dan Van Vollenhove yang berusaha kembali menghidupkan hukum adat untuk menggantikan hukum Islam.
  4. Mengembangkan aliran kebatinan (Kedjawen) di kalangan para priyayi dan pejabat pribumi yang berpihak pada Belanda.
  5. Membangkitkan kesadaran sejarah Hindu-Budha di Nusantara agar pengaruh ajaran Islam melemah, dan ditargetkan penganut Hindu-Budha akan memihak pada pemerintah kolonial Belanda.
  6. Distorsi peta bumi

Disadarkan pada kritik yang dilemparkan oleh Conrad Th van Deventer dalam majalah De Gids yang berjudul ‘Utang Kehormatan’ yang berisi bahwa kemajuan kerajaan protestan Belanda dan pemerintah kolonial Belanda diperolah dengan pengorbanan bangsa Indonesia. Hal ini merupakan utang kehormatan yang wajib dibayar dengan memajukan kehidupan pribumi. Dalam menjawab kritik dari kalangan liberal, Kerajaan Protestan menciptakan tiga macam kebijakan politik : Politik pintu terbuka, politik  etis, dan politik asosiasi. Politik pintu terbuka membawa implikasi dibukanya nusantara Indonesia bagi penanaman modal asing di bidang perkebunan, pertambangan, dan transportasi yang ditandai dengan dibuatnya Undang-Undang Bumi tahun 1870 M. Pelaksanaan politik pintu terbuka ini memerlukan tenaga kerja terdidik, sehingga diberlakukanlah politi etis pada tahun 1901 M dengan triloginya : Edukasi, Irigasi, dan Emigrasi.

Dengan pemberlakukan sistem edukasi yang tidak berdasar kurikulum pesantren, lahirlah generasi yang berorientasi budaya barat. Selain itu, pendidikan juga didiskriminasi dengan diberlakukannya startifikasi sosial dalam sekolah, yaitu sekolah Eropa, Bangsawan, Cina, dan Ambon, sehingga kaum bangsawan dipisahkan hubungannya dengan rakyat.

Menyikapi hal ini, diperlukanlah politik asosiasi, yaitu suatu politik yang bertujuan menciptakan sikap keterbukaan generasi muda Islam : kebergantungan pada budaya Barat.

Emigrasi dilakukan untuk melahirkan generasi yang cacat budaya dan cacat kepahaman tentang Islam. Namun, hal ini gagal terjadi. Sebab, dengan adanya program ini justru terbentuklah kesadaran sesama muslim, yang lahirkan kesadaran sesama musuh yang satukan Islam untuk lawan imperialisme barat.

            Pemikiran Islam dan Nasionalisme

Namun, muncullah pertanyaan, benarkah politik etis yang membangkitkan kesadaran nasional pada abad ke 20 M? tentu tidak. Jiwa gerakan tersebut datang dari pengaruh Timur Tengah, India, Cina, dan Jepang.

Beberapa konstruktor pemikiran gerakan islam yang berpengaruh tersebut diantaranya adalah : Jamalludin Al Afghani (1897 M), Muhammad Abduh (1849-1905), Gerakan Nasionalisme Mesir yang ditandai dengan pemberontakan terhadab Arbi Pasha, dan Rashid Ridha (1865-1935 M) yang menekankan purifikasi pada pemikiran Islam yang ia tuangkan dalam majalah Al Mannar.

Akan tetapi, Imperialisme Barat tak tinggal diam. Mereka merekayasa gerakan nasionalis menjadi gerakan pembebasan diri dari kesultanan Turki. Mereka juga membenturkan antar gerakan puritanisme, sekulerisme, pluralism, dan liberalism sehingga terpecahlah gerakan-gerakan ini untuk saling serang satu sama lain dan mengalami disorientasi untuk melawan imperialism barat.

Faktor utama yang menjadi penyebab terjadinya kebangkitan nasional adalah terbentuknya integritas nasional dalam ‘Nasionalisme dan Revolusi di Indonesia’ oleh Kahin dipengaruhi oleh factor berikut :

  1. Terbentuknya kesatuan agama bangsa Indonesia dengan keyakinan Islam
  2. Islam menjadi symbol terhadap penjajahan asing barat dengan masuknya raja-raja hindu budha ke Islam akibat adanya invasi katolik Portugis di Indonesia.
  3. Perkembangan bahasa melayu pasar berubah menjadi bahasa persatuan Indonesia akibat pelarangan bahasa Belanda untuk dipakai masyarakat Islam Indonesia.

Sjarikat Dagang Islam yang didirikan pada tanggal 16 Oktober 1905 oleh Hadji Samanhudi ini dinilai oleh para sejarawan sebagai pelopor Kebangkitan kembali kesadaran Nasional Indonesia. Keberhasilan SDI adalah lambang awal keberhasilan gerakan pembaruan system organisasi Islam melalui pasar sebagai lahan operasi aktivitasnya. Guna menjaga kontinuitas gerakan, diterbitkanlah Taman Pewarta sebagai media komunikasi yang bertahan selama 13 tahun.

Ditambah lagi, dengan diadakannya kerjasama antar pribumi Islam dan Cina dengan nama organisasi niaganya, Kong Sing. Belanda merasa perlu membangun organisasi tandingan yang di gawangi oleh RMT Adhisoerjo dengan membentuk Sarekat Dagang Islamiyah di Bogor dengan medianya Medan Prijaji. Namun, pada 1911 M, Sarekat Dagang Islamiyah dibubarkan dan diserahkan kepemimpinannya pada Haji Samanhudi.

 

Pergerakan Islam dan Kebangkitan Nasional

Realitas sejarah tentang adanya eksistensi kekuasaan politik Islam di Nusantara semenjak abad ke-9 hingga 20 Masehi digunakan oleh para ulama dan santri untuk menyadarkan kembali kebangkitan politik umat Islam Indonesia. Hal ini dilakukan melalui pembantukan organisasi modern sebagai wahana mobilitas dan mendinamikakan semangat juang umat Islam Indonesia.

Wilayah

Organisasi dan Pendiri

Tujuan

Jakarta Djamiat Choir oleh Sajid Al Fachir bin Abdurrahman Al Masjhoer 1905 M Pencerdasan Umat
Surakarta Sarikat Dagang Islam, Haji Samanhudi 1905 M Gerakan Kesadaran Ekonomi Nasional
Surabaya Oemar Said Tjokroaminoto dengan Sjarikat Islam 1912, sebelumnya di Surakarta tahun 1906 Kesadaran Nasional yang berbasis kekuatan mayoritas rakyat Indonesia
Bandung, Batavia, Surabaya, Madiun
  • – Hadji Oemar Said Tjokroaminoto, Hadjie Agoes Salim, Abdoel Moeis, dan Wignjadisastra memelopori istilah Nasional melalui National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama – 1e Natico di Gedung Concordia atau Gedung Merdeka Bandung 1916
  • – National Congres Centraal Sjarikat Islam Pertama (1e Natico) di Bandung dihadiri oleh 80 Sjarikat Islam local dengan anggota 860.000 orang. National Congres Centraal Sjarikat Islam Kedua (2e Natico) di Jakarta dihadiri oleh 71 Sjarikat Islam local dengan anggota 825.000 orang.
  • – National Congres Centraal Sjarikat Islam Ketiga (3e Natico) di Surabaya dihadiri oleh 87 Sjarikat Islam local dengan anggota 450.000 orang. National Congres Centraal Sjarikat Islam Keempat (4e Natico) di Surabaya dihadiri oleh 83 Sjarikat Islam local dengan anggota 2.500.000 orang.
  • – National Congres Centraal Sjarikat Islam di Madiun 1923 menghasilkan keputusan pemberlakuan Disiplin Partai dan perubahan Sjarikat Islam menjadi Partai Sjarikat Islam. Dengan demikian Sjarikat Islam menjadi pelopor pertama pendirian Partai Politik dari kalangan Pribumi disusul oleh PKI 1924 dan PNI 1928.
Mempelopori memberanikan menuntut pemerintahan sendiri sebagai impelementasi pencetusan nasionalisme
Jogjakarta Persyarikatan Muhammadiyah oleh KH Achmad Dahlan, 18 November 1912 Membangkitkan kesadaran pendidikan nasional melalui organisasi sosial pendidikan
Maja, Jawa Barat K.H. Abdoel Halim dengan Persjarikatan Oelama 1915
Menes, Banten K.H.M. Jasin dengan Mathla’ul Anwar tahun 1915 M
Bandung Moehammad Joenoes bersama Hadji Zamzam dengan Persatoean Islam 1923 M Mempelopori kebangkitan gerakan purifikasi ajaran Islam
Surabaya K.H. Hasjim Asj’ari dengan Nahdlatul Oelama 1926 Membangkitkan kesadaran ulama tentang pentingnya membina kembali kekuatan umat dibawah bimbingan ulama

Fakta sejarah diatas memberi gambaran bahwa kebangkitan Islam memberikan jawaban sesuai dengan tantangan zaman.  Sehingga, dalam waktu yang relative singkat ulama berhasil membangun berbagai organisasi kerakyatan yang memiliki karakter nasionalis.

Akan tetapi Pemerintah Belanda tidak tinggal diam, diberlakukanlah politik pecah belah dengan mempertentangkan perbedaan antara ajaran kejawen, kesundan dengan ajaran Islam, serta mengembangkan pertentangan prasangka etnis.

Mereka juga membenturkan SI dengan PKI, sehingga pecahlah SI menjadi SI Merah (berhaluan komunis) dan SI Putih (berhaluan Islam). Diantara ulama, juga diterbitkan perpecahan antara Ahlussunah Wal Jama’ah dengan penganut Wahabi dalam pertentangan masalah furu’ dan khilafiyah. Bahkan, prasangka tersebut juga dikembangkan antara Semaoen dkk dari Jawa dengan Tan Malaka (yang keren itu lhooo) dari Minang, padahal mereka sama-sama berideologi marxis. Di kalangan Nasionalis (PNI), juga terjadi perpecahan antara Soekarno dan Bung Hatta. Perpecahan tersebut juga tak terhindarkan dengan Partindo dan Gerindo. Sehingga kemudian muncullah Partai Persatuan Indonesia oleh M. Yamin yang berkooperasi dengan pemerintah Belanda.

 

Menyoal Sarekat Islam dan PKI

Perpecahan yang paling rentan memang yang yang terjadi pada SI, sebab SI merupakan organisasi yang benar-benar mendapatkan dukungan masa riil dari berbagai strata sosial dan ulama. Yang terjadi di SI ini memang menarik, sebab dengan menggunakan orang Belanda bernama Sneevliet mereka membelah keutuhan SI.

Aksi mereka diawali dengan membina pimpinan muda SI Semarang pada 1916 M dalam Sarekat Buruh Kereta Api dan Trem (VSTP). Disini, dibinalah seorang buruh KA bernama Semaoen, Darsono, Alimin, dan Tan Malaka yang menjadi kader ISDV dan VSTP. Pada National Congres CSI di Surabaya, kelompok kader ini mulai berani menyerang pimpinan SI untuk mengganti ideology Islam dengan Marxist.

Namun, usaha mereka gagal meskipun dicoba kembali digaungkan pada konggres di Jogja dua tahun kemudian. Akibatnya, Semaoen dan Darsono mengubah SI Semarang menjadi Perserikatan Komunis di India (PKI) pada 23 Mei 1920. Pada 1923, diresmikanlah adanya disiplin partai yang memutuskan menolak ideology Marxist yang dikembangkan PKI dan tidak membenarkan merangkap pimpinan PKI dan SI sekaligus. Konggres juga membentuk partai politik yang pertama, Partai Sarekat Islam. (dua puluh lima tahun kemudian, pada kudeta madiun tahun 1948, PKI membalasnya dengan pembunuhan terhadap ulama dan santri)

Bisa dibayangkan. SI yang semula hanya menghadapi Kristenisasi, Kapitalisme, dan Kebatinan selanjutnya juga harus melawan Komunisme dan fitnah Korupsi.

Disorientasi Sejarah

Dalam buku-buku sejarah, kita akan menemukan bahwa momen kebangkitan nasional bertolak dari kebangkitan pemuda yang diorganisir oleh organisai Boedi Oetomo pada tahun 1908. Dari persfektif nasionalis hal ini tentu benar dan sangat menguntungkan, tetapi tentunya hal ini merupakan salah satu sudut pandang saja tentang periode sejarah awal kebangkitan nasional. Bahwa Boedi Oetomo pada saat itu banyak membantu menyemaikan rasa nasionalisme Indonesia dengan banyak mendirikan sekolah-sekolah memang benar. Tetapi pertanyaan selanjutnya, apakah hanya Boedi Oetomo saja yang menjadi tulang punggung penyebaran kesadaran terhadap penjajah pada sat itu? Dari pertanyaan inilah kita bisa meluruskan sejarah awal pergerakan pemuda.

Ahmad Mansur S sebagai penulis buku Api Sejarah  sejarah tersebut menceritakan bagaimana peran besar Syarikat Islam (SI) untuk menyuemaikan benih-benih kesadaran rasa Nasionalisme yang diikat oleh akidah Islam. Dengan kesaaran nasionalisme yang satukan dalam bingkai akidah Islam ini SI menjdai organisasi yang paling besar, baik dari sisi anggota ataupun gerakan, Di bandingkan dengan Boedi Oetomo yang hanya digerakan oleh segelintir pemuda lulusan Belanda, SI telah menyebar ke hampir setiap pelosok, dan mempunyai pimpinannya masing-masing hampir di setiap daerah.

Di sisi lain, Boedi Oetomo lebih bersifat organisasi primordial Suku Jawa, karena lebih mengakomodir orang-orang yang berasal dari suku Jawa, begitupun bahasa yang digunakan adalah bahasa Jawa. Berbeda dengan Syarikat Islam, walaupun notabene bercorak dan mempunyai ideologi perjuangan politik ekonomi Islam, tetapi bahasa yang digunakan merupakan bahasa melayu yang pada saat itu telah menjadi bahasa pergaulan nusantara. Dengan demikian bila dilihat dari sepak terjang, gerakan, bahasa, yang seharusnya dijadikan pijakan kebangkitan pemuda atau kebangkitan nasional seharusnya bertolak dari gerakan Syarikat Islam bukan Boedi Oetomo. Disinilah rasa keaberislaman para sejarawan Islam Indonesia diuji. Termasuk kita sebagai pemuda Islam harus berani membantah kekuranglurusan sejarah tersebut. Forum seperti diskusi yang kita lakukan saat ini adalah salah satu media efektif untuk peyebaran kesadaran sejarah ini.

Demikian penggalan sejarah yang coba penulis angkat untuk dijadikan pelajaran bagi kita yang hidup di era kini. Perjuangan para ulama (cendekiawan muslim) kala itu adalah perjuangan yang bersumber dari hati nurani. Perjuangan luhur yang berupaya mengentaskan manusia dari penjajahan kolonialisme menuju kemerdekaan yang hakiki.

Sudahkah kita bisa belajar dari apa yang telah diperjuangkan para pendahulu kita? Atau malah lalai dan lari dari tanggungjawab sebagai seorang cendekiawan muslim yang memiliki tanggungjawab besar guna mengentaskan diri kita dari perbudakan terhadap kesewenangan tiran dan menciptakan tuhan baru atas nama popularitas dan jabatan.

Benarlah Ali Syariati dalam bukunya “Tanggung Jawab Cendekiawan Muslim” yang menyatakan bahwa pandangan simbolisasi manusia shaleh tidak bisa dipandang dari sisi bentuk formalitasnya saja, sebab manusia yang tercerahkan adalah “ia dengan tangan yang sama menuliskan ayat-ayat suci dari langit serta terbenam dalam genangan lumpur dan mengayunkan kayu untuk menyuburkan tanah yang kering, ia berdiri tegak memperjuangkan ayat-ayat Allah dan hak-hak masyarakat”

Semoga bermanfaat

2 tanggapan untuk “ISLAM DAN KESADARAN KEBANGKITAN NASIONAL

  1. assalamu’alikum wr wb.
    Subhanallah.. tulisan yang inspiratif..
    mohon ijin untuk menyadur bwt ditampilkan di buletin islam edisi Harkitnas di kampusku ya..
    terimakasih

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s