Lejitkan (Kembali) Spirit Cendekiawan Muslim


Para sarjana dan cendekiawan muslim mempunyai peranan vital untuk menghilangkan ketidakadilan dan penindasan dalam kehidupan masyarakat. Mereka harus mencurahkan tanggung jawabnya secara lebih serius dan menunjukan perhatian yang positif terhadap kebudayaan dan nilai-nilai pandangan dunia Islam. Mereka harus memperjuangkan kebenaran dan keadilan sebagai pejuang-pejuang independen sambil memodifikasi karakter intektual untuk memenuhi kebutuhan dan tuntutan-tuntutan masyarakat kotemporer.

Dalam perkembangan sejarah pemikiran Islam, tidak sedikit tokoh-tokoh cendekiawan dan intelektual yang lahir seraya melakukan rekayasa peradaban masyarakat. Gairah baru yang diajarkan oleh tokoh-tokoh intelektual tersebut, menurut Ali Syariati merupakan gerakan menciptakan kekuatan, menghadirkan kesadaran diri dan pencerahan, serta menguatkan kepekaan politik dan tanggung jawab sosial. Setiap kelahiran tokoh intelektual, paling tidak ada gagasan yang bisa dijadikan rujukan oleh semua kalangan, utamanya dalam penekanan komitmen dan tanggung jawab perjuangannya di tengah-tengah masyarakat.

Bisa dilihat, dalam pemetaan sederhana perkembangan pemikiran intelektual Islam, yang dimulai dari pemikiran klasik Islam, pemikiran modern, sampai pemikiran Islam kontemporer, tidak sedikit yang menghasilkan karya-karya agung yang menjadi patokan para cendekiawan dan intelektual.  Munculnya karya-karya pemikiran klasik seperti Nahj-Al-Balaghah, karya Imam Ali Bin Abi Thalib, terbukti menjadi salah satu tolak ukur intelektualisme dan spritualisme yang tinggi. Berikut karya-karya Al-Gazali, atau pun Ibn Taimiyah, yang menunjukan betapa pemikiran mereka menjadi pondasi dalam membentuk tata desain masyarakat yang dibangun berdasarkan pada pemahaman yang sangat mendalam terhadap Al-Quran dan Sunnah. Terbit pula karya-karya Ibn Sina, Al-Kindi, Al-Farabi, dalam membentuk kesadaran masyarakat yang didasarkan pada penalaran rasional akan konsep-konsep ketuhanan.

Begitu pula perkembangan pemikiran Islam modern yang mencoba melakukan penilaian terhadap dunia modern kaitannya dengan Islam. Adanya Muhammad Iqbal, Muhammad bin Abdul Wahab, Ahmad Khan, Sayyid Amir Ali, Muhammad Abduh, Rasyid Ridha, atau Jamaludin Al-Afghani, adalah para tokoh yanghendak melakukan gugatan dan rekayasa intelektual untuk mengarahkan masyarakat kembali kepada keautentikan ajaran Islam. Rekayasa intelektual yang diciptakan oleh tokoh-tokoh ini berbentuk perlawanan terhadap tradisi Barat.

Pemikiran Islam kotemporer pun melakukan hal yang sama, yakni hendak menghadirkan gagasan intelektual Islam sebagai alternatif terhadap berbagai persoalan global. Penjajahan yang terjadi di belahan dunia, seperti eksplotasi ekonomi, sosial-politik, budaya, dan agama, menjadi keprihatinan tersendiri bagi kaum cendekiawan. Kompleksitas persoalan global mengundang beberapa tokoh intelektual untuk tampil. Di Persia, pernah lahir Allamah Thabathaba’i, Imam Khomeini, Murtadha Muthahhari, Mizbah Ha’iri Yazdi, Sayyid Hasn Nasr, dan Ali Syaria’ti. Di Timur Tengah muncul Hassan Hanafi, Hasan Al-Banna, dan Sayyid Qutb. Di Maroko pernah ada Muhammad Abied al-Jabiri.

Sejak kejatuhan Turki Usmani, dan perampasan kitab para Intelektual Muslim secara besar-besaran yang terjadi saat perang Salib, seolah peradaban Islam telah hilang sama sekali. Jejak-jejak sejarah peradaban Islam hanya dilihat sebatas romantika peradaban yang ideal, tanpa menghubungkannya dengan konteks zaman ini. Sejak keruntuhan Turki Usmani, yang kemudian dimulai dengan timbulnya aliran-aliran atau pergerakan baru yang memiliki misi melepaskan diri dari penjajahan Barat baik secara materiil maupun secara pemikiran dengan melakukan berbagai perubahan telah menjadi dasar yang kuat terhadap kebangkitan Islam di era modern ini.

Pembaharuan dalam Islam atau gerakan modern Islam merupakan jawaban yang ditunjukkan terhadap krisis yang dihadapi umat Islam pada masanya. Kemunduran progresif kerajaan Usmani yang merupakan pemangku khalifah Islam, setelah abad ke-17, telah melahirkan kebangkitan Islam dikalangan warga Arab. Yang terpenting diantaranya adalah gerakan Wahabi, sebuah gerakan reformis puritanis (salafiyah). Gerakan ini merupakan sarana yang menyiapkan jembatan ke arah pembahruan Islam abad ke-20 yang lebih bersifat intelektual.

Katalisator terkenal gerakan pembahruan ini adalah Jamaluddin Al-Afgani (1897) seorang tokoh pembaharu Islam, yang terkenal dengan gerakan Pan-Islamismenya untuk me-redefinisi Gerakan Islam ke dalam perlawanan terhadap Barat secara total. Ia mengajarkan solidaritas dan pertahanan terhadap Imperialisme Eropa, dengan kembali kepada Islam dalam suasana yang secara ilmiah dimodernisasi.

Munculnya Ikhwanul Muslimin pada tahun 1928 sebagai representasi gerakan pemikiran, serta perpolitikan Islam turut memberikan dampak yang cukup signifikan terhadap orientasi gerakan Islam di dalam masa pelepasan diri total terhadap penjajahan Barat. Catatan perjalanan gerakan pembaharu di tengah kejatuhan peradaban umat Islam serta ditengah gempuran penjajahan, imprealisme negara Barat dan penyebaran dogma-dogma pemikiran sekuler Barat memberikan sebuah inspirasi atas harapan bangkitnya gerakan Islam yang mampu mendobrak kebuntuan, setidaknya mampu menandingi hegemoni Barat.

Pengaruh Ikhwanul Muslimin terhadap Gerakan Intelektual Islam pun dijadikan model ideal berbagai macam gerakan baru yang muncul dikalangan mahasiswa Islam, khususnya di Indonesia, bahkan KAMMI (Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia) secara tidak langsung mengambil pola pengkaderan yang hampir mirip dengan pola pengkaderan Ikhwanul Muslimin.

Sementara itu pasca Revolusi Mesir tahun 1971, Ikhwanul Muslimin mengalami masa subur dalam hal pemikiran dan tafsir berbagai kitab-kitab sufistik penting untuk dijadikan pedoman Gerakan Islam yang komprehensif. Kehadiran tokoh-tokoh besar seperti Sayyid Quthb, dan Hassan Hanafi menambah khazanah pemikiran Islam yang cenderung revolusioner dan berkontradiksi langsung dengan Barat. Dengan produktivitas karya pemikiran dan pola pengkaderan yang cukup dinamis inilah Ikhwanul Muslimin dapat tumbuh menjadi gerakan Nasional-Regional sumber inspirasi gerakan sejenis di berbagai negara di dunia saat ini. Walaupun Ikhwanul Muslimin hampir 50 tahun dicap sebagai organisasi terlarang di negara asalnya, namun karya pemikiran serta kejelasan arah geraknya mampu menggugah semangat aktivis Mahasiswa Islam di Indonesia untuk mendefinisikan kembali strategi dalam mencapai kebangkitan Islam.

Pemikiran Hassan Hanafi terhadap Fundamentalisme Islam memiliki relevansi terhadap restorasi gerakan Mahasiswa Islam saat ini. Ideologisasi yang berjalan secara sistematis dipandang sebagai solusi untuk membakar kembali api pergerakan Mahasiswa. Selain itu Hassan Hanafi juga membuat sebuah peta pergerakan dunia dari drama pelarangan Ikhwanul Muslimin di Mesir hingga bangkitnya generasi baru gerakan Al-Jihad, yang pada akhirnya berhasil memimpin rezim baru setelah Revolusi Mesir setelah terbunuhnya Anwar Sadat. Gerakan massa ini di inisasi oleh ide pokok Hassan Hanafi serta Sayyid Quthb dalam mengemban Jihad secara total di dunia pemikiran serta aksiologi pemuda Islam di seluruh dunia yang harus berorientasi pada ketaatan mutlak terhadap Allah maupun niat untuk menentang segala bentuk hegemoni kapitalisme-Barat. Jika kita melihat kebangkitan  Ikhwanul Muslimin, hal ini dapat dijadikan sebagai model baru gerakan Mahasiswa Islam yang saat ini masih terjebak dalam pola kaderisasi semu tanpa memberikan bekal ataupun kesadaran untuk bergerak.

Belajar dari tradisi intelektual Islam, sesungguhnya mereka lahir dari rahim pergulatan wacana pemikiran yang kuat. Kalau kita baca biografi tokoh-tokoh cendekiawan dan intelektual, mereka dibesarkan dari lingkungan yang sarat dengan kesadaran pengetahuan. Selalu ada tawaran gagasan yang mengintari persoalan kemanusiaan, karena tidak luput dari pendidikan yang ketat soal bagaimana menyelesaikan problem masyarakat, bukan problem pribadinya. Apalagi spirit perjuangan yang mereka ajarkan, tak kunjung sirna hingga melahirkan pengorbanan harta dan jiwa yang tiada tara, pun patut dicontoh oleh kaum cendekiawan dan intelektual saat ini.

Sumber : Beberapa referensi googling, diskusi, tasqif, dan lain-lain

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s