Mencari Jalan Pulang


Mengapa aku mencintai KAMMI?

Pertanyaan ini sering terbersit dalam benak saya tanpa pernah saya coba temukan jawabnya secara pasti. Entah, apakah karena cinta itu tak pernah ada, atau karena saya masih yakin sepenuhnya bahwa cinta tak butuh alasan, atau karena tertutupi oleh sekian baris daftar kekecewaan yang saya rasakan selama menjadi bagian dari barisan ini?

Beberapa orang mengatakan mereka mulai jatuh cinta pada KAMMI sejak mengikuti Dauroh Marhalah 1. Saya? Ah, tidak sepertinya. Dauroh Marhalah 1 (DM1) tak memberi kesan yang mendalam bagi saya. Bukannya saya tak memperhatikan, sungguh, saya mencoba berkonsentrasi, memperhatikan setiap detik pemaparan materi, berusaha menyelesaikan tugas dengan baik, berusaha sepenuhnya menjalankan setiap ketetapan maupun peraturan yang digariskan oleh panitia. Nyatanya? Saya gagal menyimpulkan satu ketetapan yang pasti bahwa saya jatuh cinta pada KAMMI setelah mengikuti DM 1.

Saya belum menyerah. Saya lemparkan pernyataan pada diri saya kembali, sekadar untuk meyakinkan. “Mungkinkah kau jatuh cinta sejak mengikuti ICES-Islamic Civilization and Engineering Shool-Sekolah Rekayasa Peradaban Islam?”. Saya ragu untuk menjawab. Berfikir sedemikan panjang untuk menjawab. Namun kembali harus dihadapkan pada jawaban jujur yang tak memuaskan : Tidak.

Bukan, tentu bukan karena ICES. Saya rasakan forum-forum yang kering dari nilai-nilai intelektualitas, miskin diskusi dan dialektika, sekadar ceramah satu arah, Tanya jawab, lalu selesai. Diskusi yang tak diimbangi dengan diskursus dan bacaan komprehensif serta ketidakjelasan materi, yang sekali lagi membuat saya kecewa karena dari sekian banyak buku yang saya baca, tak ada satu pun yang dijadikan landasan dalam berdialektika. Saya coba maklumi itu. Saya coba pahami bahwa inilah kesatuan. Kesatuan pandang dalam menyikapi masalah. Kesatuan arah dalam memandang persoalan. Dan kesatuan gerak dalam menjawab tantangan kehidupan. Ya, karena ini barisan yang bersatu. Karena inilah yang disebut KESATUAN.

Maka mulailah saya coba mencari alasan itu. Jawaban dari pertanyaan “Mengapa” yang normalnya dijawab dengan kata “karena bla bla bla ”. “Karena KAMMI adalah organisasi yang komprehensif. Lengkap dengan gerakan dakwah tauhid, kemamapanan intelektual profetik, aktif berkontribusi secara langsung dalam ranah garap sosial, hingga terjun langsung dalam pergulatan politik praktis di kampus.” Ujar saya mantap ketika salah seorang teman di Lembaga Dakwah Kampus menanyakan “Kenapa anti semangat banget di KAMMI ukh?”

Benar begitu? Ah, jawaban itu tak bertahan lama. Karena pada kenyataannya, saya kembali merasa kecewa pasca didaulat menjadi salah satu staff dalam jajaran kepengurusan KAMMI komisariat Shollahudin Al Ayyubi UNS. Kecewa bukan main. Karena harapan tak sesuai kenyataan? Ya. Karena saya harus menghadapi ketidakidealan disetiap sisi? Ya.

Meskipun pada kenyataannya, sebagai pengurus belum banyak yang bisa saya berikan. Bahkan barangkali tak pernah benar-benar saya hadirkan hati dan totalitas kesungguhan dalam setiap aktivitas, sungguhpun betapa keras saya meyakinkan diri saya bahwa ini normal. Wajar. Tak jadi soal. Semua baik-baik saja. ALL IS WELL.

Bukan berarti saat saya katakan ini, saya katakan bahwa kinerja KAMMI payah. Tak begitu. Saya rasakan betapa KAMMI tetap berusaha untuk bercokol, berusaha untuk tetap eksis dengan memberikan sumbangsih dalam ranah garap sosial, intelektual, maupun pembelajaran politik baik secara teoritis maupun praktis, tak sebatas aksi ‘parlemen jalanan’ semata. Jauh lebih massif dari sekedar mereka yang sibuk bernyanyi dengan nada-nada sumbang dalam upaya destruksi pemikiran, pemandulan kerja-kerja intelektual dan taktis, bahkan hanya sibuk cari massa dan cari sensasi.

Saya hanya rasa ada yang kurang pas. Mungkin saya salah. Mungkin semua baik-baik saja. Mungkin saya yang tak baik-baik saja.

Mengapa aku mencintai KAMMI? Belum juga terjawab.
Maka saya lakukan hal yang lebih radikal, sebuah proses pencarian panjang yang bahkan sampai saya selesai menuliskan tanda titik di akhir tulisan ini, belum bisa saya temukan jawabnya.

Atas ajakan seorang teman, jelang detik terakhir semester pertama, saya putuskan mengikuti Latihan Kader 1 HMI dengan mendapat predikat yang sangat memalukan : TIDAK LULUS. Predikat ini sama sekali tak membuat saya jera, malahan saya semakin antusias dan bergairah. Mulailah saya rutin mengikuti diskusi-diskusi yang diadakan komisariat, membaca buku-buku yang sering dijadikan referensi oleh Kanda-Yunda saya, mengikuti alur berpikir mereka yang bebas, merdeka, tanpa sekat. Sungguh menyenangkan.

Saya semakin tertarik. Mungkin atas dasar hasrat anak muda yang selalu ingin cari hal-hal baru. Entahlah, tak tahu. Mengalir saja seperti itu. Maka saya biarkan diri saya larut dan hanyut mengkomparasikan pemikiran-pemikiran Yusuf Qardlawi dan Mukti Ali. Mulai rajin searching e-book Nurcolis Madjid, Dawam Raharjo, dan Djohan Efendi yang notabene selalu dikaitkan dengan JIL. Meskipun, disisi yang lain selalu disodori buku Fathi Yakan : Robohnya Dakwah di Tangan Da’I dan buku Ust Eko Novianto, Sudahkah Kita Tarbiyah?

Saya sering merasa lelah dan galau, marah dan sedih, jengkel dan kecewa, meski terkadang ada rasa asyik yang menggairahkan saat saya temukan banyak hal baru dalam petualangan saya ini. Beberapa teman mulai katakan saya pengkhianat, selingkuh, dualis, dan lain sebagainya, saya tetap berpura-pura cuek dan lakukan rutinitas saya sebagai pengurus di KAMMI tanpa rasa bersalah. Tetap berusaha professional dan persembahkan totalitas kerja untuk membuat jantung KAMMI yang bernama Kaderisasi ini berdetak—meski tak banyak yang bisa saya lakukan.

Enam bulan berselang, tak ada tanda yang pasti bahwa saya akan akhiri pencarian ini. Saya masih asik masyuk dengan dialektika yang saya lakukan terhadap diri saya sendiri. Sibuk menandingkan pikiran ustadz ini dengan syekh itu. Lakukan destruksi besar-besaran pada konsepsi soal ketuhanan dan kemerdekaan dengan menyandingkannya dengan konstruksi pada landasan dakwah tauhid dan konsep al qiyadah wal jundiyah. Penat. Pusing.

Pada akhirnya, saya tetap turuti dorongan yang begitu bergemuruh dalam dada untuk kembali menjajal mengikuti Latihan Kader 1, tepatnya di Sukoharjo. Berbeda dengan hasil memalukan di LK pertama, di LK yang kedua ini, saya mendapat predikat : Peserta Terbaik yang tak terlantik. Mungkin begitulah rencana yang Tuhan gariskan, agar saya tak begitu kesulitan saat menjadi kader ganda dimana di satu sisi saya masih terdaftar dalam kepengurusan KAMMI namun disisi yang lain menjadi Anggota Biasa 1 di organisasi eksternal yang lain.

Belum lagi usai kisah cinta segitiga ini, saya lakukan pencarian kembali. Kali ini dengan Muslimah Hizbut Tahrir Indonesia (M-HTI) yang diawali dari sebuah seminar yang batal saya ikuti karena lebih prioritaskan ikuti pleno tengah KAMMI. Pasca itu, rutinlah saya mengikuti Focus Group Discussion yang dilaksanakan setiap sepekan sekali dalam komunitas M-HTI.

Dengan pemikiran yang sudah acak-acakan karena belum sempurna terkonstruksi kembali, saya dipaksa benturkan lagi itu pada satu konsepsi pemikiran baru yang masih asing untuk saya. Sempurnalah keGILAan temporal yang saya alami. Ini kisah cinta segi empat namanya.

Sudah demikian banyak yang saya tuliskan. Tapi belum jua sampai pada jawaban atas pertanyaan “Mengapa aku mencintai KAMMI?”. Menjengkelkan ya? Sungguh, tak bermaksud lakukan itu. Tapi memang dengan cara inilah saya belajar mencintai KAMMI. Belajar mencintai dengan adanya acuan kepada sikap kritis dan pertimbangan matang, sehingga pengikutan atas dasar kecintaan itu pun dapat sepenuhnya dipertanggungjawabka­n. Yang membuat saya tidak mencintai secara membabi-buta, akan tetapi tetap kritis dengan pertimbangan akal sehat.

Dengan melalui semua itu, saya dapatkan pelajaran berharga bahwa setiap etnosentris golongan maupun pribadi yang menganggap bahwa dirinya-lah yang serba tahu dan faham, yang anggap bahwa orang-orang diluar diri dan lingkungannya tak mengerti soal kelembagaan, organisasi, wawasan keIslaman dan pengetahuan tak akan hasilkan apapun kecuali kematian intelektual yang menjerumuskan.

Saya mencintai KAMMI secara sadar. Dengan kesadaran itu, saya yakin bahwa KAMMI mampu kembalikan spirit perjuangan yang dulu membara, yang tak akan pernah berkompromi terhadap idealisme walau dibujuk dengan harta dan tahta. Spirit perjuangan yang membentuk pribadi muslim untuk menjadi penegak dalam bergerak mengembalikan kegemilangan Islam.

Karena Aku mencintai KAMMI, aku sedang mencari jalan pulang.
I’ll be a peace seeker, neither gold seeker nor glory hunter (Ayn)

‘Ya Allah, sinarilah hati kami dengan cahaya hidayahMu,
Sebagaimana Engkau menyinari bumi dengan matahari-Mu
Wahai Dzat yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui
Bukalah pintu hati kami dalam waktu yang dekat
Wahai Dzat yang Maha Membuka lagi Maha Mengetahui’

Sebenarnya tulisan ini dibuat untuk event-nya kesekjenan bikin true story tentang Aku dan KAMMI

tapi sekalian aja deh pengin  ngomong ini

  1.  Pergerakan Islam harus menyadari bahwa kekuatan dan jaringan yang dimiliki masih sangat lemah untuk atasi persoalan umat. jangan tanya apa umat sudah jalankan agama ini dengan benar, tapi tanyakanlah pada diri dan pergerakan Islam tempat kalian berafiliasi atasi persoalan umat (Ust E.P)
  2. jangan bersikap irasional dengan jadikan ‘benda’ bernama ‘organisasi’ jadi lebih mahal dari manusia/ tujuan ‘benda’ itu diciptakan untuk manusia (ayn)

-al

4 tanggapan untuk “Mencari Jalan Pulang

  1. teruslah kau cari jalan pulang agar kau tak tersesat di jalan.. teruslah kau berjalan agar kau tak mandek di satu pemikiran. dan teruslah bersama orang2 sholeh..

    Suka

    1. INSYAALLAH

      aku percaya bahwa Allah membuka banyak sekali pintu untuk menemukan ilmu pengetahuan
      🙂
      makanya ngga berhenti mencari, bahkan saataku memutuskan untuk pulang
      pulang ke tempat persinggahan abadi, 🙂

      Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s