Print Culture Ideologisasi Gerakan Tarbiyah di Indonesia


Gerakan Tarbiyah atau usroh merupakan sebuah prototype gerakan-gerakan sejenis yang telah lama berkembang di berbagai belahan dunia Islam. Lebih lanjut, model gerakan ini cenderung mengadopsi pola gerakan Ikhwanul Muslimin[1] yang lahir pada tahun 1928 sebagai representasi gerakan pemikiran serta perpolitikan Islam yang didirikan oleh Imam kharismatik, Hasan Al Banna di Mesir. Ciri khas gerakan ini adalah sistem kaderisasi yang terstruktur, bersifat urban dan berbasis perkotaan, serta menjadikan kampus sebagai basis gerakan.

Tulisan ini akan membahas mengenai ideologisasi yang dilakukan gerakan tarbiyah di Indonesia dan peran media sebagai print culture dalam upaya transfer ideologi.

Lahirnya Gerakan Tarbiyah

Hadirnya gerakan ini di Indonesia tak lepas dari pengaruh rezim otoriterian orde baru yang represif melalui marginalisasi tokoh-tokoh muslim beraliran ‘kanan’ serta pembubaran gerakan-gerakan yang disinyalir fundamental, termasuk penerapan Pancasila sebagai asas tunggal dalam organisasi sosial-keagamaan.

Menjalankan Islam secara menyeluruh dalam setiap aspek kehidupan yang dianggap materialistik dan sekuler merupakan keinginan yang muncul dari sebagian masyarakat Islam Indonesia yang kala itu merasa menjadi ‘korban’ atas kebijakan-kebijakan politik orde baru yang represif dan tidak memihak pada Islam sebagai golongan mayoritas di Indonesia.

Maka, model gerakan Islam yang sebelumnya lebih mengedepankan mobilisasi massa pun beralih melalui proses internalisasi melalui halaqah-halaqah yang beranggotakan tak lebih dari 12 orang, yang melakukan recruitmen dan kaderisasi dengan hati-hati. Yakni melalui gerakan underground yang mengadakan pertemuan rutin yang berpindah-pindah setiap pekannya dari satu masjid ke masjid yang lain, maupun dari satu rumah ke rumah yang lain. Kebanyakan dari mereka bukan berasal dari pesantren dan sejenisnya. Mereka belajar agama Islam secara instan saat menempuh kuliah di pendidikan tinggi, sehingga rasa peningkatan kesadaran beragama tersebut kadang membuat mereka kaku dan merasa berbangga diri dengan identitas kesantrian mereka.

Gerakan ini pun melesat pamornya di beberapa sekolah negeri, menyusup dalam organisasi Islam (Rohis) dan melakukan pengkaderan di sana. Pola pengkaderan yang dilakukan pun cenderung teratur dan sistematis, sebab seorang yang telah dibina selama misal 1 tahun dan dirasa memiliki kepahaman yang cukup akan didaulat menjadi mentor (murobbi) dan bertugas untuk mencari adik binaan dengan ‘ajakan yang baik’. Terus begitu hingga selanjutnya, kader-kader terekrut akan dibina dan nantinya menjadi kader inti pada saat melanjutkan studi di pendidikan tinggi.

Materi kajian yang dibahas bukanlah seperti yang dilakukan oleh limited group yang dilakukan beberapa aktivis Himpunan Mahasiswa Islam yang dimotori oleh Achmad Wahib, Dawam Raharjo, dan Djohan Effendi guna pembredelan Islam dilihat dari kacamata filsafat dan sejenisnya, akan tetapi lebih menanamkan pada beberapa aspek seperti aqidah, ibadah, dan akhlak guna menanamkan nilai-nilai dasar ideologi (fikrah). Mereka kerap menggunakan kosa kata bahasa Arab pada saat penggunaan bahasa Indonesia, seperti : Afwan, syukron, Jazakallah, La ba’tsa, dan lain-lain. Kelompok ini menyebut diri mereka sebagai akhi/ikhwan untuk para pria, dan ukhti atau akhawat untuk para wanita. [2]

Ideologisasi Gerakan Tarbiyah melalui Media

Seiring dengan makin luas dan diterimanya gerakan ini di masyarakat, maka kebutuhan akan materi-materi yang lebih kompleks guna mengideologisasikan tujuan dan cita-cita jangka panjang pun semakin meningkat.

Ismatu Ropi dalam essainya yang berjudul “Membangun Masyarakat Islami dan Ideologisasi Gerakan Tarbiyah di Indonesia”[3] menyatakan bahwa adalah hal yang tak terbantah bahwa gerakan Tarbiyah di Indonesia (sedikit banyak atau bisa jadi sedemikian besar) mengadopsi dalam batas-batas tertentu ideologi Ikhwanul Muslimin yang dikenal militan dan sangat tertarik dengan hal-hal praktis keseharian. Jikapun dikatakan bahwa gerakan Tarbiyah dan IM masing-masing tak saling berkaitan maka keduanya tetaplah akan saling memberi dukungan disebabkan adanya kesamaan motif dan tujuan.

Akan tetapi, seperti yang saya sampaikan di atas, latar belakang para anggota yang bukan berasal dari pesantren maupun perguruan tinggi Islam menghambat transfer ideologi ini. Maka, disinilah peran media cetak sebagai print culture memberikan andil besar dalam proses transmisi gerakan.

Maka, dengan modal jaringan dan mobilisasi massa dan dana yang memadai, diterjemahkanlah berbagai bentuk karya islam klasik dan kontemporer besutan para akademisi lulusan timur tengah atau mereka yang memiliki pandangan ideologis yang relative sama, sehingga pemilihan yang selektif terhadap buku-buku bernuansa Islam pun laris manis diterbitkan oleh beberapa penerbit seperti : Gema Insani Press, Pustaka Al Kautsar, Rabbani Press, Asy-Syamil, dan yang terkahir Era Intermedia. Penulis dan buku yang dijadikan sumber referensi yang diterbitkan diilhami oleh karya-karya tokoh ikhwanul muslimin seperti Sayyid Quthb, Hasan Al Banna, Hasan Al Hudhaybi, dan Yusuf Al Qardhawi.

Tak hanya melalui media cetak, ideologisasi yang dilakukan pun memanfaatkan sejumlah perangkat modern melalui dunia maya, seperti jejaring sosial (akun facebook dan twitter) dan website (dakwatuna.com, eramuslim.com).

Media yang digunakan untuk propaganda isu kontemporer pun lumayan beragam, dari penerbitan beberapa majalah seperti Tarbawi, Sabili, dan Ummi, serta pemanfaatan media elektronik yang tersedia.

Disini kentara terlihat bahwa kelompok ini bukanlah kelompok fundamental anti-modernitas. Sebagai kaum intelegensia santri baru, mereka menempatkan diri sebagai anak-anak zaman yang menggunakan modernitas yang dihasilkan oleh peradaban barat untuk mensubordinasikannya dengan standar ortodoksi keagamaan yang mereka yakini sebagai ideologi sekaligus untuk melawan hegemoni barat itu sendiri.

Menyoroti Print Culture Ideologi Tarbiyah

Adalah hal yang luar biasa ketika jumlah penerbitan buku-buku Islam yang menyokong ideologisasi jamaah ini begitu berlimpah di lapangan. Akan tetapi, cobalah perhatikan! Di titik inilah terjadi disorientasi dan stagnasi, dimana buku-buku yang ada hanya mengautentikkan pemikiran khas Ikhwanul Muslimin tanpa mengkolaborasikan dengan unsur kearifan lokal khas Indonesia, bukan hanya dari segi politik, tapi juga sosial dan kultur. Sehingga yang terjadi seolah hanyalah perpindahan ideologi dari Timur Tengah ke Indonesia. Padahal, seperti yang kita ketahui bangsa Indonesia pun memiliki kearifan lokal tersendiri dengan konteks historis, politik, budaya, dan keagamaannya.

Disini, penulis akan menganalisa kajian yang dilakukan oleh Robert Wuthnow terkait gagasan reformasi protestan yang dimulai pada tahun 1520-an oleh Martin Luther. Ia berpendapat bahwa dinamika hubuangan antara lingkup sosial dan ideologi akan berperan penting dalam proses reformasi. Situasi inilah yang akan memunculkan proses artikulasi gagasan dari actor-aktor yang terlibat di dalamnya.

Proses ini dibagi menjadi tiga tahap : Pertama, tahap produksi dimana ide-ide bermunculan melalui kerja-kerja penulisan dengan print material berupa buku, jurnal, pamphlet, dan sebagainya. Kedua, seleksi dimana para pemikir dan penulis memilih apa yang akan dituliskan sehingga mulai terbentuklah beragam school of thought. Ketiga, adalah proses institusionalisasi dimana mekanisme rutin untuk menyebarkan ide sehingga menjadikan diskursus lebih terlembaga. Dalam pelembagaan inilah akan tercipta komunitas yang diwarnai diskursus yang beragam dari ideology yang saling berkompetisi. [4]

Dan untuk menjawab tantangan itu, berani dan mampukah kita sebagai kader dari Jamaah TARBIYAH melakukan desakralisasi terhadap ideology kita dan mulai membuka kajian-kajian yang lebih terbuka guna konteksualisasi ideology dengan kondisi historis, politik, budaya, dan keagamaan bangsa Indonesia dengan tetap berjalan pada koridor AlQur’an dan Al-Hadits?

Sampai hatikah kita-sebagai pembangun rumah-kemudian melupakan pondasi yang telah ditanamkan oleh kakek-nenek kita terdahulu dan mengingkari pernyataan yang sangat asasi bahwa kita adalah bagian dari masyarakat Indonesia?

___________________________________________________________________________________________________________________________

[1] Ikhwanul Muslimin merupakan gerakan islam Fundamentalis yang paling besar di dunia. Gerakan ini tersebar di 70 negara dengan jumlah anggota dan simpatisan yang diperkirakan puluhan juta orang. Organisasi ini pertama kali didirikan oleh Hassan Al Banna di Mesir pada tahun 1928 dikarenakan kolonialisme yang mengakibatkan permasalahan global kaum muslimin di bidang ekonomi, sosial, politik, dan keagamaan. IM adalah kombinasi dari gerakan salaf Rashid-ridha, reformisme Muhammad abduh, dan pan islamisme Jamaludin Al Afghani.

[2] Adiwena Y. N dalam papernya, Fenomena Code Switching Bahasa Arab di LDK menjelaskan mengenai kesalahan code switching yang sering digunakan para aktivis yang tergabung dalam LDK. Fenomena ini kadang kala melanggar salah satu syarat sebuah bahasa, yaitu sebuah lambang tertentu yang digunakan untuk mewakili konsep yang diwakilinya yang harus dipatuhi oleh semua anggota masyarakat bahasa, atau sering juga disebut Konvensional. Namun sayangnya masyarakat atau mahasiswa yang melakukan Code Switching bahasa arab terhadap bahasa Indonesia ini seringkali tidak memperhatikan situasi kondisi saat mereka mempraktekannya, misal : apakah partner komunikasi mereka telah menyutujui bahwa lambang yang digunakan untuk mewakili suatu konsep yang diwakilinya dalam bahasa Indonesia diganti dengan kosa kata bahasa Arab. Sebab, penggunaannya masih tabu untuk masyarakat Indonesia khususnya. Akibat dari dilanggarnya kaidah Konvensional suatu bahasa adalah sering kali terjadi gagalnya penyampaian informasi yang dimaksudkan dalam bahasa ini.

[3] Ismatu Ropi dalam essainya yang berjudul Membangun Masyarakat Islami dan Ideologisasi Gerakan Tarbiyah di Indonesia mengutip hasil penelitian Tim Peneliti Pusat Bahasa dan Budaya (PBB) IAIN Jakarta : Radikalisme Agama di Indonesia yang laporannya tidak diterbitkan.

[4] Lihat Robert Wuthnow, Communities of Discourse : Ideology and Social Structure in The Reformation, the Enlightment and European Socialism (Cambridge : Harvard University Press, 1989), hal 9-10

Alikta Hasnah Safitri

Staff Kaderisasi KAMMI Kom Sholahuddin Al Ayyubi UNS

2 tanggapan untuk “Print Culture Ideologisasi Gerakan Tarbiyah di Indonesia

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s