Menjelang 19 Tahun


Tak ada yang benar-benar bisa kulakukan untuk mensyukuri setiap hela nafas kehidupan yang telah Tuhan anugrahkan selain dengan berusaha menjalani kehidupan sebagaimana yang telah Ia gariskan dalam peta yang tak berpola di telapak tangan yang senantiasa kubasuh untuk mensucikan diri sebelum menghadapNya. Petak-petak sempit kehidupan masa kecil yang kemudian melebar, merambah pada titik koordinat yang lain, menguraikannya dalam aksara kehidupan yang membelajarkan pada makna-makna.

Akhirnya. Itulah kata pertama di hari pertama umurku yang ke Sembilan belas. Menyusul kemudian Alhamdulillah. Hah belum.. belumm!

Setelah menempuh perjalanan panjang selama 19 tahun ini, dengan sesekali di coba duka dan berulangkali dengan suka, semakin menguatkan keyakinanku bahwa hanya pada Tuhan-lah kita kembali. Pertemuan denganNya lah tujuan akhir kehidupan ini, dan di dunia ini kita bertugas memainkan peran kita masing-masing dengan penuh rasa terimakasih dan tanggungjawab. Terimakasih pada Sang Pemilik Hidup yang telah meniupkan ruh ke jasad yang mati, terimakasih pada dia yang selama Sembilan bulan ringan hati mengandung beban dengan mempertaruhkan segenap jiwa raga, terimakasih pada lelaki yang mencukupi hidup dengan mengorbankan hidupnya sendiri dalam keringat yang deras mengucur dalam pencarian rizki milik-Nya, terimakasih pada sanak kerabat, adik kakak, sahabat baik, yang tak henti memberi luapan semangat yang tiada berperi. Terimakasih untuk jagoan-jagoan kecil, yang bahkan belum bisa kutentukan namanya, yang suatu hari nanti akan lahir dari rahimku untuk meneruskan semangat kehidupan yang menyala-nyala.

Terimakasih pada jalan-jalan yang setiap pagi kulewati saat pergi ke sekolah, terimakasih pada buku-buku yang menyajikan kisah, cerita, dan inspirasi baru, terimakasih pada matahari yang menghangatkan hari-hari yang basah dan sunyi, pada bulan yang dalam setiap periodenya melengkungkan satu senyuman manja milik kekasih, pada bintang yang berkerlap kerlip menyemarakkan langit yang gulita, menuntun arah bagi para pencari kehidupan yang tersesat dalam belukar maupun samudra kehidupan, pada air yang jatuh begemiricik satu demi satu dari atap rumah habis hujan usai, juga pada dedaunan yang mesra mendekap embun kala pagi menyapa, pada lampu-lampu jalan yang tetap menyala saat bulan berselimut awan, hingga pada akhirnya terimakasih jua pada tanah yang akan menerima dan mendekap mesra jasadku suatu hari nanti.

Aku hanya ingin berterimakasih pada siapapun, dan pada apapun. Siapapun yang bahkan pernah menerbitkan lara dan sendu, sebab dengan begitu aku belajar mencintai hidup dengan apa adanya, tanpa tedeng aling-aling, sebab dengan sakit dan luka itu, aku belajar bersahabat dengan topeng dan menari bersamanya, sembari aku menyembuhkan luka hingga hilang meski menghilangkan bekas sayatan yang kentara terlihat. Dan pada saatnya, aku melatih diri untuk berbangga dengan luka-luka lama yang membelajarkan dan melepas topengku. Aih! Hidup ini.

Dalam setiap tahunnya aku membuat target-target yang ingin kucapai, yang pada akhirnya hanya menjadi catatan di selembar kertas tanpa coretan-coretan yang menandai targetku telah tercapai. Aku menarik nafas panjang setiap kali melihat serpihan kertas yang lusuh itu. Mungkin aku saja yang terlalu naïf dengan berfikir bahwa dengan menuliskannya, menatapnya sepanjang hari, berdoa pada Tuhan dan berusaha sedemikian rupa lalu semuanya akan terwujud. Ternyata tidak. Aku harus berbesar hati mengubah kembali target itu, bahkan saat tahun belum berganti. Dunia ini seperti sebuah labirin, kau tahu. Seringkali kita begitu bahagia saat seolah sekian lama perjalanan yang kita tempuh begitu mulus bebas hambatan, dengan riang bahkan kita bernyanyi melagukan nada-nada keindahan, namun mendadak di hadapan ada tembok tinggi menjulang. Jalan buntu ternyata. Mau apa lagi? Berusaha memanjatnya? Menghancurkannya? Atau berbesar hati kembali memutar dan memulai dari titik dimana kau memutuskan untuk memilih jalan yang mengantarkanmu pada kebuntuan itu. Setiap pilihan itu beresiko. Kita semua tahu itu. Akan tetapi kadang diri begitu angkuh dan sombong, berusaha tegar dalam kepecundangan. Padahal dengan mengakui kekalahan dan ketidaktahuan bisa jadi akan membawa kita pada penerimaan-penerimaan yang lebih berarti dari sekedar sikap apologia semata. Penerimaan. Ya, penerimaan. Menerima dengan besar hati dan lapang dada. Menerima segenap kelebihan dan kekurangan dengan penuh keikhlasan. Lalu dengan penuh tanggungjawab mengantarkan penerimaan itu pada pemahaman-pemahaman baru yang mendewasakan. Yah, seperti itu kukira.

Ada banyak hal lagi yang ingin kuceritakan. Tapi sampai disini dulu.

Di akhir ini, ingin kuucapkan terimakasih paling indah pada seseorang yang pernah menemaniku menerjemahkan kehidupan dalam canda tawa masa remaja. Sahabat yang mengizinkanku menjadi manusia biasa, sepenuhnya, seutuhnya. Ingin kusambangi kau di kotamu, lakukan obrolan pagi seperti yang biasa kita lakukan di kelas dulu, hei bukankah masih banyak kepingan kehidupan yang belum kita terjemahkan?

Jika kehidupan memberi kita kesempatan. Ya, lihat saja nanti.

Ulangtahunku masih beberapa hari lagi, 28 Februari (1994) 2013

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s