Merayakan Keberagaman KAMMI


Aku Berpikir, maka Aku Ada

apa saja yang tumbuh memiliki sejenis rencana dasar, dan dari rencana dasar ini muncullah bagian-bagian, setiap bagian memiliki waktu masing-masing untuk mekar, sampai semua bagian bersama-sama ikut membentuk suatu keseluruhan yang berfungsi.”-Erikson[1]

Dalam teori perkembangan kepribadian yang dikemukakan oleh Erikson, ada delapan tahap perkembangan yang terjadi dalam perkembangan identitas seseorang. Perkembangan ini berlangsung dalam jangka waktu yang teratur dan bersifat hierarkis. Delapan tahap perkembangan kepribadian menurutnya, memiliki ciri utama dimana di satu pihak bersifat biologis, sementara di lain pihak bersifat sosial. Keduanya berjalan melalui krisis diantara dua polaritas. Disini, penulis hanya akan membahas mengenai tahap ke-5 dari perkembangan teori kepribadian tersebut.[2]

Dalam cultural studies, saat seseorang menginjak usia remaja hingga 18-20 tahun, sebenarnya ia tengah menjalani masa peralihan dari ketergantungan masa anak-anak menuju otonomi masa dewasanya. Jika orang dewasa menilai masa muda sebagai era transisi semata, kaum muda justru menjadikannya sarana untuk mengungkap identitas diri mereka.

Menurut Erikson, dalam tahap ini pencapaian identitas pribadi dan menghindari peran ganda harus dicapai. Kaum muda haruslah memahami siapa dirinya yang sebenarnya di tengah pergaulan dan struktur sosialnya agar pada akhirnya tidak mengalami kekacauan identitas.

Dalam pencapaian identitas diri tersebut, seringkali kaum muda bertindak sangat ekstrim dan berlebihan. Oleh karena itu, pemberontakan senantiasa mengiri perjalanan pengalamannya dalam mengungkap berbagai penanda ideologis yang menguak gambaran utopis tentang masa depannya. Tak pelak, slogan “Pemuda hari ini adalah pemimpin esok hari” seolah menjadi cambuk yang melecut gairah kaum muda untuk beraktualisasi lebih.

Mahasiswa sebagai bagian dari kaum muda, dengan menggunakan sudut pandang diatas sejatinya memiliki substansi yang sama. Mahasiswa mencoba mengaktualisasikan keberbedaannya dengan melakukan sebuahmovement, antara lain dengan membuat komunitas dengan masuk dalam sebuah organisasi maupun menjadi pegiat diskusi atau kajian.  Ruang diri yang lebih terbuka seolah menjadi identitas baru yang ia identifikasikan dalam kepribadiannya yang khas.

Pergerakan mahasiswa dalam hal ini, menggunakan logika dengan gejala yang sama. “Aku berpikir maka aku ada”, demikian kata Descartes yang kemudian oleh mahasiswa aktivis diplesetkan menjadi, “aku berdiskusi, aku aksi, aku berontak, aku berbeda dari mainstream, maka aku ada”. Mungkin hal ini memang tidak berangkat dari teori an sich, tapi kenyataan-kenyataan yang penulis lihat di lapangan menunjukkan gejala yang relatif sama.

Dua Kutub

Pada dasarnya, dalam setiap ruang, manusia memiliki penyikapan yang beragam atas situasi yang dihadapi.   Penyikapan ini, hemat penulis, bisa digolongkan dalam dua kategori ekstrem, yaitu ‘adaptasi’ dan ‘rekayasa’. Sederhananya, jika kita sedang berada dalam sebuah ruangan yang panas, adaptasi yang kita lakukan adalah dengan menyesuaikan tubuh kita agar bisa menyesuaikan diri dengan lingkungan dengan melepas jaket yang dikenakan, misalnya. Sementara, rekayasa yang bisa kita lakukan adalah dengan mengubah kondisi lingkungan, misal dengan menyalakan kipas angin atau membuka jendela agar terjadi sirkulasi udara.

Demikian pula yang kaum muda lakukan dalam pencapaian identitas kepribadiannya. Dalam dunia aktivis, mereka akan mensekatkan diri pada pengkotak-kotakan idealisme gerakan. Tak hanya bertumpu pada satu mainstream gerakan, tapi tersebar dalam seluruh komponen, baik komponen hobi, minat, bakat, aktivitas politik, keagamaan, dan lain sebagainya. Seringkali terjadi kekacauan identitas antara dirinya dengan entitas yang bersama hidup dalam kelompoknya. Erikson menyebut malignansi ini dengan sebutan ‘pengingkaran’. Ia akan mengingkari keanggotaannnya dalam sebuah entitas tempat ia hidup bermasyarakat dan mencari identitas di tempat lain yang merupakan bagian dari kelompok yang menyingkir dari tuntutan sosial yang mengikat serta mau menerima dan mengakui mereka sebagai bagian dalam kelompoknya.

Hal ini menjelaskan bahwa di lapangan-dalam dunia aktivis, ada beragam kasus yang mengungkap bahwa sebagian orang dari suatu entitas cenderung keluar dari pakem kebiasaan yang melekat di organisasinya karena menganggap bahwa perbedaan yang mereka rasakan harus diaktualisasikan. Disisi lain, mereka memproduksi ide perjuangannya dalam komunitas yang memiliki mind-set seragam. Suatu hal yang kontradiktif memang, tapi patut mendapat apresiasi.

Merayakan Keberagaman KAMMI

Berbicara tentang dunia aktivisme mahasiswa, tak akan berlepas dari keberadaan KAMMI sebagai organisasi yang telah penulis ikuti sejak tahun pertama di kampus. Bagi penulis, mitos tentang internal kammi yang begitu-begitu saja, manut-manut saja, adem ayem saja, statis dan homogen, harus diekspose maknanya.

Sejak masa berdirinya, kenyataan yang heterogen dalam internal KAMMI secara sadar ataupun tidak telahdiingkari (penulis tidak mendapat kata yang lebih halus) oleh kelompok-kelompok internal yang seolah takut membiarkan suara-suara yang tak beraturan berselisih paham dan menimbulkan kekacauan internal. Hingga hari ini, ketakutan akan resiko dan ketidakmenentuan berada pada tingkatan patologis. Keberagaman dalam KAMMI seolah tak disepakati, disetujui, dan bahkan didesak dengan alasan bahwa hal tersebut akan mengikis kesatuan internal.

Pertama-tama, yang harus dilakukan adalah sebuah otokritik terhadap diri kita sendiri berkaitan dengan gagasan tentang identitas dan perbedaan. Hal ini terjadi karena KAMMI untuk waktu yang lama telah terjerat dalam jalan buntu dialektika yang dibuatnya sendiri. KAMMI perlu menerima, mengenali, dan bahkan merayakan keberagaman internal di dalam dirinya.

Perlu disadari bawa keberagaman adalah sebuah fakta kehidupan dan ciri yang bisa ditemui dalam semua peradaban. Untuk bisa terlibat dalam dialog yang bermakna dengan gerakan lainnya, KAMMI harus memulainya dengan membuka dialog ke dalam dirinya sendiri. Ini hanya dapat terjadi jika kita belajar menerima perbedaan-perbedaan internal kita dengan menerima secara bijak kehadiran suara-suara baru yang bisa jadi berbeda dari mainstream kebanyakan.

Mengontrol energi dan suara internal yang berbeda bukanlah dengan menghapus atau meniadakan kehadiran energi dan suara itu sendiri. Bahkan, cara tersebut hanya akan membuat suara-suara yang tersumbat itu bermutasi dan menyembunyikan diri menjadi suara-suara sub-altern yang beragam, gerakan bawah tanah yang tersembunyi, dan semakin memperparah ketidakstabilan organisasi.

Jika memang internal KAMMI ingin menciptakan kondisi sosial yang kondusif agar tak menghambat kinerja organisasi, maka, membuka pintu perbincangan, pikiran, dan perbedaan dalam diri KAMMI sendiri adalah solusi ideal yang bisa diterapkan secara berkelanjutan.

Selama ini, kita seolah menunjukkan pada diri kita sendiri dan yang lain potret wajah KAMMI yang tunggal dan homogen, padahal kita sadari betul bahwa ada begitu banyak suara dan wajah beragam yang membentuk potret KAMMI secara utuh. Pengakuan terhadap keberagaman ini tak hanya akan memperindah perwajahan KAMMI, tapi juga membuat kita lebih jujur.

Bukankah mengenali keberagaman yang ada dalam diri kita akan membuka jalan untuk mengenali kebergaman yang lain-lain juga?

 

Penutup

Dalam teorinya, Erikson mengatakan, kesetiaan akan diperoleh sebagai nilai positif yang dipetik setelah melewati tahap ini. Kesetiaan yang ia maksud memiliki makna tersendiri, yakni kemampuan hidup berdasar standar yang berlaku di tengah masyarakat terlepas dari segala kekurangan, kelemahan, dan ketidakkonsistenannya.

Pada akhirnya apapun yang dilakukan oleh sebagian dari kader KAMMI yang ‘berbeda’ dari mainstream adalah dalam rangka mencari identitas diri. Insya Allah, tak ada satu aktivitas pun yang sia-sia. Jika memang yang dilakukan itu berangkat dari keyakinan yang teguh akan kebenaran yang diperjuangkan, maka biarlah Allah menilainya sebagi kebaikan, tetapi apabila ternyata salah, minimal menjadi pelajaran untuk dirinya sendiri.

Billahi taufiq wal Hidayah.

[1]Erik Erikson (lahir di Frankfurt-am-Main, Jerman, 15 Juni 1902 – meninggal di Harwich, Cape Cod, Massachusetts, Amerika Serikat, 12 Mei 1994pada umur 91 tahun) adalah seorang psikolog Jerman yang terkenal dengan teori tentang delapan tahap perkembangan pada manusia. Sebenarnya Erikson adalah seorang psikolog Freudian, namun teorinya lebih tertuju pada masyarakat dan kebudayaan jika dibandingkan dengan para psikolog Freudian lainnya.

Erikson menjadi terkenal karena upayanya dalam mengembangkan teori tentang tahap perkembangan manusia yang dirintis oleh Freud. Erikson menyatakan bahwa pertumbuhan manusia berjalan sesuai prinsip epigenetik yang menyatakan bahwa kepribadian manusia berjalan menurut delapan tahap. Berkembangnya manusia dari satu tahap ke tahap berikutnya ditentukan oleh keberhasilannya atau ketidakberhasilannya dalam menempuh tahap sebelumnya. Pembagian tahap-tahap ini berdasarkan periode tertentu dalam kehidupan manusia: bayi (0-1 tahun), balita (2-3 tahun), pra-sekolah (3-6 tahun), usia sekolah (7-12 tahun), remaja (12-18 tahun), pemuda (usia 20-an), separuh baya (akhir 20-an hingga 50-an), dan manula (usia 50-an dan seterusnya)

Masing-masing tahapan juga memiliki tugas perkembangan sendiri yang bersifat psikososial. Misalnya saja, pada usia bayi tujuan psikososialnya adalah menumbuhkan harapan dan kepercayaan. Kemudian bila tujuan ini tak tercapai, maka bayi itu akan lebih didominasi sifat penakut. (sumber :http://id.wikipedia.org/wiki/Erik_Erikson)

[2] Delapan tahap perkembangan kepribadian menurut Erikson

Developmental Stage and Basic Components

Infancy (0-1 thn) Trust vs Mistrust

Early childhood (1-3 thn) Autonomy vs Shame, Doubt

Preschool age (4-5 thn) Initiative vs Guilt

School age (6-11 thn) Industry vs Inferiority

Adolescence (12-20 thn) Identity vs Identity Confusion

Young adulthood ( 21-40 thn) Intimacy vs Isolation

Adulthood (41-65 thn) Generativity vs Stagnation

Senescence (+65 thn) Ego Integrity vs Despair

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s