Mencoba Bangkit (lagi)


Selama ini, kita seringkali merasa pesimis, diliputi keraguan yang tak beralasan untuk sebuah janji kehidupan yang lebih baik di masa yang akan datang. Kita seolah merasa bahwa kita begitu kecil. Tak ada artinya! Hanya partikel debu halus di tengah hamparan sahara alam semesta. Ya, rasanya begitu.

Lalu, kita jadi malas terlalu banyak bicara, sebab kata mereka, “Talk less, do more.” Kita merasa bahwa yang kita ucapkan pun sebenarnya tak berharga, telah hadir beragam hasil telaah  yang ilmiah, yang lebih dulu diucapkan oleh orang-orang besar sebelum kita.

Lalu kita pun bertanya, “untuk apa bicara?”, “buat apa bertanya?”

Makanya, kita selalu diam saat ditanya, “Ada pertanyaan?”, menunduk lebih dalam sambil berpura-pura menulis atau memainkan pulpen dalam sebuah diskusi, hanya karena kita merasa malu dan tak layak.

Kita pun, pada akhirnya jadi diam dalam sebuah seminar, meski berbagai pertanyaan membuncah di awang-awang pikiran, namun merasa bahwa pertanyaan kita hanya sampah yang tak layak diucapkan di tengah forum yang besar, diliputi keraguan saat semua tatapan mengarah pada kita yang sedang berbicara, merasa down seketika saat moderator mengatakan bahwa pertanyaan kita terlalu berbelit-belit, dan bahkan menggunakan logika berpikir yang keliru.

Kita pun terduduk, dengan beragam pikiran yang berkecamuk. Diam dalam lamunan masing-masing, dengan tangan yang basah karena gemetar, dan wajah yang memerah dan panas karena menahan malu.

Lalu, kita tak ingin mencoba untuk berbicara lagi.

Dan, kau mulai mengingat, kiranya sejak kapan perasaan itu menderamu. . . .

***

“Bisa jadi, orang-orang mengenalmu-dulunya, sebagai seorang yang terlampau aktif dalam urusan ‘omong besar’, bicara panjang panjang dengan bahasa yang membuat sebagian dari mereka mengerutkan kening tanda bingung, tak mengerti. Lalu, suatu kejadian menghantammu, membuat kepercayaan dirimu hancur luluh tak bersisa.

Peristiwa yang sayangnya, justru disebabkan oleh kawan-kawanmu sendiri, kakak-kakakmu yang luar biasa baiknya, yang mengharapkanmu ‘kembali ke jalan yang benar’, bebas dari pemikiran aneh-aneh yang kau ungkapkan berulang kali.

Mereka datang dengan senyum dan kalimat manis yang justru mematikan. Membuatmu gemetar dan jantungmu berdegup lebih cepat dari biasanya, diliputi kekhawatiran yang teramat bahwa mereka telah membicarakanmu dibelakangmu ‘lagi’, bahwa mereka kecewa padamu, bahwa mereka berharap ‘KAU BISA MEMPERBAIKINYA’, sementara kau malah tak yakin dimana letak kesalahanmu.

Sayangnya, kini kau justru merasa tertekan, dan semakin terhimpit dalam ketakutan tak beralasan saat berda di tengah kumpulan yang dulu kau sebut ‘keluarga’ berlabel ‘ukhuwah’, sejak saat mereka dengan tanpa sengaja membunuh percaya dirimu, keyakinanmu akan dirimu, hingga tak bersisa.”

(Baiklah, aku sendiri yang membunuh diriku.)

***

Kau tahu, bahwa pada dasarnya kau bukanlah seorang ‘pendiam’ yang tak punya gagasan, unek-unek, kau ingin selalu bercerita tentang hal-hal yang mendadak terlintas di pikiranmu, membayang di benakmu.

Tapi ketakutan yang tak beralasan itu selalu menghantuimu, bahwa saat kau bercerita pada orang lain, ia akan menceritakannya pada orang lain lagi, orang lain lagi, orang lain lagi, entah hingga orang ke berapa.

Kau hilang percaya pada sahabat-sahabatmu sendiri.

Lalu kau mulai mencari ruang yang menerimamu, bersedia ‘menerima’

Nyatanya, tak pernah akan tersedia tempat yang tanpa syarat.

Kau tahu itu, bersyukur mengetahuinya sebelum kau melangkah lebih jauh dan terlambat memperbaiki semuanya.

***
Kini, kau berharap bisa melupakan semuanya dan mulai menumbuhkan keyakinanmu akan dirimu, dan membuang sedikit demi sedikit keraguan yang selama setahun terakhir menebal dalam diri.

***

Pada akhirnya, aku menyadari kekeliruanku dalam memahami makna ‘peran’ dan ‘tanggung jawab’ hanya karena paradigmaku tak beranjak dari kesatuan imaginer yang terbentuk dalam komunitas ini. Aku tak menyadari bahwa pada dasarnya setiap dari kita adalah pribadi-pribadi merdeka yang berkewajiban memberi sumbangsih gagasan dan kontribusi nyata tanpa terikat dalam struktur dalam sistem yang melembaga.

Atas kesalahan cara berpikir itu, aku melakukan satu kesalahan besar. Kebergantungan pada segelintir orang yang ku rasa ‘lebih layak’ karena ‘lebih sholeh’, ‘lebih kontributif’, level kaderisasinya lebih tinggi, dan lain sebagainya.

Sehingga seringkali, aku tak berani berasumsi, tak berani menerima tanggungjawab untu menjawab tuntutan hidup karena pesimisme itu.

“Dia lebih sholeh, aku tak layak

Jenjang kaderisasinya lebih tinggi, aku ngga berharga

Sadar posisi, siapa kamu, siapa mereka?”

Astaga, siapa yang mengajarkanku membuat ‘kasta’ macam ini?

Kerja perubahan adalah kerja kolektif  yang tak dibebankan pada segelintir orang saja (yang lebih sholeh dan jenjang kaderisasinya lebih tinggi), tapi setiap usaha sekecil apapun dengan usaha yang terjangkau oleh kemampuannya, di arena bidang garapnya masing-masing, meski hanya berupa serpihan-serpihan adalah hakikat kerja yang terbingkai cinta dan keikhlasan.

Kita semua memiliki peran.

 

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s