KARENA KITA ADALAH KAMMI


ini adalah sebuah catatan yang kutulis di awal perkenalanku dengan KAMMI saat pertama kali menginjakkan kaki di bangku kuliah. dan  mendadak semua yang kutulis disini, menjadi berbeda, dengan apa yang kutulis belakangan ini. ternyata, waktu bisa mengubah segalanya…

Apa yang pertama rekan rasakan saat pertama kali terlibat dalam suatu aktivitas da’wah?

Barangkali yang akan muncul dalam benak rekan sekalian ketika pertanyaan sederhana ini saya lontarkan adalah sebuah kenangan manis bercampur getir yang rekan alami di awal mula perkenalan dengan da’wah ini. Akankah sebuah senyuman yang tergurat di wajah sebab merasakan bahagia dan syukur teramat dalam karena telah diberi kesempatan mengenal dien yang kita cintai bersama ini? Ataukah, sebuah emosi yang tertahan jauh di dalam jiwa seketika terpantik untuk menyala, manakala teringat bahwa keterlibatan kita disini murni bukanlah atas dasar keikhlasan serta ketundukan hati, melainkan paksaan dari kakak tingkat atau murobbi.

Tentunya, akan ada banyak ekspresi lain yang akan terjabarkan ketika kita kembali mengingat awal mula menapaki perjalanan kita yang masih teramat panjang ini, dan pastinya akan ada lebih banyak ekspresi yang tersirat dalam gurat wajah ketika kita tengah menempuh perjalanan ini. Bias getir air mata? Kekecewaan yang parah? Rona pias manakala genting menyapa?

Setiap kenangan yang terhampar menyisakan jawaban atas pertanyaan. Dan setiap jawaban akan menciptakan satu pertanyaan baru lagi untuk dijawab. Demikianlah da’wah mengajarkan pada kita, bahwa jalan ini amat sangat panjang dan berat, boleh jadi malah tak berkesudahan.

Saya mengenal KAMMI jauh sebelum saya menginjakkan kaki saya di kampus. Waktu itu, saya masih anak kecil polos dan lugu yang memproklamirkan diri sebagai Aktivis Dakwah Sekolah. Bukan karena saya berada di kota besar serta saya mengetahui langkah dan gerak perjuangan KAMMI maka saya terobsesi. Bukan, bukan itu. Bahkan, yang saya ketahui tentang KAMMI sangatlah jauh pucuk dari akar. Mendengar KAMMI pun hanya lewat kisah dan cerita singkat murobbi mengisahkan perjuangan yang dulu dilalui hingga akhirnya da’wah dikenal dan tak lagi terkesan eksklusif dan saklek.  Selebihnya, saya tak tahu dan tak mau tahu.

Bagi saya, KAMMI tak lain hanya sebuah wajihah dakwah. Ia memiliki kedudukan dalam taraf yang sama dengan Lembaga Dakwah Kampus (LDK) maupun forum-forum lain yang bergerak dalam spesialisasinya masing-masing, entah di bidang kepenulisan maupun sosial. Dan saya yakin, tentu saja masih banyak wasilah dakwah lain yang terhampar dan menanti kontribusi dari saya.

Awalnya, tak ada niat sedikit pun untuk bergabung dengan KAMMI. Alasan saya cukup jelas kala itu. Begitu mengetahui kepanjangan dari nama KAMMI, yakni Kesatuan Aksi Mahasiswa Muslim Indonesia. Saya langsung antipati dan menolak segala bentuk hal yang berhubungan dengannya karena satu suku kata itu, AKSI.

Barangkali rasa antipati ini muncul sebab trauma mendalam karena aksi pertama yang saya ikuti saat SMA (saat itu saya mengikuti aksi kepedulian untuk Palestina dengan memboikot produk-produk Yahudi laknatullah). Karena hal itu, esoknya guru Kewarganegaraan di SMA saya menyindir habis-habisan tindakan aksi yang saya ikuti dengan tak lupa sedikit ‘mendelik’ ke arah saya. Saat itu saya baru kelas 1 SMA, benar-benar drop, down, mati kutu, apapun namanya itu.

Dengan adanya kata AKSI itu, saya memasung sama sekali keinginan saya untuk bergabung dengan KAMMI. Cukuplah saya memberikan kontribusi saya untuk dakwah di LDK di kampus manapun saya berada nantinya, begitu pikir saya.

Semakin menguatkan pemikiran saya kala itu, saya pun membuat dalih macam-macam dalam otak saya (Ah, ciri pertama anak siyasi : suka membikin dalih). “Memangnya kenapa kalau saya tidak ikut KAMMI? Toh, bukan KAMMI yang saya junjung tinggi. Hanya Allah dan Rasul-Nya yang wajib saya bela sampai mati.”

Jadi, meskipun ketika itu murobbi berkisah lagi tentang KAMMI, atau ketika mbak dan mas saya yang lebih dulu melanjutkan studi ke perguruan tinggi mengatakan bahwa mereka masuk dan bergabung bersama KAMMI, saya kukuh dan kokoh, tak tergoda.

Sampai di suatu kesempatan, saya bertanya pada seorang kakak yang saya kenal baik sejak SMA. “Mbak, kenapa memilih KAMMI, bukan *** (organisasi mahasiswa Islam yang lain_yang tidak ada kata AKSInya)?”

Dari hasil diskusi dengan beliau, saya pun belajar dengan menyimpulkan.

“Ya. KAMMI tak lain memang hanyalah sebuah wajihah dakwah. Namun dengan menunjukkan kata HANYA, tak berarti ia tak memiliki arti penting dalam perjuangan dakwah ini. Berada di dalamnya pun bukanlah suatu perkara yang mudah. Tak seperti di Lembaga Dakwah Kampus maupun organisasi mahasiswa internal lainnya yang memiliki suplai kader berlimpah, KAMMI memiliki kader aktif yang relatif sedikit. Saat berada di KAMMI akan menjadi sangat membosankan. Sedikit yang kita dapatkan, namun begitu banyak yang harus dikorbankan. Melelahkan, karena ia menuntut begitu banyak perhatian dari kita. Menyebalkan, karena tak semua orang didalamnya sejalan dengan pemikiran. Bahkan menakutkan, lantaran resiko besar yang siap menghadang kapan saja.”

Setelahnya, bukannya saya semakin termotivasi untuk tetap meneguhkan pendirian saya dengan menolak KAMMI dalam hidup saya. Malah saya semakin kagum dengan keberjalanan wajihah dakwah yang satu ini.

Nyatanya, dengan segenap problematika yang ada. Dengan minimnya suplai kader dan dana, dakwah KAMMI tetap eksis dalam kancah perpolitikan mahasiswa hingga sekarang. Ia tetap kokoh berdiri meski ribuan tangan berusaha merobohkannya. Bahkan dari rahimnya senantiasa lahir sosok-sosok pemimpin yang teguh membawa misi juang sebagai ‘Director of Change’. Sebut saja Mas Wachid, Mas Berry, Mas Umam, Mas Arip, Mas Arif, Mas Galih. Mereka semua adalah kader KAMMI yang luar biasa bukan?

Jika diibaratkan, maka KAMMI tak lain adalah sebuah perahu yang berlayar di atas samudra kehidupan. Sedang kita yang berada didalamnya, masing-masing adalah nahkoda serta awak kapalnya. Apakah kita hendak mengikuti aliran arus kemanapun ia membawa kita tanpa perlu bersusah payah mendayung, ataukah kita hendak membawa bahtera ini melawan dinamika arus yang ada dengan mengokohkan eksistensi kita lewat dayungan dari tangan-tangan yang kokoh serta hati-hati yang tangguh?

Akankah jika bahtera kita terhempas ombak dan menabrak karang yang kokoh hingga terjadi chaos padanya kita akan menyerah dan rela menceburkan diri ke laut untuk menyelamatkan diri, ataukah kita tetap berada didalamnya dengan menanggung segala resiko yang ada?

Ya, semua kembali pada kita.

Maukah kita berada di dalamnya atau tidak. Semua bergantung pada kemauan kita. Toh, seperti yang saya katakan di awal tadi. KAMMI bukanlah satu-satunya wajihah dakwah.

Dan kini, disinilah saya berada.

Baru beberapa bulan memang. Ya, baru sebentar. Belum ada getar-getar aneh pertanda cinta yang menggebu didalamnya. Meski demikian, ada amarah yang bergemuruh di dada manakala orang lain mengatakan hal yang buruk tentang KAMMI. Katanya, KAMMI ini lah, itu lah. Saya yakin, pasti rekan semua lebih tahu dari saya pribadi.

Namun, seperti kata Imam Hasan Al Banna dalam Bainal Amsi Walyaum (Antara Kemarin dan Hari ini)_sebenarnya saya mengutip ini dari buku Fathi Yakan yang berjudul Komitmen Muslim Kepada Harakah Islamiyah.

“Setiap pemerintahan akan membatasi gerak langkah kalian serta menaburkan duri-duri di jalan yang kalian tempuh. Para perampas akan berjuang dengan segala cara untuk menyerang dan memadamkan cahaya dakwah kalian.

……

Semua orang akan menaburkan debu-debu keraguan di sekitar dakwah kalian dan melancarkan tuduhan-tuduhan tak beralasan kepadanya. Mereka akan berusaha untuk mencari-cari setiap kekurangan di dalam dakwah kalian serta mengeksposnya kepada khalayak ramai setelah dimanipulasi seburuk mungkin dengan bantuan kekuatan dan kekuasaan mereka, berbekalkan harta dan pengaruh yang mereka miliki.

Mereka ingin memadamkan cahaya Allah dengan mulut-mulut mereka, padahal Allah akan menyempurnakan cahayaNya, meskipun orang-orang kafir tidak menyukainya.’  (Ash-Shaff:8)

……

Namun, Allah SWT menjanjikan bahwa setelah itu semua berlalu. Akan ada pertolongan bagi para mujahidin serta pahala bagi orang-orang yang bekerja secara ihsan.

MAKA AKANKAH KALIAN TETAP TEGAR MENJADI PEMBELA AGAMA ALLAH?”

Saya menjawab seruan ini, rekan. Dan saya pastikan, anda pun demikian.

Karena saya adalah KAMMI. Karena anda adalah KAMMI.

Karena kita adalah KAMMI.

 

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s