Bedah Buku ‘Waktunya Tan Malaka Memimpin’


Tan Malaka adalah sosok yang jarang dikenal oleh generasi saat ini. Sekalipun, saat orde lama ia pernah ditepakan sebagai pahlawan nasional oleh Soekarno, akan tetapi foto, biografi, dan kisah kepahlawanannya seolah tenggelam selama berpuluh tahun lamanya seiring dengan keberjalanan Republik Ini.

Saat mengetahui ada sebuah buku berjudul ‘Waktunya Tan Malaka Memimpin’, yang kemudian menjadi pertanyaan adalah. Siapa Tan Malaka? Mengapa Tan Malaka? Dan sejauh mana relevansi gagasannya berpengaruh di era sekarang?

Penulis-Eko Prasetyo, menguraikan alasan mengapa ia menulis buku ini dalam bedah buku yang diselenggarakan LPM Kentingan, siang ini(10/6) dalam tiga poin berikut.

Pertama, karena tokoh kiri tak pernah diangkat dalam sejarah Indonesia. Memang, sejauh yang saya ketahui, saat melanjutkan studi di Rijks Kweekschool Belanda pada 1913, ia mengenal beragam pemikiran, termasuk Marxisme-Leninisme yang kemudian diadopsinya sehingga relevan diterapkan bagi bangsa Indonesia.

Kedua, karena gagasan Tan Malaka masih sangat relevan. “Kemerdekaan 100%” yang menjadi cita-cita Tan Malaka merupakan inspirator perdana lahirnya konsep negara yang berdaulat pasca kemerdekaan, dimana istilah Republik Indonesia pertama kali dicetuskan olehnya, empat tahun sebelum pledoi Indonesia Merdeka Muhammad Hatta. Gagasan yang kemudian pun diwariskan pada ‘binaan’nya, Bung Tomo, yang seperti kita ketahui bersama, begitu berapi-api dalam orasinya saat perang mempertahankan kemerdekaan Indonesia.

Ketiga, di tengah miskinnya visi aktivis pergerakan, dimana setiap kali diskusi menemui jalan buntu, maka lagi-lagi kalimat yang muncul adalah “Mari kita kembali ke Pancasila”, atau “Mari kita kembali ke manhaj..”, bla bla bla. Ia menolak jalan-jalan diplomasi yang ia yakini sebagai jalan yang tidak meyakinkan. Keyakinan untuk merebut kemerdekaan dengan tangan sendiri, ia buktikan sebagai jalan juangnya membela Republik.

*

“Sejarah hidup Tan Malaka adalah jalan hidup seorang martir. Begitu tegar. Asketisme yang luar biasa. Ia begitu meyakini kekuatan agama dengan spirit Islam”, Demikian Ungkap Eko Prasetyo, sang Penulis buku ‘Saatnya Tan Malaka Memimpin’ itu.

Memang, salah satu tesis Tan yang terkenal adalah integrasi semangat Pan Islamisme dan komunisme guna melawan rezim kapitalisme, yang ia sampaikan dalam pidato mewakili PKI di Rusia tahun 1920. Ia meyakinkan komunis Rusia bahwa Islam adalah agama untuk pembebasan rakyat dari kolonialisme yang ia dasari pada perkembangan Sarekat Islam di Hindia Belanda (Meskipun SI pada saat itu pecah menjadi dua, hingga pada akhirnya PKI lahir).

Tan sendiri, selain senantiasa menyuarakan kesadaran kolektif massa dan persatuan guna melawan imperialisme juga menyuarakan ketidakpercayaannya pada sistem parlementer yang menurutnya hanya berpihak pada mereka yang memiliki kekuasaan. Ia mengusulkan agar negara dikelola oleh organisasi konvensional, misal: organisasi sosial, bukan Parpol. Sehingga, pengelolaan negara digantikan oleh perwakilan blok-blok.

Menyoroti pemilihan umum raya di berbagai kampus di PTN/PTS di Indonesia, agaknya memang mengkhawatirkan. Pemilihan ketua BEM didasarkan pada suara mayoritas dengan mekanisme yang sama sebagaimana ditetapkan dalam Pilkada. Mahasiswa seolah tak memiliki gagasan genuine dalam berpolitik, tertampilkan jelas lewat bagaimana foto calon dan orasi-orasinya yang tak jauh berbeda dengan para politikus yang berebut suara di Pilkada. Memprihatinkan!

Bagi Tan Malaka, kemerdekaan 100% harus ditegakkan, dengan parameter : semua sektor penting harus dikuasai oleh negara, termasuk pendidikan. Nah, pertanyaanya bagaimana pendidikan ala Tan ini diterapkan?

“Pendidikan harus menghasilkan tiga aspek ini lahir pada diri siswa : Rasionalitas, Kemauan yang keras, dan menghaluskan perasaan.”

Perlu diketahui pula bahwa sebelum ia berangkat ke pembuangannya, ia telah mendirikan sekolah-sekolah rakyat dengan menguraikan dasar tujuannya yaitu : dikuasainya ilmu alam dan bahasa, pendidikan berorganisasi, serta pendidikan yang berpihak pada kepentingan masyarakat.

***

Panelis Bedah buku kali ini, Kanda Ekanada Shofa (Dosen FISIP UNS), mengungkapkan tangggapannya atas buku ‘Waktunya Tan Malaka Memimpin’. Selain mengomentari tampilan buku yang menarik karena disertai dengan kartun dan ilustrasi yang memikat, ia juga berkomentar soal substansi buku tersebut.

“Ide-ide Tan Malaka harus memimpin sebab ide yang ia kemukakan masih sangat relevan di era sekarang dimana lawan yang kita hadapi bukan hanya imperealisme kapitalis, tetapi juga mentalisme feodal.”

***

Setelah pemaparan dari Kanda Eko (alumni HMI juga, katanya) dan tanggapan dari Kanda Eka, saya pun mengajukan pertanyaan : “Salah satu alasan Pak Eko menulis buku T.M ini adalah karena skeptis terhadap visi aktivis pergerakan yang setiap kali menemui jalan buntu, maka dikembalikan pada kalimat normatif seperti kembali ke pancasila atau ideologi organisasinya. Nah, disini bapak mengatakan bahwa Tan Malaka menyegarkan kita dengan tesisnya mengenai integrasi antara Pan-Islamisme dan Komunisme. Nah, disini ada yang aneh. Pan Islamisme itu kanan mentok, sedang komunisme itu kiri njeglek, bagaimana proses integrasi itu bisa terjadi, dan apa implementasinya bagi aktivis pergerakan di era sekarang?”

Berikut jawaban dari kedua pembicara :

Pak Eko Prasetyo :

Komunisme dan Islam itu memiliki banyak persamaan. Pertama, sama-sama membenci akumulasi yang dikutuk (kapitalisme). Kedua, memiliki semangat militansi yang sama. Ketiga, kelangsungan hidupnya dipertaruhkan pada revolusi.

Nah, bagaimana mengimplementasikan dalam dunia aktivis? Pertama, jadilah aktivis yang radikal dan ekstrem. Kedua, Bukalah dialog dengan membuka kran komunikasi. Ini waktunya membuka diri dengan komunikasi untuk melawan imperialisme.

Kanda Eka :

Menyoroti dunia aktivisme pergerakan mahasiswa di era sekarang, Kanda Eka berkomentar mengenai ‘narsisme’ aktivis kampus dan pergerakan. Minimnya semangat membaca menyebabkan miskinnya gagasan dan ide-ide segar untuk melakukan transformasi.

“Kalau belum baca buku, belum aktivis namanya. Tan Malaka saja saat dalam pembuangannya bawa satu peti buku untuk dibaca!”

*

Padahal, seringkali aktivis kampus banyak turun ke jalan untuk menyuarakan aksi. Tanpa membawa data dan solusi yang relevan, sekedar ingin diliput mass media, selesai. Itu hal yang naïf. Bukannya kesadaran kritis yang dihasilkan, melainkan kesadaran magis. Pun, setelah aksi, evaluasi tak ada (kalaupun ada, tak pernah menyiapkan langkah konkret pasca aksi).

Mestinya, saat kita tahu bahwa kapitalisme-yang menjadi musuh kita bersama semakin besar, kita bisa menginisiasi untuk membuat aliansi strategis, membuka kran-kran diskusi sesama organisasi mahasiswa, baik itu intra maupun eksternal  kampus.

Sayangnya, kita seringkali memiliki ego sektoral yang berlebih, sektarianisme organisasi, sehingga yang ada saat mengangkat isu bersama adalah kontestasi bendera dan massa.

Salam.

oleh : Alikta Hasnah Safitri, Aktivis KAMMI UNS

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s