Ibn Khaldun dalam Batman Begins


Apabila seorang pemimpin telah diangkat, maka watak kehewanannya akan melahirkan kesombongan dan keangkuhan. Ketika kesombongan telah menyusup dalam dirinya, maka dia akan menolak membagi kekuasaan dalam rangka menundukkan dan mengontrol mereka. –Ibn Khaldun dalam Muqoddimah, Pasal Tiga dari Kitab Pertama, Bagian ke Sepuluh.

Hari ini Joseph mengundangku datang ke rumahnya untuk menonton film favorit kami (sebetulnya hanya dia, aku? Entahlah). Dalam tiga bulan terakhir, kami telah menontonnya lebih dari enam kali. Tapi ia masih saja ngotot, memaksaku menonton film itu, lagi dan lagi.

“Biarkan film itu berbicara sendiri padamu. Akan lebih mudah bagiku menjelaskan begitu kau sudah melihat sendiri filmnya. .”, katanya saat kukatakan dengan jujur bahwa aku telah bosan, dan meskipun ia memaksaku untuk memahami film itu, sangat sulit bagiku untuk bisa memahami seperti apa yang ia inginkan.

Untuk menghindari kebosananku, kubawa serta Muqoddimah Ibn Khaldun bersamaku. Seorang kakak yang baru saja kukenal meminjamkan buku itu padaku beberapa waktu lalu, dan aku menikmati membacanya meski tak bisa benar-benar kupahami secara keseluruhan isinya.

Dari yang kutahu, Muqoddimah sebenarnya merupakan bagian pembuka dari kitab Al-‘Ibar. Di dalamnya, ia menyingkap berbagai hukum tentang perjalanan dan perkembangan sejarah masyarakat. Selain menyajikan berbagai contoh bangkitnya suatu bangsa dengan alasan-alasannya, Ibn Khaldun juga menuturkan sebab-sebab runtuhnya suatu bangsa dan peradabannya. Ia mengaitkan antara hukum materi dan hukum psikologi yang menjelaskan sampai sejauh mana kondisi awal akan memberikan pengaruh pada kondisi berikutnya, hingga pada akhirnya kita bisa menafsirkan sejauh mana pola kekalahan dan kemenangan dalam setiap peradaban, melampaui realitas masa lalu, kenyataan masa kini, dan mengukur-ukur gambaran prediktif masa depan.

“Kau masih muda, kau harus banyak membaca.” Katanya sewaktu meminjamkan buku itu padaku. Dia benar.

***

Saat aku sampai, film telah dimulai. Joseph menoleh, memperlihatkan wajah tak sukanya, lalu beralih kembali menatap layar Televisi sembari berkata dengan dingin, “Kau terlambat.”

“Maaf.” Kataku sekilas. Tak begitu ambil pusing dengan sikapnya, kemudian mengambil tempat di sebelahnya.

Ah, baru sampai adegan saat Sang Ayah berkata pada Bruce kecil,

“And why do we fall, Bruce?”

Bruce diam.

“So that we might better learn to pick ourselves up.”

“Kenapa kita harus menonton film ini lagi?”

“Karena kau belum memahaminya.”

Aku mulai membuka Muqoddimah-ku, dan mendadak teringat kondisi Mesir yang diberitakan media belakangan ini. Sejenak ingin mengupasnya dengan bahasaku sendiri, tapi terlalu dangkal untuk diucapkan dalam barisan kata sahaja. Maka, hanya akan ku kutipkan apa yang ditulis Ibn Khaldun di bukunya ini :

“Tidak seorang pun berpikir melakukan pembangkangan dan pemberontakan kecuali bahwa mayoritas warga akan mengingkari dan menentangnya. Maka dia tidak akan berhasil melakukannya meskipun berusaha keras untuk itu.

Terkadang, kerajaan yang berada dalam kondisi seperti ini lebih selamat dari para pemberontak dan penentang, karena kuatnya semangat kepasrahan dan ketundukan pada mereka. Maka tidak mungkin hati menceritakan rahasianya berupa penentangan, dan tidak terbersit dalam benaknya untuk menyimpang dari kepatuhan. Maka ia lebih terhindar dari kekacauan pemberontakan yang kerap kali muncul dari ashabiyah-ashabiyah pada keluarga. Selanjutnya kekuasaan kerajaan terus seperti itu, lebur dalam dirinya sendiri, sebagaimana kondisi emosi watak dalam tubuh yang kehilangan makanan hingga habis pada waktu yang ditentukan.

Pada setiap ajal terdapat kitab (catatan). Bagi setiap kerajaan terdapat suatu masa. Dan Allah membolak-balikkan malam dan siang, dan Dia Maha Esa lagi Maha Perkasa.”

Aku berhenti sejenak dari membaca, ah, film ini sampai pada adegan kesukaanku.

“Facing death you learn the truth…
You are weak…
You are alone…
And you are afraid…
But not of me.
Tell us, Wayne…
What do you fear?”

“Kita tahu Joseph. Adegan berikutnya akan menjawab pertanyaan ini. Kemarahannya jauh lebih dalam dibanding rasa bersalahnya, ia merasa bertanggungjawab atas kematian orang tuanya. Ducard menyadarkan bahwa kematian orangtuanya bukan salah Bruce, itu salah ayahnya. Kau tahu? Dia gagal melakukan tindakan. Bukan karena ia tak berdaya, dia hanya begitu percaya pada kota yang ia besarkan, dia terlalu pendek berpikir bahwa hanya dengan menyerahkan apa yang penyerang itu inginkan, maka semua selesai, semua akan baik-baik saja. Sesederhana itu.”

“Aku harap kau lebih dalam memahaminya, kau harus melihat kompleksitas persoalannya sebelum berkomentar.”

“Aku sudah melihat film itu berulangkali.”

“It is not right that one must come so far to see the world as it is meant to be. Purity. Serenity. Solitude. These are the qualities we hold dear. But the important thing is whether you believe it. Can Gotham can be saved, or is she an ailing ancestor whose time has run?”

Ada yang menggelitik saat Ducard mengucapkan kata-kata itu,

or is she an ailing ancestor whose time has run?

“Joseph, kau tahu, peradaban adalah puncak, sekaligus akhir pembangunan. Begitu kata Ibn Khaldun.”

“Hmm..” Joseph menggumamkan sesuatu, ia tampak lebih menikmati filmnya daripada mendengar ocehanku.

“Segala yang ada di alam raya ini memiliki batasan. Begitu juga halnya dengan peradaban. Saat masanya telah tiba, pertumbuhan dan perkembangan yang menjadi watak peradaban akan berhenti.

Kota Gotham telah sampai di puncak peradabannya, produksi barang hasil peradaban diikuti dengan kesenangan-kesenangan lain menuntut ongkos yang besar pemenuhan kebutuhan, saat pasar menuntut ongkos yang besar, disaat yang sama pajak akan meningkat. Pajak masuk dalam nilai dan harga barang yang diperjualbelikan, dan masyarakat tak dapat menghindari perilaku berlebihan dan boros yang kini menjadi tradisi baru, mereka mengikuti apa yang mereka inginkan.

Lalu moral pun menjadi rusak. Orang-orang di kota akan lebih pandai melakukan rekayasa dan tipu muslihat untuk menutupi kejahatan-kejahatannya. Logikanya, ketika usaha tak lagi memenuhi kebutuhan, keadaan akan menjadi tidak stabil.

Peradaban menjadi beban bagi para penjaga keamanan yang melindunginya. Kemudian mereka pun ikut rusak karena rusaknya tradisi dan kepatuhan yang ada pada dirinya, hanya sedikit yang selamat dari jerat nafsu dan kesia-siaan hancurnya peradaban.

Kau pernah dengar ungkapan bahwa ketika manusia telah rusak kemampuannya atas perilaku dan agamanya, maka akan rusak pula hakikat kemanusiaannya kan? Klise, tapi memang begitu adanya. .”

Mendadak, Joseph mengambil remote dan memencet salah satu tuts. Pause. Flm berhenti. Menampilkan sosok Bruce dan Rachel yang sedang beradu argumen soal keadilan dan balas dendam. Ia Menatapku.

“Yang ingin kukatakan adalah, aku yakin suatu saat kau akan menjadi seorang pemimpin, paling tidak suami yang baik bagi isterimu dan ayah yang bijak bagi anak-anakmu. Aku mengajakmu menonton film ini, lagi dan lagi, bukan tanpa alasan. Aku tak ingin mengajarimu macam-macam, aku hanya ingin kau MENONTON FILMNYA, dan BIARKAN FILM ITU BERBICARA PADAMU.

Kau ingin bicara soal negara, huh? Aku bukan seorang nasionalis, bukan pahlawan yang bermimpi ingin selamatkan bangsa tapi berpraktek sebaliknya, aku hanya tahu bahwa Apabila seorang pemimpin telah diangkat, maka watak kehewanannya akan melahirkan kesombongan dan keangkuhan. Ketika kesombongan telah menyusup dalam dirinya, maka dia akan menolak membagi kekuasaan dalam rangka menundukkan dan mengontrol mereka. Itulah yang kini sedang terjadi di paruh dunia lain sana, kau harus memahaminya baik-baik. Bukan dengan menjudge ini salah itu benar. Kau harus melihat fakta, bahwa tak ada akibat tanpa sebab. Makanya, belajarlah untuk memahami pertanda.

Aku tahu kau menjalani hari-hari yang sulit belakangan ini. Tapi, ikhlaskanlah semua. Lakukanlah sendiri dalam meluruskan dirimu sebagaimana bersendirinya orang yang mengetahui bahwa dia akan diminta pertanggungjawaban atas apa yang ia perbuat, saat ia diberi pahala karena berbuat baik dan dihukum karena berbuat buruk. Sesederhana itulah kau harus menjalani kehidupan ini. ”

“Kau mengutip surat Thahir bin Al Husain pada putranya-Abdullah, saat ia diangkat menjadi gubernur.”

“Itu ada dalam Muqoddimah.”Kata Joseph.

“Ayo nonton filmnya lagi.”

“Tidak. Pulanglah.”

“Kenapa? Biasanya kau memaksaku.”

“Kau tidak kasihan pada yang menulis cerita kita, si Alikta ini. Besok dia akan kehabisan ide kalau kita habiskan filmnya hari ini.”

“Hahaha.”

Tuhan menjadikan agama sebagai simpanan dan kemuliaan serta mengangkat orang yang mengikutinya dan memuliakannya. (Cuplikan surat Thahir bin Al Husain pada putranya, Abdullah bin Thahir saat Al Makmum mengangkatnya menjadi gubernur di Riqqah, Mesir- ada dalam Muqoddimah Ibn Khaldun halaman 543). Saya harap semua pemimpin atau siapapun itu, membacanya.

#2 Ramadhan, hari lahir Ibn Khaldun

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s