Sketsa Ramadhan


The people that are the most giving, hard working and capable of making this world better, usually don’t have the ego and ambition to be a leader. They don’t see the interest in superficial rewards, they don’t care if their name ever appear in the press, they actually enjoy the process of helping others, they’re in the moment!” –Jesse and Celine, Before Sunset

Dalam pengasingan yang kuciptakan, aku melakukan pencarian kebenaran tentang diriku sendiri. Berupaya menemukan kesadaran kosmis yang membungkus keputusan dalam menentukan sikap atas pilihan yang terhambur di hadapan, mencari dengan seksama kebijakan yang meruah dari rasa percaya dan tanggungjawab, menemukan kedirian dalam realitas yang berjalan diantara dua jawaban : ya dan tidak.

Dalam pengasingan yang kuciptakan, aku mengalami pergulatan dengan diriku sendiri, menghabiskan waktu dengan pikiran bodoh yang menyusuri keheningan sepertiga malam akhirku,

“Tuhan, waktu menjeratku dalam ruang semesta yang kian meluas tanpa batas, meninggalkan titik kecil bernama aku, yang kini kerdil, akan lebur, lalu hancur, dan pada akhirnya menjadi tiada. Tuhan,untuk apa menjalani hari yang tiada lagi memberi arti?”

Tak ada jawab.

“Tanyakan pada hatimu.” Dalam hening aku menjawab keluhku dan terkejut dengan jawaban yang memang ingin kudengar malah terucap dari katup bibirku sendiri.

Maka aku mendekat pada hatiku, sesuatu yang ada dan bersemayam jauh di dalam kutub jiwaku. Dimana ‘surga’ dan ‘neraka’ berada dalam batasan yang tak kukenali, dimana ‘iblis’ dan ‘malaikat’ berinkarnasi menjadi suara-suara dalam kediaman alam pikirku, dimana waktu yang berlalu tak membuatku merasa lelah dan beranjak tua.

Akan tetapi, selalu sulit untuk berbicara dengan hati bukan?

Selama ini, kita melakukan hal-hal normatif yang kita lakukan tanpa berkomunikasi dengan hati, yang bahkan kita rasa tak perlu untuk dilakukan. Lalu kita terjebak dalam kekeringan yang hambar, kehilangan cinta dan harmoni dalam kerja-kerja kita. Sudah cukup kita melakukan yang seharusnya kita lakukan, sudah cukup kita berjuang dalam batas yang kita ciptakan sendiri, sudah cukup kita menebus waktu dengan usaha dan amal nyata. Lalu semua berlalu begitu saja.

Kita menapaki jalan yang sama setiap hari, di tempat yang sama dengan musim yang berganti dan awan yang singgah dan berarak lagi. Mungkin demikian juga hati kita. Merasakan dera perasaan yang sama setiap pagi, tanpa dinamika dan fluktasi yang berarti. Kebosanan pada rutinitas. Ah, bahkan sebagian orang pun menganggap bahwa kematian tak lebih buruk dari kebosanan.

Maka aku pun bertanya pada hatiku, “Mengapa aku harus mendengarkanmu?”

“Karena engkau memiliki hati yang hidup.” Jawabnya.

“Maka katakan padaku apa yang harus kuketahui.”

“Perangilah neraka di dalam hatimu dan tolonglah sesamamu, maka kau akan sadar, dunia tak berputar hanya untuk kau seorang. Kau adalah bagian dari kesatuan kosmis yang membentuk jagad raya. Maka, meleburlah bersama alam seperti Antasena dan masukilah jagad cilik dalam dirimu seperti Wisanggeni. Temukanlah kebahagiaan. Jalanilah perjalanan. Satu bulan. Saat hilal telah beranjak, mengantarmu pada hari-hari yang kudus.” Lanjutnya.

“Apabila Ramadhan tiba, pintu surga dibuka, pintu neraka ditutup, dan setan pun dibelenggu.” (HR Bukhari no 3277 dan Muslim no 1079, dari Abu Hurairah ra.)

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s