Kehidupan Anak Kesadaran


Hari ini aku kembali menonton Life of Pi. Sembari menonton, pikiranku berkutat untuk kembali mengingat halaman demi halaman buku yang pernah kubaca di perpustakaan pusat UNS, sebuah ikhtisar dari roman filsafat karya Ibn Thufail yang berjudul Hayy ibn Yaqzhan-Kehidupan Anak Kesadaran. Dalam romannya ini, ia berusaha membuktikan kebenaran tesis kesatuan kebijakan rasional mistis melalui kisah fiktif. 

Dikisahkan bahwa Hayy-tokoh sentral dalam kisah ini adalah seorang anak hasil hubungan gelap antara seorang pangeran dan kekasihnya di negeri yang bersebelahan dengan pulaunya di tengah samudra India. Ditinggal sebatang kara di sebuah pulau memaksanya hanya hidup dengan seekor rusa yang kehilangan anaknya, yang mau menyusuinya hingga Hayy bisa mempertahankan diri dari serangan binatang buas. Tak lama, Rusa itu menjemput kematiannya dan membuat Hayy menjadi sangat sedih. 

Ia mencoba mencari tahu kematian sang rusa dan sampai pada kesimpulan bahwa penyebabnya adalah disfungsi jantung yang begitu saja membuatnya mati, tak ada sedikitpun tanda-tanda kerusakan pada raganya. Disini, ia berkesimpulan bahwa kematian adalah terpisahnya jiwa dari raga. 

Hayy juga menemukan rahasia api. Dan segeralah ia mengaitkannya dengan fenomena kehidupan. Setahap demi setahap, pengamatan empirisnya mencakup komposisi benda-benda dan kefanaan mereka, hierarki tumbuhan dan binatang, dan lantas mengantarkannya pada pemahaman alam spiritual. 

Hayy sendiri meyakini bahwa bagaimanapun adanya, alam pasti memiliki pencipta. Oleh karenanya, mulailah ia merenungi keindahan dan keteraturan alam. Saat ia mengarahkan pandangannya ke langit, melihat matahari dan bulan terbit dan terbenam berulang-ulang, ia memahami aturan kosmos yang berlaku secara universal. 

Seiring berjalannya waktu, melalui pemahaman deduktif, mengertilah Hayy pada hakikat akal, ruh, dan jiwa, yang mengilhami pada kecondongan ruhani dan kesenangan melakukan kontempelasi. Sampai suatu ketika, singgahlah di pulau tersebut seorang ahli ibadah bernama Absal. 

Absal mengajari Hayy mengenai nama-nama dan kebenaran wahyu, hingga pada akhirnya Hayy dapat mengerti dan berbicara menggunakan bahasa Absal. Kedua orang tersebut pun membandingkan pemikirannya masing-masing, dimana Hayy adalah seorang ‘murid alam’ dan Absal adalah seorang pemeluk agama yang taat, hingga membawa keduanya pada pemikiran yang sama : Keesaan Tuhan. 

*** 

Sampai disini, saya rasa, ada benang merah yang menghubungkan film Life of Pi dan roman Ibn Thufail berjudul Hayy ibn Yaqzhan. 

Saat Pi dan Richard Parker ada diatas perahu yang mengombang-ambingkan mereka di atas samudra Pasifik, tesis Ibn Thufail mengenai tiga karakter manusia saya rasa berlaku sepenuhnya. 

Pertama, karakter kebinatangan yang mengharuskan manusia memenuhi kebutuhan fisiknya. Ini bisa kita lihat pada adegan saat ribuan ikan terbang menyerbu perahu Pi. Ia dan Harimau Bengal bernama Richard Parker memperebutkan seekor ikan besar untuk menjadi santapan makannya. Pi yang selama ini begitu takut pada Richard pada akhirnya menunjukkan kegarangannya, demi memenuhi kebutuhan jasmaninya. 

Kedua, manusia mempunyai watak spiritual atau intelektual yang memungkinkan manusia merenungkan keindahan dan keteraturan alam sekitar. Maka, seperti Hayy yang merenungkan makna penciptaan semesta, Pi pun melakukan hal serupa. Keindahan alam semseta yang terpantul dari jernihnya air laut dan terangnya bintang-bintang di langit, keganasan badai yang membuatnya kehilangan keluarga yang dicintainya dan terombang-ambing di laut lepas, hingga saat ia menemukan pulau tak berpenghuni dengan landscape indah di layar yang menggambarkan sosok seorang wanita yang terbaring di atas laut lepas. 

Maka, saat adegan berikutnya menampilkan kemanusiaan di mata Richard Parker saat ia memandang laut lepas yang memantulkan cahaya bintang, dengan ikan-ikan yang memantulkan kilau cahaya berwarna-warni, saya terpesona dalam situasi menyedihkan sekaligus menyentuh. Dalam. 

Dan ketiga, kesucian jiwa bisa menghantar manusia kepada Wujud Mutlak. Melihat perjuangan Pi yang terombang-ambing di tengah lautan tanpa tahu apa yang akan dihadapinya, saya merasa bahwa, ya, memang begitulah hidup dan kehidupan. Lautan itu adalah kehidupan, kita adalah Pi, manusia yang berada di atas bahtera kecil yang tak ada apa-apanya dibanding luasnya lautan. 

Dan satu-satunya hal yang mampu membuat kita bertahan adalah : Keyakinan akan kebesaran Tuhan. 

*** 

“I have a story that will make you believe in God.” Kata Pi. 

“Kusarankan kau membaca Life of Pi dan Hayy ibn Yaqzhan.” Kataku. 

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s