Serba Serbi Cinta


“Her name was Marie-Therese Walter. She was 17 when Picasso fell in love with her. Picasso was already married, and 30 years her senior, so they kept their affair a secret. But he documented his passion by hiding her initials in some of his paintings. Of course, Picasso wasn’t completely ready to settle down, and he left Marie-Therese for Dora Maar, just like he left his wife Olga for Marie-Therese. But Marie-Therese never stopped loving Picasso. And she hung herself after his death.”

Kalimat di atas saya kutip dari sebuah film berjudul When in Rome yang saya tonton di laptop Septi, teman kos saya, beberapa bulan lalu.

Dikisahkan, Picasso dan Therese bertemu secara kebetulan di Paris dan menjadi sepasang kekasih, saat itu usia Therese 17 tahun, sementara Picasso 30 tahun lebih tua darinya. Mereka menutupi kisah cintanya hingga akhirnya Picasso memutuskan untuk meninggalkan Therese dan memilih Dora Mar. Meskipun demikian, perasaan cinta Therese pada Picasso tak pernah berubah, saat ia mendengar kematian Picasso, ia menggantung dirinya hingga meninggal di garasi rumahnya.

*

Apa yang menyebabkan Picasso mendokumentasikan hasrat cintanya pada Therese dengan menyembunyikan inisial namanya dalam lukisan yang ia buat, meskipun ia-Picasso sendiri, memilih meninggalkannya?

Secara nyata terlihat bahwa hubungan keduanya memang mengalami benturan-benturan yang teramat banyak, jurang pemisah yang teramat lebar. Karenanya, Picasso mengabadikan cintanya dengan cara yang lain, mengabadikan dalam lukisannya. Yah, perpisahan pada akhirnya tak menjadi tanda bahwa cinta pun telah berakhir. Cintanya pada Therese menjadi ilham bagi Picasso untuk menjadikannya sebuah karya seni yang agung.

*
Kedalaman cinta apa yang membuat Therese menggantung dirinya saat ia mendengar Picasso-lelaki yang dicintainya meninggal? Sungguhkah Therese telah menjadikan dirinya sendiri menjadi orang yang ia cintai, sehingga cintanya melampaui ke-ada-an dirinya sendiri?

Apa yang dianggap oleh banyak orang sebagai kekeliruan, kebodohan, dan kelemahan, bagi Therese justru dirasakan sebagai suatu kebenaran yang nyata dan tak terbantahkan. Kita bisa saja mengatakan bahwa dia disesatkan oleh pikiran dan perasaannya sendiri, namun ia akan tetap berada dalam kesulitan untuk menyelamatkan diri dari cinta yang setiap saat menggerogoti jiwanya.

***

Wahai fantasi (imaginativa), yang sering menggiring kita jauh
Dari diri sendiri sehingga meninggalkan kita dalam gelisah
Tuli karena ribuan terompet yang memekik di sekeliling kita
Apa yang menggerakkanmu ketika indera memperlihatkan kejelekanmu?
Cahaya yang menggerakkanmu, terbentuk di surga, mungkin
Atas kehendak Dia yang mengutusnya turun,
Atau karena kecenderungan sendiri
-Purgatory

Adalah Dante Alighieri, seorang pemuda yang ditaklukan cintanya oleh Beatrice Portinari. Jiwanya bergetar hebat saat menatap sosok Portinari, dan dalam keterpesonaan itu ia mendengar seruan dari dalam dirinya untuk mengagumi bentuk-bentuk kehadiran Tuhan.

Dia memperlihatkan itu dalam The Divine Comedy (terlepas dari segala bentuk kontroversinya), dikisahkan oleh Dante, keterpesonaan itu membuatnya mengalami sebuah pengalaman imaginer, sebuah pengembaraan yang bersifat fisik terhadap neraka, dilanjutkan dengan pendakian berat dan emosional menaiki Bukit Purgatorio menuju surga duniawi, dimana Beatrice memarahinya agar tak memandang wujud fisiknya sebagai tujuan akhir, melainkan sebagai avatar yang mengantarkannya keluar dari dunia menuju Tuhan.

***

Delapan tahun sebelumnya, Ibn al- Arabi mengalami epifani yang sama. Ketika ia sedang melaksanakan thawaf di Ka’bah, dilihatnya seorang perempuan muda bernama Nizam dikelilingi oleh cahaya dan ia menyadari bahwa perempuan itu adalah Hikmat Ilahi. Epifani ini membuat al-Arabi sadar dan meyakini bahwa adalah mustahil baginya mencintai Tuhan jika hanya bersandar pada argumen-argumen rasional

“Nizam, telah menjadi objek pencarianku dan harapanku!”

Ia percaya bahwa tak ada sesuatu apapun yang menyamai transdensi mutlak Tuhan, Hanya imajinasi cerdik akan mampu menembus batas fisikal dan rasional sehingga seseorang bisa menangkap dan menyerap segala macam keindahan dunia sebagai bagian dari Keindahan Tuhan.

Nizam adalah epifani dari wajah Allah yang indah indah bagi Ibn al-Arabi hingga dia merasa begitu perlu untuk mengatakan, bahwa kalau kita mencintai suatu wujud karena keindahannya, kita tidak lain mencintai Allah, karena Dia adalah satu-satunya Wujud yang Indah. Baginya, semua aspek dari objek cinta hanyalah Tuhan. Kita, tidak bisa melihat Tuhan itu sendiri, namun kita bisa melihatnya ketika Dia memilih mewahyukan Diri melalui makhluk-makhlukNya, seperti gadis Nizam, yang mengilhami rasa cinta di hati Ibn al-Arabi.

***

Kehadiran cinta pada diri Ibn al-Arabi dan Dante Alighieri telah membawa keduanya menciptakan epifani untuk dirinya sendiri, mereka membawa ke dunia ini sebuah realitas yang bereksistensi dengan lebih sempurna di alam arketipe. Sebagaimana para kaum sufisme yang menemukan spiritualitas dalam konsepsi yang sangat pribadi, berpusat pada manusia, telah membawa keduanya pada konsepsi transpersonal tentang Tuhan.

Meskipun demikian, saya lebih menyetujui alur berfikir seorang kawan yang mengatakan, “Tuhan bukan objek persepsi, tapi lebih pada suatu subjek yang bisa dirasakan, Tuhan adalah keberadaan, bukan ketidakadaan, kekal, tidak bergantung, tidak pernah berakhir, bukan barang yang mudah hancur. Ia adalah Dzat yang tak eksis dalam ruang. Tuhan tak bisa dilihat, baik di dunia ini maupun di dunia lain, tidak pula selama hidup ataupun setelah mati, tidak pula dengan pandangan atau melalui wawasan.” 

***
Bla. . Bla. . Bla. .

Saya ngoceh terlalu banyak. Padahal, sebetulnya yang ingin saya katakan adalah bahwa atas nama cinta, ragam pengalaman yang terbentuk dari kesadaran interpersonal, maupun ‘kegilaan’ transdentalnya telah membawa masing-masing mereka pada suatu pemahaman empiris mengenai hakikat dan makna cinta itu sendiri.

Kita memiliki pemahaman masing-masing tentang cinta. Tapi saya masih sepakat pada perkataan seorang kakak, “Cinta, adalah memberi sebanyak-banyaknya, tanpa mengharapkannya kembali padamu, dalam wujud yang sama atau berbeda.” 

Yang melepaskanmu dari pengharapan,
Yang membuatmu bertumbuh, tanpa kehilangan
Yang abai terhadap kata ‘pengorbanan’

*
Terlalu panjang, tak ada kata penutup.

4 tanggapan untuk “Serba Serbi Cinta

  1. CINTA ##Kadang2 pelik untuk munguraikannya, karena pada penampakannya dia menjelma hadir. kehadirannya pun Ajaib sekali. Yang membedakannya adalah pada apakah cinta itu dipondasikan….. hanya itu!..

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s