Hikmat Omong Kosong


Hari ini, Joseph kembali mengajakku menonton film nya. Bagaimanapun, sejak obrolan terakhir kami kala itu, aku mulai berusaha meredakan kebosananku sekaligus berupaya sepenuhnya untuk menemukan apa yang sebenarnya ia inginkan untuk ku ketahui dari film itu.

“Aku hanya ingin kau menonton filmnya dan biarkan film itu sendiri yang berbicara padamu. Sulitkah itu bagimu, Al?”

Aku menghela nafas, “Aku hanya butuh petunjuk, Joseph.”

 

“I thought I would find something…I thought I would learn what I needed to do with my skills and my anger. But the harder I looked the less I saw. The less I knew. Until I wasn’t even sure what I’d been looking for in the first place. And I was lost..”

 

“Al, kau pernah dengar mengenai hikmah Illahi?” Tanya Joseph saat layar televisi menampilkan sosok Bruce yang terlihat putus asa, berada di ruang interogasi sebagai kriminal.

“Sophia?”

Ia mengangguk.

“Ya. Pancaran terakhir dari Ketinggian dan Kedalaman. Karena kesombongannya untuk mengungkap Yang tertinggi, ia terjatuh dari Surga dan dalam kesedihan dan kepiluannya, ia berkelana menjelajahi seluruh kosmos untuk kembali ke Ketinggian.”

“Astaga Joseph, bahkan kisah dalam Enuma Elish pun mengisahkan hal yang serupa.”

“Enuma Elish?”

“Ya, dalam Enuma Elish, segala sesuatu telah diciptakan berpasang-pasangan. Seperti yang di ungkapkan para petutur,  Dari sebuah substansi cair tak berbentuk, sebuah danau berpaya yang merupakan zat primordial suci  dewa-dewa muncul berpasang-pasangan. Tiga dewa pertama mengawali kisah ini, mereka adalah Apsu (air sungai yang manis), Istri Apsu, Tiamat (air laut yang asin), dan Mummu (Rahim kekacauan).

Melalui serangkaian proses emanasi, dewa-dewa baru dilahirkan. Lahmu dan Lahamn (nama-nama yang berarti Endapan lumpur, dimana air dan tanah masih bercampur menjadi satu), Ansher dan Kishar (Horizon langit dan laut), hingga pada akhirnya dalam penyempurnaan proses penciptaan yang baru saja dimulai, lahirlah Anu (langit) dan Ea (bumi).

Kini alam suci telah tericpta!

Sungai, laut, bumi, dan langit telah tercipta-terpisah satu sama lain. Kekuatan pemecah belah hadir. Para dewa muda bangkit melawan tetua mereka. Ea berhasil mengalahkan Apsu dan Mummu! Namun, gagal ia menghadapi Tiamat yang menjelma monster mengerikan beraneka ragam..

Marduk, anak Ea berjanji memerangi Tiamat dengan syarat dialah nanti yang harus menjadi penguasa mereka.

Bagaimanapun, pada akhirnya, Marduk-Dewa Matahari berhasil mengalahkan Tiamat, membelah tubuhnya hingga menjadi lengkungan langit dan bumi manusia untuk menciptakan dunia baru, merancang undang-undang agar semua tetap dalam posisinya, menjaga keteraturan semesta raya!

Seperti suatu kebetulan, Marduk mengalahkan Kingu-teman dungu Tiamat, menebasnya dan membentuk manusia pertama, mencampur darah dewa dengan abu”

Manusia itu dungu, dan ia berusaha kembali mencapai ketinggian, kembali pada Hakikat Kehidupan yang membuatnya turun ke dunia. Itu menjelaskan mengapa seorang bayi, saat keluar dari rahim ibunya malah menjerit sekencang-kencangnya karena ia tengah menghirup kotornya angin duniawi. Ia rindu pada Hikmat Illahi.”

“MENURUTMU BAGAIMANA KALAU KUKATAKAN BAHWA ITU SEMUA HANYA OMONG KOSONG?”

Aku mengangkat bahu.

“Aku tak peduli.”

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s