PENERUS MIMPI ?


“Kita harus mempersiapkan masa depan anak-anak kita. Mereka adalah penerus mimpi kita.”

 

Kalimat di atas seolah menjadi legitimasi bagi orangtua untuk memproyeksikan cita-citanya pada anak-anak mereka. Saya sendiri menyebut hal ini sebagai pemaksaan terselubung orangtua. Pemaksaan terselubung ini tak selalu bermakna buruk, bisa jadi orangtua memang menginginkan yang terbaik untuk anak-anak mereka agar nantinya saat dewasa memiliki gelar prestise tertentu yang bisa mendongkrak karirnya serta mengangkat harkat dan martabatnya. (Apanya yang buruk?)

 

Kalimat tersebut juga menjadi legitimasi bagi institusi pendidikan Pra-Sekolah yang memberi porsi pengajaran yang cukup memberatkan. Siswa TK secara halus terpaksa harus menguasai ilmu hitung sederhana dan memiliki kemampuan membaca lebih awal. Saya tak bilang ini buruk, tentu saja bisa menghitung dan membaca di usia awal sangat baik untuk masa depan pendidikan anak tersebut di masa yang akan datang.

 

Kalimat tersebut juga menjadi legitimasi bagi institusi Sekolah Dasar yang lebih mengutamakan siswa-siswa lulusan TK yang sudah memiliki dasar kemampuan membaca dan menghitung untuk berada di kelasnya. Tak bisa dipungkiri, guru akan lebih mudah mengajar mereka yang telah memiliki dasar dibandingkan yang belum. Wajar, tak ada yang salah.

 

Yang menjadi kekhawatiran saya adalah, setelah predikat pemaksa disandangkan, predikat kedua sebagai pencuri pun akan mengikutinya. Saya selalu dihantui ketakutan bahwa suatu saat nanti, saya akan mencuri waktu-waktu berharga anak-anak didik saya untuk bermain dan secara wajar mengembangkan secara naluriah-lah kemampuannya mandiri secara intelektual dan sosial.

 

Perlu digarisbawahi bahwa permainan yang sesungguhnya tidak dapat diperintahkan. Maka, ketika para guru TK maupun SD berupaya untuk mendesain permainan (semenyenangkan apapun itu), jika cermat diamati, akan ada beberapa dari anak-anak didik kita yang justru menjauh dari kelompok yang asyik bermain sebab tak ada dalam dirinya dorongan untuk bermain.

Biarkanlah anak memiliki waktu untuk mendesain sendiri permainannya tanpa terlalu banyak diintervensi oleh kita sebagai orangtua ataupun gurunya. Saya percaya bahwa manakala mereka diberi kebebasan untuk menciptakan dunianya sendiri mereka akan mengembangkan segala potensi yang dimilikinya untuk dunianya itu. Dengan bimbingan yang proporsional, mereka akan mampu menciptakan batas dan keteraturan atas kesepakatan komunal mereka sendiri, kemandirian yang mendewasakan mereka untuk berpikir bebas dan merdeka, tanpa kekangan dan belenggu kurikulum yang mengikat.

 

Bagaimana dengan kemampuan kognisi? Membaca? Berhitung? Menulis?

 

Itulah tanggungjawab kita sebagai pendidik.

 

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s