Sebuah Impian Sederhana


Saat aku kecil dulu, impianku adalah menemukan harta karun. Aku berkhayal bahwa aku adalah ‘Sang Terpilih’ yang akan menemukan peta tempat dimana harta itu berada dan akan berusaha dengan segenap kekuatan untuk menemukannya. Makanya aku seringkali menyembunyikan barang-barangku dibawah tanah, membuat peta dengan tulisan dan garis yang acak-acakan, dan berpura-pura menjalankan suatu ekspedisi rahasia.

Semakin lama, impian kumaknai lebih sempit menjadi cita-cita. Maka setelahnya, selalu ku katakan bahwa aku ingin menjadi seorang pengajar. Mengapa pengajar? Mungkin karena itu adalah satu-satunya profesi yang ku tahu. Mungkin karena aku melihat ibuku sangat cerdas (dan ia adalah seorang guru). Mungkin karena aku tak merasa puas dengan pengajaran yang kuterima selama ini. Makanya, sejak awal, aku tak pernah mengganti minat kuliahku ke program studi lain selain Pendidikan.

Ada satu masa dalam hidupku, saat aku ‘teralih’ dari keinginanku untuk menjadi pengajar. Aku ingin menjadi reporter berita! Ini berawal dari keterpesonaanku saat melihat wanita-wanita cerdas nan cantik tengah membawakan berita di layar kaca. Aku ingin. Aku ingin menjadi bagian dari mereka. Pada akhirnya, aku telah memilih dan memutuskan. Aku akan menjadi seorang Pengajar.

Kini, setelah Sembilan belas tahun lebih Tuhan memberiku kesempatan untuk menjalani kehidupan di dunia ini, aku mulai meredefinisi ulang makna impianku. Ya, memang aku ingin menjadi seorang pengajar. Tapi itu hanyalah sebuah profesi. Bukan sebenar-benarnya impian yang akan mengantarkanku pada kebahagiaan.

Semua orang ingin hidup bahagia. Maka hidup bahagia adalah impian semua orang, termasuk aku. Ini adalah premis normatif yang hampir pasti berlaku untuk semua orang. Hanya saja, konsepsi hidup bahagia ini terkadang membutuhkan penjabaran yang ruwet dan punya standarisasi yang begitu rumit.

Kukira, itu pulalah yang terjadi padaku. . .

“Aku akan menikah dengan orang yang mencintaiku dan aku pun mencintainya. Dia adalah satu-satunya pilihanku, dan aku adalah pilihan pertama dan terakhir baginya. Ia akan datang kerumahku sebelum genap usiaku dua puluh lima tahun. Kami akan menikah, punya anak, dan menjalani kehidupan dengan bahagia”

Terlalu naïf memang. Aku mendengar dari orang-orang mengenai bagaimana mereka mengawali kehidupannya, ada yang lucu, aneh, bahkan pilu. Tapi beginilah nanti kehidupan baru yang akan kujalani :

Aku akan menikah dengan cara yang sederhana, akad di masjid kampung, lalu syukuran sederhana di rumah. Tak usah riuh dalam kemeriahan. Bisa-bisa aku pingsan karena tak biasa dengan keriuhan itu.

Kami akan memiliki sebuah rumah sendiri yang kami bangun dengan uang hasil keringat kami. Kecil saja, biar tak repot membersihkan. Setiap akhir pekan pertama dan ketiga setiap bulan, kami akan bekerja bakti membersihkan rumah. Pekan kedua kami akan pergi ke toko buku dan membeli barang satu dua buku. Pekan keempat kami akan mengagendakan untuk masak bersama, mungkin melakukan hobi favoritnya yang entah apa.

Aku akan bangun lebih awal setiap paginya dan melakukan pekerjaan rumah tangga yang wajar dilakukan : masak, nyuci, nyapu. Setelahnya, aku akan tetap bekerja sebagai seorang pengajar di pagi hingga siang, sore harinya kuhabiskan dengan membaca buku sambil menunggunya pulang dari tempat kerja, saat makan malam, aku akan bercerita tentang buku yang habis kubaca dan tingkah polah anak didikku, dan ia akan berkisah hal lain (aku belum tahu apa). Yang jelas kami akan sering ngobrol.

Kami akan punya tiga anak. aku akan memberikan anakku nama-nama dari bahasa sanskerta (kalau diizinkan). Aku akan mengajari mereka membaca alqur’an, menceritakan pada mereka kisah-kisah perjuangan para Nabiyullah, sahabat, dan para pejuang kemerdekaan dan pembebasan di seluruh dunia.

Selama itu pula, aku akan melengkapi koleksi buku perpustakaan kami dengan karya-karya serial petualangan, romansa, dongeng, dan biografi orang-orang yang besar di zaman dan kepakaran yang digelutinya.

Mereka bebas menentukan masa depannya. Mereka bebas menulis dan merangkai mimpi-mimpinya. Aku akan bahagia untuk setiap keputusan yang mereka pilih. Kami akan menjadi orangtua yang luar biasa, yang menyayangi anak-anak kami sebagai sesama pengemban tugas universal untuk membangun peradaban.

Sungguh aku harus siap untuk itu. Aku harus menjadi sosok wanita yang cerdas dan terampil untuk keluarga yang akan kubangun suatu hari nanti. Proses menuju kematangan dan kedewasaan itu akan saaaangaaaaattt panjang kalau melihat betapa payahnya aku sekarang. Bukan begitu?

Mungkin, ini redefinisi mimpi yang paling payah. Mungkin aku hanya sedang dalam emosi sesaat saat menuliskannya. Tapi aku berharap bahwa ini akan terwujud.

Semoga aku bahagia.

happy-muslim-cartoon.jpg

6 tanggapan untuk “Sebuah Impian Sederhana

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s