Sejarah Kita, Telaah Kembali ‘KITA’


Sejak awal penciptaanya, manusia dikenal sebagai pribadi-pribadi yang senang menyederhanakan. Konsep lambang bunyi yang arbitrer kemudian difungsikan dalam ragam bahasa bunyi, penjabaran konsep eksak terwakili oleh simbol-simbol dan lambang-lambang matematis, berbagai referensi buku pelajaran senantiasa tersusun dalam sistematika yang runtut agar mudah difahami. Lalu, bagaimana dengan sejarah? Fragmentasi kesejarahan yang seringkali dipakai manusia seringkali tersistem berdasarkan periodisasi waktu. Mengapa waktu? Sebab waktu adalah ‘sesuatu’ yang begitu dekat dengan kita, bisa jadi malah mencirikan eksistensi pokok keberadaan kita di alam semesta.

Sejarah telah membuktikan,  disetiap kebangkitan suatu bangsa terdapat pemuda sebagai rahasia kekuatannya. Revolusi Perancis yang menumbangkan monarki dan gereja di abad pertengahan digerakkan oleh kaum intelektual muda. Di dunia Islam Asia-Afrika, para mahasiswa dan pemuda bangkit mempelopori perlawanan terhadap penjajah di sepanjang paruh pertama abad ke-20 sampai tahun 70-an.

Bagaimana dengan sejarah kebangkitan pemuda di Indonesia?

Ketika belum ada seorangpun yang terpantik semangat juangnya guna memperjuangkan tanah air, Pemuda Wahidin Sudirohusodo telah melahirkan gagasan tentang kebangkitan  nasional pada tahun 1908. Pemuda Sukarno dan Hatta telah merealisasikannya dengan ikrar kemerdekaan Indonesia pada tanggal 17 Agustus 1945. Dalam  rentang waktu tersebut terdapat banyak kisah heroik perjuangan para pemuda Indonesia guna mengabdi dan berbakti untuk negeri.

Sumpah Pemuda yang diikrarkan pada tanggal 28 Oktober 1928 menjadi titik tolak persatuan bangsa. Satu nusa, satu bangsa, satu bahasa. Siapa yang menyerukan narasi besar ini? Pemuda. Uniknya, kesadaran persatuan ini tumbuh dan berkembang secara sadar dan kolektif pada tiap elemen kepemudaan. Jauh berbeda dengan sekarang, yang hanya menggaungkan semangat persatuan ketika tim sepak bola kita melawan tim negara lain.

Yang lebih menarik lagi adalah bahwa dalam keterbatasan yang ada kala itu, dalam ketiadaan jaminan bahwa gagasan besar yang mereka ikrarkan akan menjadi tonggak perjuangan yang menyejarah,  mereka tetap memperjuangkannya dengan gigih dan semangat menyala. Bedakan dengan aksi anarkis para pemuda kita sekarang, yang maunya menjadi ‘sejarah yang menyejarah’, tapi pada akhirnya nol dalam hal kontribusi. Ya, hanya meneriakan slogan kosong kaum oportunis semata.

Ini adalah zaman perubahan. Dari wacana menuju realita. Kita sudah terlalu kenyang dengan aksi dan demonstrasi melalui media(termasuk tulisan ini), kita sudah terlalu lama hanya mendengar dan menggaungkan wacana-wacana tentang kemiskinan, mahalnya biaya pendidikan, dan globalisasi. Ini saatnya kita bertindak, dengan memberi kontribusi yang berarti. Memang, kita tak bisa menafikan bahwa wacana adalah hal yang juga urgen. Tapi apakah hanya akan kita gantungkan hidup mati bangsa dalam sebuah wacana saja?

Sejarah selalu memperlihatkan bahwa perubahan selalu mewujudkan keinginan-keinginan dasar yang merupakan cita-cita bersama. Setiap semangat perubahan akan mengantarkan kita pada mimpi yang terejawantahkan. Karena itulah, kita membutuhkan pelaku perubahan yang senantiasa berjuang untuk mengeksekusi gagasan-gagasan besar, yang merealisasikan setiap impian menjadi narasi yang tersejarahkan.

Sekali lagi, mari telaah kembali sejarah kita.

Pada 1908, pemuda mulai membangun gagasan kemerdekaan. Tahun 1928, gagasan itu dibingkai dalam semangat persatuan. 1945, perwujudan gagasan itu teraktualisasikan secara nyata dalam proklamasi kemerdekaan. Setelah kemerdekaan berhasil dicapai, muncul masalah internal dalam tubuh bangsa. Maka, pemuda lah yang kemudian  kembali bertindak, pada 1966 pemuda menumbangkan rezim orde lama, dan keberhasilan pun kembali dicetak ketika mereka menumbangkan rezim orde baru pada 1998.

Sejarah selalu menyimpan kisah. Meski tak mungkin sejarah bisa merangkum semua lini kehidupan secara utuh dan sempurna. Euforia masa lalu dan dinamika keberhasilan masa lampau bisa jadi meyebabkan sebagian dari kita beranggapan inilah keberhasilan yang sesungguhnya dan akhir dari tujuan. Pada satu sisi, kita memang mesti berterimakasih kepada para pemuda era lalu. Tapi, itu tidak berarti kita mesti mengikat diri pada kepuasan dan tak mengacuhkan cerita hari ini, serta enggan menyusun gagasan esok hari.

Kebangkitan pemuda di masa lalu diwujudkan di tengah cengkeraman penjajahan. Saat ini, kita hidup ditengah kemerdekaan, namun sayang masih semu. Kita masih terjajah! Bukan lagi berebut wilayah dan kekuasaan, tapi melalui destruksi moral generasi, opini publik yang dikembangkan para pemilik konsorsium yang menggurita, dan sketsa politik laba-laba yang menyesatkan.

Sekarang 2013, kawan. Apa sejarah yang akan kita bubuhkan dengan tinta emas di atas persada khatulistiwa? Kita butuh para pelaku sejarah yang gigih memperjuangkan cita-cita dan idealismenya. Ketika idealisme pemuda mengendur, maka mengendur pula zaman yang dilaluinya.

Ada proyek pembaruan yang mesti kita rampungkan. Proyek ini selamanya hanya akan menjadi konsep yang terformat di dalam pikiran dan tertulis di memoar kita, dan pada akhirnya usang dan lapuk oleh usia ketika tidak segera direalisasikan. Kita membutuhkan energi perjuangan untuk melahirkan kekuatan perubahan. Kita membutuhkan pemuda yang tangguh dan idealis untuk merealisasikannya.

Maka, ambilah peran. Jadilah pemuda itu. Jadilah ‘sejarah yang menyejarah’.

Hidup Mahasiswa! Hidup Pemuda! Hidup Indonesia!

*repost taun lalu, edit 2012 jadi 2013 #ehh

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s