Tikus dan Gagak (bag 1)


Kalila dan DimnaSekawanan merpati terperangkap dalam sebuah jaring raksasa. Sang Raja Merpati-Si Mata Tajam segera pergi menemui kawannya, Zirac-Si Tikus untuk membantunya melepaskan jaring yang memerangkapnya dan kawanannya.

Maka, dengan sigap Zirac pun mulai memotong-motong benang jaring yang mengikat sekumpulan merpati itu sampai ia merasa hampir mati rasa.

Seekor gagak mengamati dari balik rimbunnya dedaunan.

….

Sekumpulan manusia tengah duduk melingkar dalam sebuah diskusi. Nampak mereka tampak asyik masyuk membahas berbagai persoalan bangsa, dari mulai kasus korupsi, birokrasi yang makin ruwet, hingga tuntutan lulus kuliah lebih cepat karena mahalnya biaya.

Salah seorang dari mereka berkata, “Kita harus melindungi diri kita dari bahayanya fikroh lain yang merongrong kesatuan. Kita harus singkirkan suara-suara internal yang berusaha memecah belah kesatuan.”

Aku menunduk dalam-dalam.

Lelaki yang lain bangkit, dalam gugah senyum dan kharismanya, ia berkata, “Lalu membiarkan diri kita terkungkung dibalik benteng raksasa menunggu musuh-musuh memporakporandakan seluruh kota? Menyingkirkan demi apa? Menunjukkan pada yang lain-lain potret homogen kita dengan menghapus potret lain yang membingkai kita secara utuh dan jujur?”

Pelan-pelan, kutengadahkan kepala dan memandangnya.

……

Dari tempatnya berdiri di pohon, ia menunggu hingga Zirac keluar dari lubang persembunyian tikusnya, karena, percaya atau tidak, gagak itu telah begitu tersentuh pada kebaikan hati si tikus.

“Zirac, oh Zirac, keluarlah dan temui aku. .”

“Siapa di luar? Pergilah dan tinggalkan aku sendiri.”

“Aku seekor gagak. Namaku Shesheen. Aku ingin menjadi temanmu. Datang dan lihatlah aku.”

“Oh, tutup mulutmu dan pergi dari sini!  Jangan macam-macam. Kita tidak bisa berteman. Terbanglah sana!”

“Oh, tolonglah tikus.” Tangis Shesheen lembut dengan terisak, “Anggaplah aku ini tulus, walaupun sebentar saja, bagaimana?”

Zirac pun keluar dari lubang persembunyiannya dan berteriak, “Hei kau, ada omong kosong apa ini? Apa yang kau inginkan dari pertemanan ini? Apa motifmu?”

“Oh, tikus. Saat aku melihat yang kau lakukan untuk sekawanan merpati itu hatiku bergetar dan bulu-buluku menggigil. Belum pernah aku menyaksikan ketulusan itu sampai-sampai tali syarafku berdenyut, semua perhatianku langsung tertuju padamu. Aku merasa kesepian, aku hanyalah seekor burung diantara burung-burung, dan mengetahui pentingnya keragaman, sayapku dan gigimu, contohnya. Setiap makhluk hidup  memiliki kekhasan masing-masing dan untuk membayar ketidakutuhanku aku datang, berharap agar kepercayaanmu melengkapi ketidakutuhanku. Tolong, jadilah sahabatku.”

…..

Berkali-kali aku membuka handphoneku, mengetikkan beberapa kata, lalu menghapus, dan menutupnya kembali. Sambil memandang langit yang kini mendung, kembali aku ingat pada sosok yang siang tadi membuatku terpana.

Dia begitu berbeda dari orang-orang yang selama ini kukenal. Saat ia berkata bahwa ia menghargai perbedaan, aku langsung tahu bahwa itu bukan hanya pemanis bibir, jualan orang kampanye atau apalah namanya. Aku tahu itu jujur, keluar langsung dari dasar nuraninya.

Ah, tapi dari mana aku tahu?

Entahlah, nuraniku bilang begitu.

Sekali lagi, kuambil handphone-ku dan kutuliskan pesan pendek,

“Salam. Nama saya Fitri. Mungkin kamu tidak kenal, aku salah satu anggota kelompok diskusi sabtuan. Boleh berkenalan?”

Satu. Dua. Tiga. Empat. Aku menghitung demi detik penyesalanku setelah mengirim sms itu.

“Ya. Maaf. Tapi saya tidak kenal kamu.”

Demi membaca pesan pendek itu. Aku menahan nafas, berat.

“Ya, mungkin kamu tidak mengenal saya. Saya selalu duduk di paling pojok dan jarang berbicara kecuali diminta. Maaf mengganggu. Saya hanya ingin bertanya.”

Satu. Dua. Tiga. Kembali menghitung.

“Silakan.”

“Maukah kamu menjadi temanku?”

“Kamu tidak salah sms?”

“Apa yang salah?”

“Bukan.”

“Jadi?”

“Maksudmu apa?”

“Saya hanya ingin menjadi temanmu. Tak ada maksud apapun.”

“?”

“Kemarin waktu diskusi, saya dengar pendapatmu soal keberagaman. Saat itu, saya langsung merasa kamu adalah

orang yang baik, yang mau menerima perbedaan, ah, setidaknya menghargainya. Dan saya ingin berteman dengan orang-orang sepertimu.”

Lama.. Sebelum sms berikutnya datang.

“Aku kenal kamu Fit. Aku tahu benar track record-mu selama ini. Jangan kira aku akan jatuh ke dalam teori dan perangkapmu. Setelah ini, kamu pasti berusaha untuk mengorek informasi dariku dan menyebarkannya secara gratis pada khalayak kan?”

Aku terpana.

“Aku hanya ingin menjadi temanmu. Kenapa kamu berpikiran macam-macam?”

Tak ada jawaban.

Aku mengirim sms sekali lagi, “Mungkin aku salah. Sepertinya kamu sama dengan yang lain. Toleransi palsu!”

…..

“Hei kau, omong kosong apa ini? Apa yang sedang kau coba lakukan? Membuatku buta dengan teori? Membuatku jatuh terjerembab dengan rayuan? Kamu mau berteman denganku? Keluar dari sini! Kau seekor gagak dan aku tikus. Apakah kita mencoba mendaki air terjun atau berenang di pohon hanya karena kita mau? Apa yang tidak bisa dilakukan, tidak bisa dilakukan!”

“Hei, Gagak.” Katanya melanjutkan, “Terserah apa katamu. Tapi aku tak mau beranjak dari lubang ini. Kebaikan hatimu tak dapat menyembunyikan perbedaan kita. Kau lebih bisa menyakitiku daripada aku menyakitimu. Apapun pertemanan yang akan kita bina, jika keadaan genting muncul dan perbedaan kita akan terlihat sama seperti air mendidih yang digunakan untuk mematikan api jika tabung dari panas yang sama jatuh terbalik.”

“Waahhh. Oke, baik sekali kata-katamu oh Tikus, dan kamu memang tepat, pintar, pintar. Tapi terserah; aku akan masih menghadapi kurangnya rasa percayamu. Kau belum pernah mengambil resiko yang besar kan? Aku sungguh-sungguh menghargai kebaikanmu dan berharap kau mau menjadi temanku. Aku akan menunggu diluar sarang sampai kau mau keluar.”

“Mungkin saja kamu makhluk baik dan tidak berniat mencelakaiku. Tapi kebaikan tak akan bisa muncul dari persahabatan semacam itu. Pada akhirnya, alam akan bertindak sendiri, cinta antara kuda dan keledai akan melahirkan bagal. Manusia bisa memikat ular kobra dengan seruling, tapi hanya orang bodoh yang akan menikahi ular itu.”

……

“Toleransi palsu? Maksudmu apa? Kamu selalu bermain kata-kata seperti ini untuk mengintimidasi orang ya?”

“Aku tidak bermaksud begitu.”

“Lalu apa?”

“Sudah kukatakan sejak awal. Teman :)”

“Apa si maksudmu? Berteman dalam konteks apa? Ya, kamu mengenalku sebagai bagian dari kelompok diskusi pekanan kita. Cukup kan? Aku tidak mau melangkah lebih jauh. Sudahlah, ini saatnya kita jauhi virus-virus merah hati begitu. Kita sudah cukup dewasa.”

…..

“Hei bodoh! Aku tak mau menggodamu. Aku hanya ingin berada di sekitarmu, di dekatmu, mengobrol denganmu, bertanya-tanya tentang kehidupanmu. Dengar! Aku menghormati hak pribadi, dan aku berharap kau juga demikian! Aku hidup di pohon dan kau hidup di tanah, apalagi yang membuatmu cemas? Hentikan perdebatan ini, mari berdamai. Aku hanya ingin bertemu dan menjadi temanmu.”

“Oke. Oke. Aku keluar sekarang. Aku menyerah. Kamu menang. Aku hanya mengujimu. Aku harus yakin dulu, tapi kini aku percaya padamu.”

Tikus itu bergegas ke pintu lubangnya, melongokkan kepalanya keluar dan tersenyum miring pada Shesheen yang berdiri agak jauh darinya.

….

(bersambung)

 

NB. Cerita Tikus dan Gagak diadaptasi dari “Kisah-Kisah Fabel Bidpai”, disebut juga “Pancatantra”, atau sering kita kenal dengan “Kalila dan Dimna”

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s