Analisa Kasus Anak


DESKRIPSI/ LATAR BELAKANG MASALAH

Yasmien Roona Faatin adalah putri kedua dari pasangan Ibu Asih Kusumawinarni dan Bapak Ali Mahmudi. Sehari-hari, ia akrab disapa Rona baik oleh keluarga maupun lingkungannya. Rona yang saat ini berumur 9 tahun tengah berada di kelas 4 SD Djamiatul Ichwan Surakarta.

Sehari-hari, mulai dari Senin-Sabtu, ia berangkat sekolah pukul tujuh pagi, diantar oleh Ayahnya bersama adiknya yang berada di kelas 2 di sekolah yang sama dengannya dan baru pulang pukul 13.30 WIB. Ekstrakulilkuler yang diikutinya adalah Menulis Kaligrafi setiap Selasa dan Pencak Silat setiap Minggu.

Setelah pulang sekolah, Rona tidur siang hingga pukul 15.30 WIB, selanjutnya bersama teman-teman di kompleks rumahnya, mereka pergi mengaji di TPA. Kegiatan belajarnya setiap malam dilakukan pukul 18.30 setelah sholat Maghrib hingga pukul 20.30 WIB dengan didampingi langsung oleh Ibu ataupun Ayahnya yang dilakukan secara bergilir.

Anak-anak dari pasangan Ibu Asih dan Bapak Ali tidak diizinkan menonton televisi sepanjang Minggu malam hingga Jumat malam. Mereka hanya diizinkan menonton saat Malam minggu hingga hari Minggu sore. Itu pun sangat dibatasi, pada acara kartun atau komedi.

Kegemaran Rona adalah mengarang, itu sebabnya ia menyukai pelajaran Bahasa Indonesia. Di rumah, ia selalu menyempatkan diri menuliskan apa yang ia lalui sehari-hari di buku hariannya.Pelajaran yang kurang begitu dikuasai Rona adalah matematika. Oleh karena itu,  Ibu Asih selalu berusaha untuk mendampingi Rona ketika ia sedang belajar.

Saat orang bertanya pada Rona apa cita-citanya, dengan mantap, Rona akan menjawab : Guru. Karena itu, baik Ibu maupun Ayahnya selalu mendorong dan mendoakan Rona agar ia mampu meraih apa yang dicita-citakannya.

Dari penuturan ibunya, diketahui bahwa Rona telah dilatih untuk mandiri sejak Taman Kanak-Kanak, sehingga untuk membiasakan pola dan waktu belajar yang teratur, ia tidak begitu kesulitan. Apalagi anak pertamanya juga memberikan contoh yang baik bagi kedua adiknya. Akan tetapi, ibu Asih menyadari bahwa setiap anak memiliki sikap dan pembawaannya sendiri, salah satu sikap Rona yang menyulitkannya adalah karena ia terkadang merajuk/menggerutu serta sering bertengkar dengan adiknya. Akan tetapi, kondisi ini masih dapat dikendalikan oleh kedua orangtuanya, sehingga tidak begitu mempengaruhi kondisi kognitif maupun psikologis anak.

 

DIAGNOSA/ANALISA MASALAH

Dari wawancara yang penulis lakukan kepada ibu Asih dan pengamatan langsung kepada anak sebagai salah satu santri di TPA, penulis berpendapat bahwa :

  1. Rona adalah anak dengan tingkat kesulitan belajar yang rendah. Ini dikarenakan Rona berada dalam lingkungan akademis yang cukup kondusif. Terbukti dari penuturan ibu Asih yang begitu mendukung pendidikan yang terbaik untuk ketiga anaknya, melarang menonton acara televisi yang kurang bermanfaat, sekaligus berusaha melengkapi bacaan anak-anaknya dengan buku-buku yang berkualitas.
  2. Rona adalah anak yang religius. Ini dikarenakan keluarganya selalu menanamkan nilai-nilai agama dalam kehidupannya. Contohnya saja, disekolahkannya Rona ke sekolah dengan kultur islam, membiasakan anak-anaknya sholat berjamaah di rumah, dan mendorong anak-anaknya untuk rajin berangkat mengaji ke TPA.
  3. Rona adalah seorang anak yang disiplin. Sebab, sejak kecil ia terbiasa mengorganisasikan jadwal kegiatannya dengan baik di buku catatan tersendiri. Sehingga, kematangan pribadinya cukup terbentuk dari kedisiplinan yang ditanmkan kedua orangtuanya.

 

 

SOLUSI
Hal yang patut menjadi perhatian orangtuanya adalah: Pertama,  makin banyak anak terlibat dalam kegiatan, makin banyak pula ia kehilangan kebebasannnya, kebebasan untuk bersikap jujur terhadap diri sendiri, untuk melakukan yang dikehendaki.

Anak-anak yang memiliki jadwal sehari-hari yang terlalu padat dan ketat akan gelisah apabila pada suatu waktu ia tidak melakukan apa yang terjadwal. Dalam hal ini, orangtua seharusnya bisa membantu anak-anaknya untuk bisa menemukan waktu luang yang bersifat mengkhusus dalam dirinya dalam satu bentuk antara kegiatan rutinitas belajar dan kegiatan pribadi. Mencegah suatu program kegiatan yang membanjir dan padat perlu dilakukan oleh orangtua merupakan bentuk kasih sayang dari orangtua agar tercipta keseimbangan dalam diri anak secara langsung yang akan membentuk pertumbuhdan fisik dan psikis anak.

Kedua, berkaitan dengan disiplin dan permasalahannya. Disiplin pribadi memang meningkatkan ketekunan serta memperbesar kemungkinan anak-anak untuk berprestasi dan berkreasi. Ada dua jenis disiplin, yang pertama berdasar pandangan lama dan yang kedua berdasar pandangan baru. Berdasar pandangan lama, orangtua cenderung melarang atau mencegah perbuatan anak dengan intimidatif, sedangkan dalam pandangan baru orangtua memperbolehkan anak-anak mengeluarkan isi hati dan perasaan. Tetapi orangtua berhak mengarahkan dan mencegah dari hal-hal yang kurang baik. Cara mencegah dan membatasi haruslah dilakukan dengan hati-hati agar jangan sampai melukai hati dan harga diri anak.

Dalam hal ini, orangtua Rona telah menanamkan disiplin dengan memberikan pemahaman yang cukup memadai, sehingga tidak terkesan intimidatif, akan tetapi demokratis dan juga penuh rasa kasih sayang.

Ketiga, mengenai sebab pertengkaran kecil yang terjadi antara Rona dan adiknya. Memang, persaingan antar anak kandung dapat terbentuk, mulai dari yang lemah sampai yang berat. Yang lemah berupa ejek mengejek, sedangkan yang berat berupa pemukulan secara fisik. Persaingan anak kandung ini dapat mempengaruhi kepribadian anak. Bermacam-macam perasaan pun bisa timbul, mulai dari rasa kurang aman sampai rasa kurang tenteram berada di rumah karena adanya perasaan tidak cocok.

Masalah persaingan antar anak kandung merupakan salah satu dari sekian banyak aspek psikologis yang harus diperhatikan dalam menunjang terbentuknya pribadi yang sehat. Persaingan yang meruncing dapat menimbulkan kepribadian yang destruksif-agresif bagi pihak yang ‘kalah’.

Untuk mengatasi persaingan ini, harus dilakukan dasar-dasar pembinaan. Perlakuan konfrontatif mencari siapa yang salah dan siapa yang benar hanya akan meninggalkan bekas yang menyakitkan hati. Pada anak, akan muncul sikap ambivalensi, yaitu sikap benci-benci tapi sayang. Karena itu, sikap pendekatan untuk menyelesaikan konflik antar anak kandung dengan cara keadilan dan kebenaran kurang begitu efektif.

Apabila dianalisa, anak yang memiliki adik merasa senang sekaligus kurang senang saat ia memiliki adik, yang ia anggap telah menyerobot dan mengurangi kasih sayang serta perhatian orangtua padanya. Pertengkaran anak sekandung pada dasarnya merupakan titik kulminasi dari perasaan kurang senang atau iri yang telah lama dipendam.

Setelahnya, anak-anak harus mendapat program penyelesaian konflik secara emosional dan pribadi, masing-masing pula harus mendapatkan giliran untuk menentramkan emosi secara interpersonal.

Tahapan penyelesaian masalah ini antara lain:

  1. Menentukan masalah
  2. Membentuk penyelesaian masalah
  3. Menumbuhkan motivasi untuk menyelesaikan masalah
  4. Evaluasi penyelesaian masalah
  5. Menentukan cara yang terbaik sampai mengadakan revaluasi

KESIMPULAN

Tingkah laku manusia pada hakikatnya memiliki keanekaragaman, termasuk pada anak-anak. Sebagai orangtua maupun guru, kita harus melihat keberagaman itu sebagai tanda perkembangan sejarah individu yang ditakdirkan Tuhan Yang Maha Esa. Dengan demikian, kita akan melihat manusia lebih tajam secara manusiawi, kita bisa menerima perbedaan yang ada, yang tentunya masih dapat diterima oleh manusia rata-rata yang disebut sebagai standar deviasi kepribadian.

Selain itu, kita harus menerima bahwa mendidik anak-anak tidak perlu harus kaku, keras tertancap dalam suatu cara atau sistem, tetapi menggunakan sistem fleksibilitas antara: disiplin, tegas, dan pendekatan keterlibatan batin perasaan manusiawi.

 

SUMBER BACAAN

Sukardi, D. K. (1984). Bimbingan Perkembangan Jiwa Anak. Jakarta: Ghalia Indonesia.

Sunarto, P. D., & Hartono, D. B. (1995). Perkembangan Peserta Didik. Jakarta: Depdikbud.

 

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s