Malaikat Penjagaku


Ia, yang kusayang, hari ini bertanya padaku, “Menurutmu aku ini bagaimana?”

Serta merta bayangan akan dirinya tergambar jelas di memoriku. Dia dengan hangat peluknya saat ku butuh, dia dengan genggamannya yang erat menguatkan, dia yang kehadirannya selalu membuatku merasa nyaman, dia yang selama 5 tahun lebih ini menyaksikan tumbuh kembangku secara utuh. Ya, itu dia.

100_7413

Aku mengenalmu lima tahun lalu saat kau masuk ke kos Az Zahra dan menghuni bekas kamarku. Belum banyak yang ku ketahui tentangmu sebenarnya, tapi dibandingkan denganku yang tak henti bercerita macam-macam, kau sering diam dan hanya mendengarkan. Sementara aku tak mau lepas dari buku-buku ‘aneh’ dan malah abai terhadap sekolah, kau rajin mengerjakan tugas di kamar, sambil nonton TV, sambil bermain m-Xit, sambil ngemil dan minum kopi. Kau suka sekali kan?

Lalu pelan-pelan aku mengenalmu. Kau suka pramuka, aku suka membolos pramuka. Kau tak suka menunda mengerjakan tugas untuk pekan depan, aku suka mengerjakannya ngebut dalam semalam. Kau suka mengingatkanku untuk sarapan, aku suka bilang: ah, nanti saja. Kau juga yang memasukkan motorku kalau aku lupa menaruhnya di luar kos sampai malam, terimakasih ya.

Waktu berjalan, kita mulai saling mengenal lebih jauh. Kau marah padaku karena aku sering lupa mengunci pintu kos. Kau berbagi makananmu karena aku malas membeli. Aku merasa nyaman karena selama 15 tahun hidup sebagai sulung yang mesti mandiri, kehadiranmu membuatku bisa memanjakan diri dengan nyaman, yaa begitulah.

Aku berhenti kos selama dua bulan sejak sering sakit-sakitan. Aku kehilangan sosokmu. Lalu aku kembali dan menemukanmu sama dengan hari-hari sebelumnya, ada dan selalu ada.

*

wah,mamih disuat nenekKita lebih terikat sejak kenaikan kelas. Di papan pengumuman, aku melihat namamu di deretan nama siswa kelas XI IPA 1.

“Yes, sekelas!!!” Pekikku senang sembari berusaha mencari keberadaanmu di tengah kerumunan.

“Hahaha.” Kau pun tertawa (Apa dalam hati kamu menangis? :p)

Maka, dimulailah hari-hari kita di kelas XI. Senin-Kamis aku disibukkan dengan sejumlah les: Matematika, Kimia, dan Fisika, sementara kamu terlihat tetap nyaman dan ‘biasa saja’, mencukupkan diri dengan belajar sendiri di kos. Saat Jum’at, aku ikut halaqoh sementara kamu ikut Pramuka.Tapi aku senang sekali karena kamu masih sering mengerjakan tugas, jadi setiap pagi aku akan bangun lebih awal agar bisa menyalinnya. 😀

Aku merasa bersalah kalau nilaiku lebih bagus, tapi mau bagaimana lagi? Takdirku dibersamai malaikat pembawa keberuntungan sulit ku elakkan. *eh

Karena suatu hal, kita terpaksa (atau malah senang hati) harus pindah kos. Tahukah kamu bahwa dengan sengaja aku menjebakmu untuk kos bersama teman liqo-ku? Kita semakin sering sholat berjamaah, mengaji bersama, membaca almatsurat bersama, bahkan kamu pernah aku ajak mengikuti halaqoh-ku.

Aku senang sekali karena kamu masih suka mendengarkan. Aku mengeluhkan segalanya padamu. Dari mulai seorang yang diam-diam ku taksir, mamahku yang sakit-sakitan, friksiku dengan beberapa teman di rohis, kegamanganku memutuskan untuk kuliah dimana pascalulus.. Seeemuuuanya tanpa terkecuali.

Terimakasih untuk selalu ada seperti guardian angel. Yang pertama kali kulihat saat kubuka mata di pagi hari, yang pertama kali kulihat saat hendak kupejamkan mata di malam hari, yang sepanjang hari kulihat ‘berkeliaran’ di sekitarku.

Di kelas XII, kita lebih dekat lagi. Sejak kau memutuskan berjilbab dan mengikuti mentoring, aku sering habiskan waktu denganmu, senang meluangkan waktu di akhir pekan untuk menginap di rumahmu, berkenalan dengan ibu-bapak dan kedua saudaramu, menganggap mereka sebagai keluargaku sendiri.

100_7688

Jelang momen kelulusan, kegamanganku memilih universitas akhirnya muncul, kau pun sama. Tapi kita memutuskan untuk kembali bersama. Aku bahkan berjanji kalau tidak diterima di universitas yang sama denganmu lewat SNMPTN Undangan, aku akan mengikuti SNMPTN tulis di Universitas yang kau pilih.

Aku agak hilang ingatan soal mengapa kita memilih Solo. Mungkin karena awalnya aku yang terobsesi menikah dengan orang Solo (jangan tanya sekarang masih apa tidak). Hahaha. Tapi apapun itu, pada akhirnya, kita memilih Solo. Malam pengumuman SNMPTN Undangan, kamu orang pertama yang kuhubungi, tapi kamu sangat payah, kamu belum mengeceknya. Astaga. Kamu ini apa-apaan sih?

Paginya baru kamu sms, aku diterima. Jantungku sudah mau copot.

Oke, kita satu ‘sekolah’ lagi. Ibuku cukup lega mendengarnya, ia berharap kamu menjagaku, selalu. Dan memang begitu.

2 tahun lebih sejak kita di Solo, kamu selalu ada, menjadi malaikat tak bersayap yang selalu hadir setiap waktu. Kita berdua datang ke Solo berdua saat itu, bingung mencari Pesma Ar Royyan tempat kita akan menginap selama masa registrasi mahasiswa baru.

Aku masih ingat tatapan tak percayamu saat kau memesan soto, dan yang ibu penjual hidangkan adalah nasi dengan kuah dan cuilan daging ayam. Aku tertawa.

Aku masih ingat saat mencari makanan buka puasa pertama kali kita di Solo, kau memarahiku karena kubeli lontong sayur (yang pasti ada santannya), kau bilang : nanti perutmu bermasalah lagi. Dan sekali lagi, kau benar.

Aku masih ingat selalu memaksamu mengikutiku, ikut ini, ikut itu. Dari mulai DR UKMI, DR SKI, sampai Dauroh Marhalah 1 KAMMI. Kamu selalu mengabulkan keinginanku saat aku merajuk: ayo ikut, ayo..Terimakasih.

Aku masih ingat kau menuliskan laporan kimia-ku saat kuminta tolong padamu dengan muka memelasku, dan kau mau. Terimakasih.

Aku datang ke kamarmu dan tidur di sampingmu saat kau telah terpejam, kau beringsut dan membiarkanku tidur di sampingmu. Kadang malah kau relakan diri tidur di lantai. Terimakasih.

Aku memaksamu mendengar seluruh cerita tak berkesudahanku lagi, tentang ketidakpercayaanku pada segala, hal-hal baru yang kupelajari di tempat lain, ketidaksukaanku pada orang-orang. Dan kamu selalu mendengar dengan seksama. Terimakasih.

Aku memintamu menjemputku di stasiun, mengantarku ke gerbang depan, ke kampus, hanya karena aku ‘manja’, tidak mau naik motor sendiri, lebih senang diantar jemput.

Aku mengajakmu pergi ‘main’ sekali setiap pekan di sore hari, makan es krim, rujak, kebab, jus. Aku tahu kamu sibuk dan banyak tugas, tapi kamu selau bilang: oke.Kau tak pernah ingin membuatku kecewa. Terimakasih.

Pada akhirnya, hanya ini yang bisa kukatakan padamu: Terimakasih telah menjadi ‘Malaikat Penjaga-ku’.

Selamat Ulangtahun ke 21.

Jangan khawatir lagi padaku, aku juga sudah cukup dewasa dan mandiri.

Aku tahu kamu akan mendapatkan jodoh terbaikmu, semoga ia lekas datang. Aamiin Ya Rabbal ‘alamiin.
With Love
Your sister,

Alikta

100_7538

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s