Budak Masa


*sebuah tulisan refleksi setelah mengomentari status  Mahmud Nur Kholis  

Apabila kita melihat kebudayaan barat , akan dapat kita lihat betapa pemikiran barat berkembang dari satu titik ekstrem ke titik ekstrem lainnya.

Pada zaman Yunani-Romawi, alam pikiran barat bergerak dalam alam mitologis yang berakar pada mitologi Yunani kuno. Seperti halnya pada wayang, ada banyak tuhan, banyak dewa yang sering bersinggungan kepentingan dengan umat manusia hingga menimbulkan bentrokan-bentrokan yang tak terhindarkan. Meskipun manusia memiliki keberanian melawan, akan tetapi para dewa-lah yang berada di atas angin. Kepercayaan mitologis inilah kita kenal sebagai paganisme.

Pada zaman pertengahan, manusia dibebaskan dari ketakutan terhadap dewa-dewa dan hanya memberikan ketundukannya kepada Tuhan yang satu dan Kitab Suci. Pandangan ini disebut teosentris.

Pandangan teosentris kemudian semakin ditinggalkan disebabkan lahirnya pandangan antroposentirisme/ humanisme ekstrem yang mengacu pada ke-maha-an manusia sebagai penguasa realitas yang menentukan nasibnya sendiri. Maka dewa, Tuhan, dan kitab suci tak diperlukan lagi.

Revolusi ilmu pengetahuan yang terjadi pada zaman renaisans memang membawa banyak kemajuan bagi perkembangan umat manusia, akan tetapi disisi lain membawa masalah-masalah baru. Semangat membebaskan diri dari Tuhan melahirkan agnositisme terhadap agama dan dalam tahap selanjutnya melahirkan sekularisme. Sekularisme menghasilkan paham bahwa ilmu pengetahuan secara inheren bersifat bebas nilai.

Refleksi akan cita-cita barat ini akhirnya menyebar ke seluruh dunia melalui pendidikan barat yang sampai ke Indonesia. Semangat yang melahirkan kepercayaan bahwa kemajuan ilmu pengetahuan akan dapat terjadi jika kita terbebas dari kungkungan agama.

Namun, realitas yang terhampar dihadapan menimbulkan persepsi yang sebaliknya. Nyatanya, dibalik kemajuan ilmu pengetahuan dan teknologi tersimpan potensi mengerikan yang dapat menghancurkan martabat umat manusia.

Manusia yang menciptakan sistem. Manusia pula-lah yang menjadi tawanan dari sistem-sistem hasil ciptaannya itu. Sejak manusia memasuki zaman yang kita kenal sebagai zaman modern, manusia berhasil mengembangkan potensi-potensi rasionalnya, mereka telah terbebas dari belenggu pikiran mistis dan irrasional, namun disaat yang sama, manusia terjebak dalam penghambaan lainnya: penyembahan terhadap dirinya sendiri.

Islam memberikan gambaran yang jauh bertolak bertolak belakang dengan gagasan-gagasan yang muncul sebelumnya. Islam mengajarkan pembebasan, bukan pengekangan. Dalam Islam, aktualisasi manusia hanya dapat terwujud manakala ia mengabdikan diri pada pencipta-Nya dengan senantiasa membersihkan dirinya secara terus-menerus serta melaksanakan tugas dan perannya untuk memakmurkan bumi.

Poin penting yang ingin saya sampaikan adalah: manusia karena kesadarannya, keberadaan sosialnya, dan kebenaran eksistensialnya memiliki orientasi transdental. Orientasi inilah yang membuat manusia semestinya tidak terjebak dalam bermacam-macam aliran pikiran dan filsafat yang malah merendahkan martabatnya sebagai manusia yang terbelenggu dalam kekangan dan absurditas.

NB. selanjutnya saya ingin menulis mengenai pendidikan Islam, ditunggu ya.

Maturnuwun.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s