Menguji Janji


Serangkaian peristiwa yang belakangan terjadi disekitarku, tepat di depan mataku malah, membuatku kembali belajar mengeja bahasa pertanda.

Kali ini, tentang janji.

Begitu mudah kita mengumbar janji. Tanpa sadar, membuat orang lain berharap kita mampu memenuhi harapan dan asa yang ia lukis.

(Sayangnya, kata hanyalah kata, terlempar keluar dari lidah yang tak bertulang)

Sekali lagi, janji hanya sekedar kata. .

 

Ada janji-janji yang terpatri di benak, tak terusik oleh para penagih janji yang bersliweran meneror dengan sms-sms panjang dan panggilan-panggilan di sela padatnya aktifitas.

Ada juga janji-janji yang terukir di kalbu, hampir terlupa oleh sebab debaran yang tak kuasa menghalau buncah rasa yang kian kabur maknanya.

Mendadak aku sadar, aku terjebak dalam janji-janji.

Janjiku.

 

Saat aku masih istiqomah menempuh perjalanan Kentingan-Kleco dengan menggunakan bus, sering aku berharap akan ada seorang kawan yang mendadak menghentikan laju motornya di dekatku, menawariku membonceng. Tapi selalu nihil.

Karenanya, aku berjanji dalam hati, jika motorku sudah datang, akan kusempatkan memelankan laju motorku, menawarkan dengan setulus hati siapa pun yang mau turut serta. (makanya dulu sering bawa dua helm kemana-mana), nyari-nyari orang yang mau diboncengin  dari gerbang depan ke belakang.

Tapi itu tak berlangsung lama. .

Segera saja aku malas memutar jalan. Aku mencari bermacam dalih untuk pembenaran argumenku. Dari mulai aku yang memang sudah capek, bensin yang harus irit, dan lain-lain, dan seterusnya. Janji itu terlkalahkan oleh ‘argumentasi pembanding’

Lalu sebagai kompensasi, aku berjanji akan mengantar-jemput siapa saja yang meminta tolong padaku. Saat aku merasa lelah, otakku pun dengan sigap mencari alasan-alasan rasional yang bisa dengan mudah hatiku terima.

Lalu, aku lupa.

Saat dulu aku dirawat di rumah sakit karena peradangan di usus, aku berjanji tidak akan minum kopi dan mie instan LAGI. Tapi kubilang lagi pada diri, “sebulan sekali nggak masalah”, makanya masih saja kusempatkan diri untuk beli kopi dan mie instan -_-

Tapi belakangan aku mulai melanggar tetek bengek komitmen dan janji untuk menghindari keduanya. Yah, aku minum kopi dan makan mie instan.

Saat aku sakit pada diri karena berkhianat pada komitmen yang aku ikrarkan, aku berjanji tak akan lagi mengulanginya. Tapi kuulangi lagi. Rasanya tak sesakit saat pertama melakukannya.

Tadi siang, dalam sekelebat, bayangan akan janji-janji yang pernah kuucap bermunculan di kepalaku. Setiap kali kuucap “InsyaAllah”, setiap kali kuucap, “Oke”, setiap kali kubilang, “Yep.”, sejatinya aku sedang berjanji.

Ada janji dalam tiga huruf berjejer itu. Terucap dengan mudah, terabaikan dan dilupakan dengan leluasa.

 

Apa karena lidah tak bertulang lantas mudah saja janji demi janji datang dan pergi?

Lewat dan terlewati tanpa membekaskan jejak yang kan dikenang atau memberi arti.

 

Tengah malam, Kos mila

(tanpa buku harian, tanpa pulpen, ini pun pinjam)

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s