Salam Kenal, An


Aku telah membaca surat darimu, ditemani berbagai macam suara, tentu saja. Di kamar sebelah, sedang ada yang menyetel lagu Super Junior yang judulnya entah apa. Aku tak tertarik untuk tahu. Di sebelahku, beberapa kali nada sms masuk berbunyi, dan dengan sigap dan asyiknya teman sekamarku mengetik keypad handphone miliknya untuk membalas sms itu.

Disini, aku membaca suratmu, dan mulai menggerakkan jari jemari di atas deretan angka dan huruf yang berjajar acak ini demi membalasnya. Kulakukan bukan karena janjiku untuk membalas suratmu, tapi atas dasar kebutuhan pribadiku, untuk membaca diriku sendiri sembari membaca kalimat-kalimat yang kau rangkai, dan menjelaskan keadaanku dengan bahasa yang lebih sederhana (seperti katamu).

Ya, tentu saja kau mendengarku bicara. Aku tahu. Aku juga mendengarmu bicara. Terimakasih karena berbeda dengan yang lain, kau memanggilku ‘Al’, hanya ‘Al’, tanpa embel-embel ukhti. Bukannya ilfeel, aku juga tak nyaman dengan itu. Yah, bagiku, ketidaksepakatan terhadap code switching macam akhi, ukhti, ikhwan, akhwat, ‘afwan daaannnn lain-lain, tak menunjukkan bahwa kita liberal, sekular, atau apapun namanya. Itu menunjukkan hal lain, yang tak bisa kuuraikan dengan bahasa sahaja disini.

Aku baik. Kuharap kau pun demikan.

Orang bilang, aku bukan orang yang pandai berkomunikasi, menyampaikan gagasan secara utuh, padu dan mudah dimengerti. Kau bukan orang pertama yang mengatakan hal ini. Saat aku menjadi staff di LDF, mbak-ku pernah berkata agar aku mulai melatih diri berkomunikasi dengan orang sebayaku seperti layaknya orang ngobrol, bukan seperti berbicara dengan buku.

Kak Adi, pernah mengatakannya pula padaku “Bicaralah dengan sederhana, Al.”

Teman sekelasku pernah bilang, “Aku suka gagasan yang kamu ungkapkan, tapi bisakah kamu memilih kata yang lebih sederhana agar bisa dimengerti oleh semua?”

Seorang kawan pernah bilang, “Aku nggak mudeng kamu ngomong apa. Istilah-istilah yang kamu gunakan terlalu asing untukku.”

Semua itu membuatku membenci diri sendiri. Mulai dari cara pikir, cara bicara, cara menulis, cara menerjemahkan apa yang ingin otakku sampaikan ke dalam bahasa lisan. Aku asyik dalam simpulan yang kurajut sendiri, lalu bahasa-bahasa sederhana yang sejak kecil aku gunakan tak lagi jelas dalam ingatan, lalu lahirlah bahasa menyebalkan ini.

Yep. Aku sepakat. Kemajuan haruslah bersifat kolektif, bukan berhenti pada taraf individu yang sifatnya personal. Hanya saja, setiap individu juga harus memunculkan kesadaran itu dalam dirinya, secara sadar! Tidak mungkin kita mengumpulkan kerumunan orang di lapangan, berorasi lantang dan panjang lebar soal kemajuan peradaban, lalu selesai, dan kerumunan kemudian akan mendalami dan menjiwainya secara sadar. Seperti sifat kerumunan yang kontemporer, maka euforia semangat perubahan itu akan lekas habis. Aku ingin semua orang pun paham, pintar, dan yang mesti kau catat An, aku tak sepintar dan sehebat yang kamu tuliskan dalam suratmu.

Kau bertanya kabar untuk kedua kalinya. Aku baik, masih baik. Alhamdulillah.

An, aku mulai menangkap arah suratmu, kekhwatiranmu padaku, bila aku mengalami hal yang sama denganmu, membenci diri sendiri, tidak bisa bersosialisasi dan berkomunikasi sebagai manusia. Aku paham An, aku pun berharap begitu.

Terlambat memang. Sebab aku sudah terlanjur benci dengan bahasaku yang menyebalkan, dengan caraku menyampaikan gagasan yang tidak berjalan dalam kerangka pikir yang padu, dengan sederhana, yang tentu saja mudah dimengerti orang lain. Aku merasa gagap dalam gugupku, betapa sulitnya mengucapkan kata, betapa merepotkan untuk berujar, betapa takutnya dianggap sok pintar, betapa sulitnya menjembatani maksud dengan orang lain.

Berbagai pikiran berkecamuk di benakku saat aku ingin bicara. Tapi aku memberanikan diri, memulainya, kupikir itulah yang harus kita lakukan: menyelami hal mendasar dalam setiap jiwa kita. Dan bahwa saat kita bicara, itu sama sekali bukan untuk ‘kepuasan’ diri kita sendiri, melainkan kita ingin banyak orang membuka jembatan ke dalam dirinya sendiri, mengetuk setiap pintu yang terkunci, membuka ruang-ruang bernama: pemahaman baru, dialog, keberterimaan mereka menerima cara menyampaikan gagasan orang lain.

Aku harus siap tidak disukai, kadang dibenci, mungkin pula dihargai (seperti yang kau lakukan padaku).

Aku pernah katakan hal yang sama pada Mas Kun beberapa bulan lalu. Aku pikir dengan posisinya saat itu, ia tengah berjuang seorang diri, terseok, rapuh, tapi berusaha bertahan dengan gigih. Tapi dia bilang, saya tidak sendiri.

Dan saat itu kusimpulkan, ia memang tak sendiri. Ada orang-orang yang senantiasa menyertainya, mungkin tak banyak, mungkin terus berganti karena orang datang dan pergi sedang kita tak berpindah tempat, mungkin terus berganti karena kita terus berlari sedang yang lain tertinggal atau mendahului. Yang pasti An, aku yakin aku tak pernah sendiri.

Ada kawan yang dengan candaanya mengobati sepi. Ada mbak dan mas yang dengan tuntutannya memaksaku produktif. Ada kawan yang menemani berjalan beriringan (mereka datang dan pergi). Ada kawan yang mengirimkan padaku rangkaian kata bermakna ini, membuatku berpikir kembali akan diriku. Terimakasih.

Sistem tak akan pernah bisa ditegakkan oleh personal dengan menghancurkan yang telah ada serta membentuk pondasi baru. Kita akan terlalu lelah untuk itu, butuh waktu yang sangat lama, An.

Aku yakin, kegelisahan ini bukan milik kita berdua. Banyak orang diluar sana yang memiliki kegelisahan yang sama dalam tolak ukur dan perspektifnya masing-masing. Bersama mereka-lah kita akan bergerak, menautkan daya dan upaya, mengkolaborasikan gagasan, hingga terciptalah yang genuine, yang khas, hasil pertautan ide dalam sebuah asa suci.

Kini, giliranku bertanya, (karena waktumu mungkin tinggal beberapa bulan lagi di kampus), bisakah kau ceritakan padaku segala hal yang telah kau alami? Kau bisa menceritakan tahun pertamamu lewat surat keduamu nanti, tahun keduamu lewat surat selanjutnya, dan seterusnya. Mungkin kau bisa membaginya dalam tema. Aku tak tahu mana yang membuatmu lebih nyaman.

Mungkin kau tak ingin, tak apa. Cukup balas saja surat ini, di tengah sibuknya kau menjelajah alam dan berkutat dengan tugas akhirmu di akhir masa kuliah.

Terimakasih untuk suratmu.
Salam,

Al

surat dari An : http://anggakade.blogspot.com/2013/11/perkenalan-aku.html

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s