Tentu Kau Bisa, An!


Hai An!

Maaf baru membalas suratmu setelah hampir satu pekan berlalu. Bukannya aku tak sempat, hanya memang menyengajakan diri untuk membalas suratmu sabtu malam atau ahad pagi. Ya, jadi inilah, kuawali dengan berkata Hai. Normatif sekali ya?

Baiklah, jadi harus kumulai darimana?

Mengenai spekulasi yang mungkin akan berkembang di luar mengenai surat-surat ini. Entahlah. Aku juga tak tahu. Aku mencoba untuk menikmatinya, seperti saat aku membaca Dear John karya Nicholas Sparks, bukannya Dunia Sophie-Novel filsafat yang membuat keningku berkerut. Intinya, aku ingin mengenal diriku, mengenalmu, mengenal hal-hal kecil bermakna yang kita bahas dalam surat ini maupun surat-surat kita selanjutnya. Meski aku akan menulis surat terakhirku, pada akhirnya.

(Aku suka pada kenyataan bahwa kita mengawali setiap surat dengan menceritakan suara yang kita dengar). Nah, aku, petang ini, mendengar begitu banyak suara. Di belakang asramaku ada rel kereta, jadi bisa kau bayangkan, aku berkali-kali mendengar suara kereta di belakang sana. Dekat, namun sekaligus jauh. Berisik, tapi bikin kangen. Apa ya namanya. Di sisiku, temanku sedang memutar lagu westlife, bergilir, banyak, tak bisa kusebutkan. Di kepalaku, ada suara murottal al-Qiyamah untuk setoran hafalan esok hari. :3

Menjaga kondisi tubuh. Yep. Aku tidak suka saat tubuhku lemah dan sakit, konsentrasiku buyar dan yang kulakukan hanya tiduran, malas-malasan, nggak produktif.

Kali ini,  aku membiarkan tanganku bergerak leluasa di atas keyboard tanpa khawatir menuliskan sesuatu yang salah, kaidah berpikir yang tidak runtut, berantakan. Ah, semua itu benar-benar belenggu. Maka, kubiarkan mengalir saja kata-kata ini.

Kuharap kau menangkap maksudku dengan terang.

Kuharap. Ya, Kuharap.

Tawaranmu menarik. Kupikir akan menyenangkan. Tapi seperti kau bilang tadi, kelasnya malam. Aku tak mau ambil resiko pulang malam. Nanti jadi kebiasaan (padahal udah biasa). Yaa. . . Maaf, aku belum bisa bilang iya untuk tawaran kelas itu. Tapi, terimakasih.
Aku belum pernah mempelajari filosofi chakra seperti yang kau ceritakan di suratmu. Tapi, aku pernah membaca pengalaman seorang Muslim yang mempelajari meditasi, semacam itu lah. Dia menemukan ketenangan, ketentraman, dan perasaan-perasaan yang membuatnya merasakan kedekatan dengan Yang Mutlak, tanpa sekat dan batas. Dia menemukan, bahwa yang menghalanginya menjadi satu dengan keluasan jagad dan menemukan hakikat kebenaran dan kesejatian tertinggi adalah satu sekat yang ia ciptakan dalam tempurung kepalanya. Sekat itu begitu tinggi, tebal, dan mengungkung dengan teramat. Saat ia melakukan meditasi, ia baru sadar bahawa : DIRINYALAH YANG MEMBANGUN SEKAT ITU.

Saat ia merobohkan sekat itu. Dia pun menemukan kenyataan lain, bahwa dirinyalah sekat itu. Dia yang menjauhi sumber dari segala sumber hakikat batiniah yang menentramkan. Dia menemukan sebagaimana yang ia pelajari dari sabda Nabinya, “Kenalilah dirimu, maka kau akan mengenal Tuhanmu.”

Tapi, aku belum mengenal diriku sepenuhnya. Secara fisik aku tak tahu pasti berapa tinggi badan atau berat badanku. Bahkan, saat mengisi formulir (apapun itu), aku selalu kebingungan untuk mengisi kolom ‘bakat’. Itu menyedihkan. Benar-benar menyedihkan.

Aku selalu ingin menjadi diriku, tapi aku tak tahu apa aku benar-benar mencintai diriku atau tidak. Aku sering merasa tidak pede dengan mata sayuku, dan meski seorang kawan bilang itu membuatku terlihat ‘cantik’, aku tetap tak suka orang lain mengungkitnya, aku tak suka orang melihat ke dalam mataku. Apakah itu salah satu bentuk dari kufur nikmat?

Aku selalu ingin menjadi diriku, tapi aku tak tahu apa aku benar-benar mencintai diriku atau tidak. Aku sering merasa tidak puas dengan tulisanku. Beberapa kali aku membuka ms.word, menulis beberapa kalimat hingga menjadi paragraf, kubaca ulang, kugerakkan pointer, dan dengan sekali geser ku tutup jendela ms.word tanpa menyimpan tulisan itu. Bukannya perfeksionis, hanya saja aku sering melibatkan terlalu banyak ‘rasa’ dalam bahasaku, dan itu selalu kuulang dan kuulang lagi. Aku sendiri bosa membaca tulisanku. Bagaimana orang lain?

Hehe. Soal golongan darah. Aku cukup berantakan dan tak tertata :D, membagi dengan tema, kurasa agar lebih memudahkan saja. Kalaupun tidak, biarkan saja mengalir, seperti air (kutanggung semua resiko yang kau bilang tadi), mau ngalir ke sumur, sungai, comberan, got, gelas. Muaranya sama, laut.

Ngomong-ngomong soal AIR, aku sedang berpikir: mengapa dengan begitu mudah kita melabeli segala sesuatunya ya? Air yang jatuh dari langit kita sebut hujan. Air kotor yang menggenang, kita sebut comberan. Air yang bergulung di laut kita sebut ombak. Air yang berbusa, kita sebut buih.Bukankah semua itu pada akhirnya bermuara ke tempat yang sama? Laut? Tapi bagaimana kalau muaranya bukan laut? Bagaimana kalau muara dari tiap tetes air, dimana pun itu adalah setiap makhluk hidup di muka bumi? Jadi, air ia membawa fungsi normatif untuk menghidupi kehidupan. Bisa jadi. Bisa jadi.

Wah, terlihat dari suratmu, kau begitu menikmati masa-masa kuliahmu di FSSR. Kau suka detil ya, aku bisa melihat dari bagaimana kamu memberikan komentar pada tulisan-tulisanku sebelumnya. :v

Kak Adiwena. Satu kutukan mendapat murobbi seperti dia. Aneh sekali. Dulu aku malah jatuh bangun mengejarnya untuk menjadi ‘guru’-ku.  Hahaha. Perlakuannya berbeda, jika padamu ia mengajarimu membongkar setiap detil pemikiran tentang pergerakan dari sudut pandangnya, padaku, ia bilang: Berhenti Alikta. Berhenti. Menyepilah ke tempat yang asing, hingga kau tak lagi asing dengan dirimu sendiri. Setelahnya, kau bisa mencari lagi.

Begitu katanya. Dan ia benar, sebenar-benarnya. Aku tersesat, nyasar, nyungsep, jatuh, bangun, jatuh lagi, tersesat lagi. Semuanya benar-benar membuatku pusing.

Ia bilang “Aku tahu ada paradoks dalam dirimu. Kebimbangan memilih barisan atau tidak. Kebimbangan memilih barisan warna apa. Kebimbangan memilih barisan untuk apa. Kebimbangan apakah barisan itu benar sebuah barisan atau tidak. Hingga kau sampai pada satu titik. Kau sendiri, tapi harus melindungi banyak orang.

Kau tahu? Kau itu winata. Suatu hari kelak kau akan lahirkan seorang yang akan gempur kahyangan untuk merebut air tirta amerta, lahirkan satu orang yang sanggup melawan seribu ular berbisa, putra kadru. Hari itu akan datang, hari dimana kau memegang dua telur. Satu telur akan mencelakaimu, satunya akan menyelamatkanmu.

Sampai saat itu tiba, harus kau jaga dirimu. Karena sungguh, angkara akan lahir dari winata sepertimu. Dimulai dari tumbangnya sahabat-sahabatmu. Atau sebuah posisi dimana akan kau lukai saudara-saudaramu demi kebaikannya.”

Aku tak mengerti mengapa ia bilang begitu. Kemungkinannya hanya ada dua, Kak Adi benar-benar tak mengenalku, atau ia sungguh-sungguh mengenalku lebih dari diriku sendiri. Aku tak tahu mana yang lebih tepat jadi jawabannya.

Merasa aneh saja jika ada yang anggap aku ini bahaya laten. Hallo, maksudku, aku cukup imut untuk mau berbuat jahat, apalagi membikin onar dan huru-hara. Aku bahkan tak tertarik dengan konstelasi politik kampus. Aku hanya peduli pada penyelamatan hak asasi, kepaduan langkah, kelajuan pemikiran biar tak tak terpasung. Hanya itu.

Kalau tahun pertamamu adalah tahun pengenalan diri. Tahun pertamaku adalah tahun penghancuran diri. Aku benci mengakuinya, tapi aku bersyukur. Aku bisa menemukan serpih-serpih ALIKTA menjadi ALIKTA yang padu, yang kau kenali sekarang ini, yang sedang merangkai kata-kata ini.

Ada yang mesti ku ralat, tahun pertamaku di Pendidikan Kimia, jadi sudah masuk FKIP. Kenapa aku pindah? Aku depresi, tapi tak mau benar-benar pergi. Aku memutuskan pindah di hari terakhir pendaftaran SNMPTN, jurusan keduaku ini, kuputuskan tak lebih dari 60 menit di warnet. Aku bahkan tak mengunggah foto kala pendaftaran itu.

Bisakah kau belajar? Ya, kau bisa. Dimanapun.

Pertanyaanmu sangat aneh.

Salam,

Al

surat dari An: http://anggakade.blogspot.com/2013/11/hai-al-bisakah-aku-belajar.html

2 tanggapan untuk “Tentu Kau Bisa, An!

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s