Surat Kecil Untuk Al #1


Surat dari Chus, membuatku berpikir panjang..

Menghela Nafas

Pembelajar biasa

Hai, Al.

Anggap saja kita sudah tidak bertemu sekian lama. Membiarkan tulisan ini mengalir. Yah, mugkin secara fisik kita dekat, akan tetapi kedekatan bukan soal apakah kita berada di jauh atau dekat secara fisik, namun lebih kepada sikap mengenang dan saling mempelajari tatkala jauh maupun dekat, iya kan, Al?

Layaknya seorang teman, ijinkan aku menanyakan pertanyaan klasik ini, “apa kabar, Al?”

Ku rasa kau akan menjawab keadaanmu baik-baik saja, walau selanjutnya kau akan menghujaniku dengan berbagai ceritamu yang panjang lebar. Kadang sampai bosan mendengarmu bercerita yang tiada habisnya.  Tapi lebih seringnya aku tertarik mendengar ceritamu dari pada mati bosan. Sering pula aku tidak fokus mendengarkan ceritamu karena kebiasaanku yang susah diam. Dan aku melihatmu masih bersemangat bercerita. Mungkin telinga ini, masih harus belajar untuk mendengar.

Al, mengapa aku menulis surat ini? Entahlah, aku dengan alasanku dan kau dengan alasanmu. Aku jadi teringat ucapan seseorang, “menulis merupakan proses masturbasi diri”. Ada…

Lihat pos aslinya 315 kata lagi

2 tanggapan untuk “Surat Kecil Untuk Al #1

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s