Entahlah, Risih


Jam delapan malam tadi, sebuah pesan pendek masuk. Dari seorang kakak yang meminta maaf atas kesalahan yang tidak ia lakukan. Aku jadi benci. Semua pikiran yang menyebalkan itu mendadak berseliweran hadir.

Lagi-lagi semua pikiran yang telah kusembunyikan di ruang rahasia, terkubur dalam ruwetnya labirin pikirku mampu kuakses dengan terang. Aku jadi benci. Seringnya, aku begitu menikmati kesendirianku. Duduk di satu sudut, menatap seluruh gerak dari kejauhan, memperhatikan tiap ekspresi dengan perasaan datar, dan tak ambil pusing dengan semuanya. Tapi hari ini lain. Aku cemburu.

Aku rasa aku mulai menjauh dari lingkungan sosialku. Aku jadi benci. Sebenarnya aku rindu, tapi keraguan dalam diriku begitu besar untuk turut serta. Sebenarnya aku ingin, tapi aku sudah terlanjur kecewa dengan diri sendiri. Ini susahnya. Aku jadi benci.

Aku merasa risih dengan diri sendiri. Aku jadi benci.

Risih, cemburu, tapi hanya bisa mengawasi dari jauh.

Aku kurang yakin akan mendapat penerimaan seperti dulu. Lalu aku menjauh.

Tapi aku berpura-pura mencintai. Berharap perasaanku membaik. Tapi masih risih.

 

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s