Seperti Kecanduan, An


Malam pukul 22.15 WIB aku mulai menulis surat ini. Beberapa hari ini aku juga lelah, sangat lelah, perasaanku agak kacau karena aku kehilangan seorang sahabat yang baru kukenal belum lama ini. Aku sudah merasa bahwa ia menjauh dariku dua hari kebelakang, tapi baru siang tadi kami benar-benar mengucapkan selamat tinggal. Aku tak yakin esok saat kami benar-benar bertemu, aku akan bersikap biasa saja, saling menghindar, atau malah pura-pura tak kenal. Aku rindu sekali sms-sms nya yang menyenangkan.

Aku sering tidur malam, membaca beberapa buku sambil melihat status facebook yang ditulis orang-orang. Kali ini sambil mengerjakan tugas mata kuliah Inovasi Pembelajaran mengenai Gaya dan Model Pengajaran.

Aku agak bosan karena beberapa temanku berpikir bahwa pelajaran harus selalu penuh permainan dan menyenangkan, padahal aku yakin beberapa siswa juga ingin menikmati proses pembelajaran dalam lingkungan yang teratur yang sarat dengan desakan dan tuntutan.

Dosenku berkali-kali bilang soal penalaran deduktif, tapi aku selalu suka memberikan pelajaran dengan penalaran induktif dasar, dimana siswa bisa mengklasifikasikan suatu objek dari seperangkat fakta yang ada, kemudian menghubungkan kemampuan baca-tulisnya dengan menggunakan model pengembangan konsep. Aku agak yakin akan menjadi guru yang kolot, sangat kolot dan menyebalkan.

Membaca awal suratmu, aku jadi ingat Chiung Yao. Kau mengenalnya? Aku kenal dia sejak masih di Madrasah. Dulu, saat aku kelas 4 ibuku menjejaliku dengan buku-buku terbitan Balai Pustaka (Sehabis Gelap Membara, Bukan Sekedar Basa-Basi, Menapak Tapak Jejak Sejarah, Patung Bung Parmin, Diantara Kali Opak dan Kali Progo, Menjaring Pelangi, dan lain-lain), Seri Petualangan Terjemahan (serial Lima Sekawan, Sapta Siaga, Trio Detektif, buku Sidney Sheldon, RL Stine, James Patterson juga), dan beberapa karya terjemahan sastrawan China, seperti: Chiung Yao, Ching Yun Bezine, satu lagi aku lupa siapa. Ching Yun ini penulis serial Pendekar Pemanah Rajawali, seingatku aku berhenti baca di seri ke-24 yang belum tuntas sampai sekarang, memang belum juga ada niat untuk mencari kelanjutannya si. Nah, kalau Chiung Yao ini aku mulai baca dari Putri Huan Zhu 1-3, lalu kulanjut dengan Trilogi Bunga Mei Hua (Misteri Perkawinan, Sanggar Kenangan, Putri Bunga Meihua), baru kelas 6 ibu memberiku buku-buku karya NH Dini, Mira W, dan Marga T. Jadi aku sudah dapat pendidikan seks dari buku sejak madrasah (mengingat buku-buku yang kubaca agak parah begitu). Aku sebutkan beberapa yang kuingat, siapa tahu kau pernah baca juga. Aku kangen sekali membahas buku-buku itu. Temanku tak ada yang suka, jadi kalau sudah kubaca, ya sudah, hanya aku yang tahu isinya.

Oke, soal dekatnya Surga-Neraka karena fotografi. Aku pernah baca Sanggar Kenangan Chiung Yao. Agak bisa memahami nalar orang-orang yang bilang segala macam bentuk keindahan yang sejatinya haram terekspose itu adalah seni, malah simbol dari kecintaan terhadap jagad gitu si. Pertemuan pertama Mei Ruohung (tokoh utama pria) dengan Tu Chienchien (tokoh utama wanita) juga terjadi karena keindahan alam yang membingkai sosok Chienchien di atas jembatan. Keindahan itu juga yang membuat Tzehsuan mau dilukis hanya dengan mengenakan selembar satin di tubuhnya oleh para anggota Sanggar Lukis Kuda Mabuk. Ya, begitulah. Itu salah. Kuharap kau menghindarinya, jika bisa.

(pindah jendela lain, mengerjakan tugas Inovasi Pembelajaran)

Bagiku, saat kita memahami betul hakikat penciptaan, kita betul-betul akan merasa bahwa kita bukanlah pribadi yang bebas. Ada sekumpulan hukum alam yang mengikat, hukum Tuhan yang mengatur, hukum-hukum yang dibuat manusia untuk membangun keteraturan, untuk menjauhkan diri dari ketidakbahagiaan, untuk membangun tata peradaban yang lebih baik. Tapi selalu kubilang berkali-kali, aku adalah pendulum yang bergantung pada satu titik. Titik itu adalah Tauhid, dan pendulum yang bergerak ke segala arah itu adalah aku. Bebas, namun terikat. Mampu berputar sempurna, bisa terlempar, bisa jatuh, makanya aku benar-benar mesti mengencangkan tali yang berpusat di satu titik ini.

Aku pernah mengalami keterasingan yang sangat dengan diri, sehingga konsep ‘aku’ menjadi begitu aneh. Aneh. Saat kau mulai menyebut sosok yang kau lihat di cermin sebagai ‘dia’. Dia yang memiliki tubuh kurus dan ringkih ini, dia yang tatapan matanya sayu, dia yang tampak selalu berpikir keras, dia yang menyimpan konsep ‘aku’ dalam kepalanya, yang selalu berteriak memintanya bekerja lebih keras, berpikir lebih keras, melakukan segalanya lebih baik dari yang selama ini mampu ‘dia’ lakukan.

‘Dia’ pernah mengalirkannya, hanya mengalirkannya saja dan berenang-renang dalam riaknya (meski pada kenyataannya ‘dia’ tidak bisa berenang), dan ‘dia’ dan ‘aku’ merasakan kenyamanan, sebab pada akhirnya konsep ‘aku’ dan ‘dia’ melebur jadi satu, menjadi Al. Hanya Al. Tapi seperti ekstasi, perasaan menyatu itu pun akan segera hilang. Lalu semua tampak lagi seperti ironi.

Entahlah, kata Kak Adi, itu dulu. Beberapa waktu lalu aku bertemu dengannya, dan ia bilang mestinya aku bisa mengambil langkah yang lebih besar, terobosan yang lebih berani, mengingat telah banyak yang selama ini kuketahui, kujelajah, intinya ia bilang aku punya modal, sehingga aku tak perlu lagi merasa rikuh atau bersalah atas hal-hal yang telah terjadi.

Kau tahu kan, semua orang pernah salah dan mengampuni diri agaknya pilihan rasional agar membuatmu terus melangkah. Dunia kan tak hanya berputar untuk memenuhi hajat hidup satu orang. Move on, Move on.

Tapi ‘aku’ dalam kepala tubuh ini terus mengatakan hal-hal mengenai siapa tubuh ini seharusnya, bukan siapa tubuh ini sesungguhnya. ‘aku’ terus berbicara soal parameter dan kriteria, ‘aku terus bicara soal indikator kerja dan evaluasi, ‘aku’ terus berkata: semestinya dulu kau tak pernah melakukan hal-hal bodoh ini, Dasar Pecundang. ‘Dia’ lelah mendengar ‘aku’ terus berkata-kata, tapi ‘dia’ tak bisa melakukan apa-apa, apalagi mengenyahkan ‘aku’. ‘Dia’ merasa ‘aku’ jauh lebih berpengalaman menghadapi saat-saat sulit: kalau ‘dia’ merasa dunia menghimpitnya, ‘aku’ punya segudang macam cara untuk menghancurkan dunia atau sekedar lari darinya.

Depresi itu seperti saat kau kecanduan (aku tak tahu kau pernah atau tidak). Mula-mula rasanya seperti kau menyerah dan jatuh dalam buaian tangan takdir, lalu hari berikutnya, kau ingin ditimang lagi oleh perasaan bersalah itu. Kau belum kecanduan, belum, tapi kau menikmati betul sensasi rasa bersalah itu. Kau mengutuki dirimu sendiri, kau menyesal, tapi kau masih merasa semua akan teratasi.

Tapi kemudian kau terbiasa membiarkan sensasi rasa bersalah itu menguasai dirimu, menyebar dalam aliran darah dan tiap hela nafasmu. Kalau rasa bersalah itu tak ada, kau akan mencarinya dan membuat dirimu kembali merasa penuh dosa, sensasinya itu asik sekali kalau kau tahu. Perasaan sedih yang berkepanjangan itu sangat rumit, kau akan lakukan apapun untuk berenang di dalamnya, dalam buaian tangan takdir, dan kau tak lagi bisa membedakan ini drama, nyata, atau hanya isi kepalamu yang berputar dalam dunia yang statis. Mungkin karena saat sedih, kita bisa merasakan kedekatan dengan semesta, hujan yang basahi bumi jadi begitu indah kau pandang, angin yang berisik kau anggap pertanda. Haha. Mirip seperti itu, tapi lebih menyakitkan.

Aku menikmatinya sekarang, aku anggap ini pembelajaran terbaik yang bisa kudapatkan. Kuterima ini sebagai jalan ninjaku. Tapi kau tahu tak? Aku jadi pandai sekali berlari dari satu masalah ke masalah lain. Aku tak pernah menyelesaikan persoalan sampai tuntas, aku mudah melarikan diri dan menyerah, menghindar dan terus menghindar. Kenapa menyelesaikan jika dengan pergi dan melupakan, semua akan lebih mudah dan lebih baik?

Salam,

Al

surat dari An: http://anggakade.blogspot.com/2013/12/jadi-ini-kamu.html

2 tanggapan untuk “Seperti Kecanduan, An

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s