Bukan Seorang Ikhwan (2)


Ikhwan, katanya adalah sosok lelaki idaman. Katanya, ia memiliki wawasan yang luas tentang agama Islam dibandingkan lelaki pada umumnya. Katanya, ia bijak dalam memandang dan memahami persoalan. Katanya, ia seorang mandiri yang tabah dalam menghadapi lika liku kehidupan. Katanya, ia tak pernah lelah berdakwah dan berjuang demi umat.

Katanya ikhwan, adalah label untuk seorang lelaki yang sudah ‘terbina’. Meski nanti ada yang komentar, “ikhwan itu saudara laki-laki”, tetap saja tak semua laki-laki akan dikategorikan sebagai ikhwan. Ada saja yang berbisik saat seorang lelaki membawa mushaf atau ikut dalam LDK, “eh, dia ikhwan bukan?” Jadi ternyata, ikhwan itu berkategori.

Ikhwan yang mana? Ikhwan yang aktivis jamaah Tarbiyah, ikhwan siyasi, ikhwan dakwiy, ikhwan gaul? Jadi ternyata terminologi ikhwan itu ribet sekali.

Kata teman-teman, ikhwan itu lelaki idaman. Tapi belakangan aku malah ilfeel dengan mereka yang menyebut dirinya ikhwan.

Ya suka-sukalah.

Hanya saja, tulisan ini khusus untukmu. Hanya kamu: sudahlah, jadi lelaki biasa saja!

Aku ingin kamu jadi lelaki biasa.

Menjadi seorang lelaki biasa yang tak terjebak dalam embel-embel dan pengakuan. Menjadi seorang lelaki yang menjadi baik bukan karena embel-embel aktivis lah, ikhwan-lah, anak masjid-lah.

Bukan ikhwan, hanya seorang lelaki yang juga seorang manusia biasa.

Bukan ikhwan, hanya sosok sederhana yang menunjukkan teladan baik bagi orang-orang sekitarnya tanpa menggurui, tanpa mengharap pujian.

Bukan ikhwan, hanya sosok baik yang tegas, yang peduli sekitar tanpa membuat status-status pencitraan di facebook dan twitter.

Bukan ikhwan, hanya seorang dengan usaha dan pengorbanan tak terbatas untuk membuat keluarga yang kamu cintai bahagia.

Bukan ikhwan, hanya sosok lelaki biasa yang menjalani kerasnya hidup tanpa melupakan kelembutan hati.

Bukan ikhwan, hanya sosok yang mendidik diri menjadi pribadi yang kuat. Yang berjuang mengendalikan dan meredam amarah, serta selalu mengerjakan setiap hal dengan kejujuran dan kerja keras.

Jadilah seorang lelaki biasa, tanpa embel-embel, hingga orang-orang nyaman menyebutmu dengan namamu. Hanya namamu.

Hanya namamu.

Melanjutkan tulisan Diyah, http://diyahcing.wordpress.com/2013/12/12/dia-bukan-seorang-ikhwan/

8 tanggapan untuk “Bukan Seorang Ikhwan (2)

      1. pada kenyataannya, ada banyak klasifikasi. dalam benak saya, akhwat itu jufga punya klasifikas: akhwat tarbiyah, akhwat siyasi, akhwat LDK. ini bukan mau saya, tapi sistem sosial di masyarakat membentuk asumsi ini.

        Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s