Pusaran, An


Sudah berapa lama kau menunggu balasan surat dariku An? Lama sekali ya? Maaf, tapi entah kenapa aku belum ingin menulis balasan surat untukmu, entah kenapa, tak ada alasan. Jadi, ya akhirnya baru malam ini.

Selamat Malam.

Malam ini jalanan ramai sekali. Langit mendung tak bersahabat, udara dingin membuat gigil yang malas, pemandangan kelabu, sempurna terbingkai pada sosok-sosok yang kutemui di jalanan, berbaris di lampu merah, memaki saat ada yang menyerobot, menyelinap kemudian saat ada kesempatan. Semuanya marah.

Pagi tadi sebaliknya, aku begitu lepas, begitu puas, begitu bahagia. Kau tahu kenapa? Hari ini aku bertemu kawan-kawanku: Mila, Bagas, dan Mugi. Mereka bertiga adalah kawan baikku sejak SMA. Dua setengah tahun lalu, kami memutuskan kuliah di UNS, dan takdir pun menyambut baik keputusan kami, Mila di Bastind, Bagas di ITP, dan Mugi di P.Dokter. Kami membayangkan masa kuliah adalah masa yang menyenangkan, bisa main sepuasnya, jalan-jalan seenaknya, ternyata lain 😀

Mila sedang sibuk latihan setiap malam untuk pementasan drama, ia bisa pulang ke kos jam dua belas malam, bisa lebih. Heuh. Mugi lebih lagi, dia belajar ekstra di FK, jarang pulang, jarang main, kuliahnya pun diperlama. Nggak cukup 3 tahun kuliah dan 2 tahun co-ass, katanya dia juga mesti ambil kuliah spesialis umum dua tahun lagi. Wew. Mungkin hanya aku dan Bagas yang sering ketawa ketiwi sepanjang pagi tadi, karena merasa kami nggak ada apa-apanya di banding mereka. Haha

Tapi, demi apa, pembahasan soal kuliah ini kemudian bergulir ke pembahasan lain. Soal masa depan: kerja dimana, kerja jadi apa, nikah kapan, nikah pas udah kerja apa pas lulus, habis kerja mau tinggal di mana, nikah sama siapa, kalo suami-isteri sama sama kerja siapa yang ngurus anak, nikah sama orang solo, malang, atau purbalingga, mau tinggal di kota atau desa. Ya ampun. Waktu cepat sekali berjalan. Dulu obrolan kami berkisar dari tugas sekolah, nggosipin temen, rencana kuliah, eh sekarang yang kami hadapi ternyata lebih kompleks, kami bicara soal filosofi kehidupan yang kami jalani. Fyuh.

Haha. Intinya pagi tadi aku merasa kembali remaja, kembali anak-anak, dengan pikiran yang lepas, bebas, tanpa beban bicara ini, itu. Menyenangkan. Aku lebih suka aku yang begitu daripada aku yang terbebani sejumlah besar metodologi berpikir dalam menyampaikan gagasan yang itu-itu saja.

Tentu kau benar, membaca banyak buku tak akan membuatmu menjadi bijak. Tapi tetap saja membaca itu penting, perlu, bahkan merupakan suatu kebutuhan mendasar yang wajib dipenuhi. Membaca buku membuatku belajar membaca alam, melukiskannya dengan kata-kata yang lebih mudah dicerna nalar. Perasaan tak mengenal kata. Ia hanya mengerti bahasa universal, tanpa kata, tanpa gerakan, tanpa metafora, hanya rasa, hanya bisa dirasa. Tapi sampai sekarang pun aku belum bisa mengeja bahasa universal itu.

Yang kulihat?

Pusaran An,

Salam,

Al

 surat dari an: http://anggakade.blogspot.com/2013/12/jangan-diikuti-yak-al.html

2 tanggapan untuk “Pusaran, An

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s