The Happy Prince and other Stories#1


Senin, 23 Desember 2013  pukul 20.00 WIB ini saya mulai membaca sebuah buku karangan Oscar Wilde berjudul The Happy Prince and other Stories yang diterbitkan Yayasan Obor Indonesia dengan penerjemah Mbak Amrisa Nur. Sembilan dongeng yang ada dalam buku ini dibuat khusus oleh Oscar Wilde untuk dua orang puterinya, Vyvian dan Cecil.

Cerita pertama dalam kumpulan karangan ini berjudul Pangeran yang Selalu Bahagia.

Dikisahkan, tepat di pusat kota didirikan patung Pangeran yang Selalu Bahagia, seluruh tubuhnya dilapisi lembaran emas, matanya berupa dua buah batu safir yang berkilauan, dan ujung pedangnya terdapat batu ruby besar berwarna merah. Seluruh warga kota begitu mengagumi keindahan patung itu.

Pada suatu malam, ada seekor burung layang-layang kecil yang melintas di atas kota. Burung itu berniat terbang ke Mesir mengejar kawanannya setelah cintanya pada sang ilalang tak berbalas. Karena lelah, ia mendarat di kaki patung Pangeran yang Selalu Bahagia, saat itulah ia melihat Pangeran yang Selalu Bahagia menangis melihat kemiskinan dan kesengsaraan warga kota, matanya menangis melihat seorang penjahit miskin yang anaknya sedang sakit. Ia pun meminta pada Burung Layang-layang untuk membawa batu ruby yang menempel pada pedangnya untuk diberikan pada penjahit itu.

Esoknya, Pangeran kembali meminta burung memberikan batu safir yang menjadi bola matanya untuk seorang pemuda yang tengah menderita kedinginan, juga pada seorang gadis penjual korek api yang korek apinya jatuh ke selokan.

Pangeran telah buta karena kehilangan dua bola matanya, Burung Layang-layang itu pun menawarkan diri untuk selalu berada di sisi Pangeran. Ia bercerita tentang pemandangan yang pernah dilihatnya di Mesir, akan tetapi Pangeran memintanya terbang ke pelosok kota untuk melihat penderitaan manusia.

Saat itulah burung itu melihat jurang yang menganga lebar antara si kaya dan si miskin. Si kaya tengah berpesta di rumahnya yang indah, sementara para pengemis tengah kelaparan dalam lorong-lorong yang gelap.

Burung menceritakan itu pada pangeran, kemudian Pangeran meminta burung mengambil satu per satu lempengan emas yang menempel ditubuhnya untuk dibagikan pada mereka yang kelaparan. Setelah selesai menjalankan tugasnya, burung merasa sangat kedinginan dan ia merasa kematian akan segera menjemputnya. Setelah mencium bibir sang Pangeran, ia jatuh, mati dikakinya.

Pada saat bersamaan, terdengar suara retak dari dalam patung, ternyata hati pangeran yang terbuat dari timah terbelah menjad dua.

Esok harinya, warga kota geger melihat patung Pangeran yang Selalu Bahagia yang terlihat kusam dan kelabu. Mereka pun melebur patung itu dalam sebuah tungku dan membuang hati timah Pangeran ke tumpukan debu tempat bangkai burung layang-layang tergeletak. Hati dan Burung itu dibawa Malaikat ke hadapan Tuhan sebagai benda yang paling berharga di seluruh kota.

Agak aneh membayangkan bahwa suatu saat nanti, saya akan menceritakan kisah ini pada anak-anak saya. Tak seperti kisah lain yang berakhir bahagia, kisah ini berakhir tragis dengan pengorbanan dua ciptaan Tuhan dan ketaksadaran orang-orang mengenai pentingnya sebuah ketulusan berbagi, ketulusan memberi, kesenjangan dan ketakmerataannya keadilan.

Apakah memang hanya sampai disana kesadaran manusia itu?

Adanya kesenjangan kaya-miskin pasti tak lahir begitu saja. Ada hukum sebab akibat yang sederhana. Nafsu yang besar, misal saja. Nafsu itu bukan hanya soal libido dan makanan, tapi juga soal proyek dan kekuasaan. Saking besarnya nafsu ini, kita sampai tega merampas jatah yang lain-lain juga. Ya. Kita mengerti alasan ini, tapi mengapa kita hampir selalu bermuka masam saat pengamen dan pengemis hilir mudik ‘meminta’ saat kita sedang makan, mengumpat dan memendam marah malah, sambil pura-pura tak melihat.

Ya Tuhan kami, hanya sampai disinikah hidupnya hati kami melihat sekeliling kami?

Membatunya hati, bisa jadi, bukan karena kita tak peduli. Tapi kepedulian berlebih terhadap diri yang menimbulkan belas kasihan berlebih. Ia suka menyemai kedengkian dalam hatinya, setiap kali melihat orang lain berhasil melakukan sesuatu yang lebih baik darinya, ia merasakan dirinya sebagai pusat kegagalan semesta.

Namun, sekali lagi, ia lupa melihat, ia lebih beruntung. Ia tak layak menyiksa diri dengan kedengkian tak beralasan. Kedengkian itu membuat diri menjadi angkuh, merasa paling benar dan paling bermutu. Dengan pongah memicingkan mata merendahkan dan senyum berhiaskan sinisme. Kau tak akan pernah bahagia dengan cara ini. Tak akan.

Maka saat kau berhasil, lihatlah ke sekitar. Di antara jabatan tangan itu, ada juga ia yang tengah diamuk kedengkian. Ia yang merasa luka karena dikalahkan.

Nak, aku ingin kau melihat kisah ini bukan sebagai Pangeran atau Burung, apalagi Tuhan. Aku ingin kau menjadi salah satu warga kota yang melihat kesenjangan itu, merasakan ketulusan pengorbanan itu, sementara batinmu bergolak tak ingin menyalahkan diri. Dengan begitu, kau menjadi manusia. Karena kau bertempur dengan batinmu, untuk melihat segala sesuatu dengan lebih bijaksana.

Ya Tuhan jika Kau mengizinkan, besok akan kusambung cerita berikutnya.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s