Wahib Lagi


Hari ini seorang junior di Himpunan mendadak mengirimkan pada saya sebuah sms berisi kutipan salah seorang tokoh yang sering kami kutip kata-katanya dalam berbagai obrolan ringan kami, Ahmad Wahib.

Aku bukan nasionalis, bukan katolik, bukan sosialis. Aku bukan budha, bukan protestan, bukan westernis. Aku bukan komunis, Aku bukan humanis. Aku adalah semuanya. Mudah-mudahan inilah yang disebut muslim. (Pergolakan Pemikiran Islam, hal46, 9 oktober 1969)

Sebetulnya, bukannya saya turut mendewakan dan mengiyakan begitu saja kata-kata Wahib. Tapi rasanya memang pemikirannya yang liar menyenangkan untuk diikuti. Meskipun pada akhirnya ia keluar dari himpunan dengan alasan tidak sejalan lagi dengan pemikiran orang-orang yang berada di dalam, toh ia telah berhasil menginfiltrasikan pemikirannya bahkan hingga empat dekade setelah kematiannya. Awalnya iseng, hanya iseng saja, saya menanggapi sms-nya.

Jadi, kamu ini berislam menurut Wahib dong?

Pembahasan ini pernah saya lakukan bersama seorang senior di UMS, teori yang Wahib pakai adalah Kesatuan Transdensi Agama-Agama. Pada titik ini, agama dilihat sebagai hasil budaya manusia. Agama disamaratakan, disejajarkan, tidak ada lagi pembeda antara mana yang agama wahyu dan mana yang agama budaya. Bagi mereka yang meyakini paham ini, semua agama dianggap sebagai jalan yang sah untuk menuju Tuhan. Jadi, perbedaan dalam tiap agama-agama di dunia hanya diyakini di level eksoteriknya semata (cara peribadatan, misal), sementara mereka akan bertemu pada kesamaan pada level esoterik (batiniah).

Senior saya mengibaratkannya seperti sebuah jari-jari roda yang berpusat pada satu titik. Titik di tengah roda itu adalah Tuhan. Kawan saya yang lain mengibaratkannya seperti menara menjulang yang dilihat dari banyak sisi. Menara itu adalah Tuhan.

Nggak lah, aku berislam secara sadar, rasional sekaligus empiris, bebas dari kejumudan berpikir dan sikap taklid. Emangnya kamu mbak.

Saya benar-benar malas menghadapi kasus gara-gara buku Wahib ini lagi dan lagi. Selama setahun awal berkenalan dengan himpunan, pembahasan diskusi dengan beberapa senior tidak jauh-jauh dari pembahasan mengenai hal-hal yang sifatnya teologis, dan kadang saya muak sendiri. (meskipun pada akhirnya mereka juga yang meluruskan pahamanku yang keliru)

Agama yang bukan budha, bukan hindhu, bukan sosialis, bukan westernis ya ujung-ujungnya jadi agama baru. kok dianggap muslim sejati. ngaco kamu. pemikiran wahib pada akhirnya ya menghasilkan satu hal: penghapusan semua agama menuju satu agama global. kalo kamu ngikutin jalan berpikirnya wahib, endingnya pait, galau kamu terombang ambing nggak punya pegangan.

Kata senior saya, Wahib melampiaskan kegamangan dan kegalauannya tanpa bimbingan orang lain. Saat ia asyik dalam diskusi-diskusi filosofis bersama Limited Groupnya yang ide-idenya penuh keliaran, ia belum memiliki ilmu agama yang cukup mumpuni, makanya ia bisa sampai berpikiran hal-hal yang menyimpang.

Ada banyak hal lain mengenai diskusi saya hari ini, tapi saya cukupkan disini. Setelah lama tidak pernah lagi bersentuhan dengan pembahasan ‘ini’, ternyata banyak hal yang saya lupakan. Dan saya rasa, penting untuk mengingatnya kembali. Merangkainya jadi satu kerangka berpikir yang utuh, bukan buat gaya-gayaan, tapi seperti kata senior saya: belajar juga perlu kerangka!

Saya sudah lama nggak main ke Gedung Insan Cita, ngobrol dengan beberapa senior. Tepatnya sejak saya bergabung kembali dengan KAMMI. Saya rasa itu bukan alasan, saya rasa saya harus datang ke sana dan belajar lagi, dengan menempatkan diri pada posisi saya sekarang, akan lebih nyaman. Apa salahnya?

Eniwei, hari ini saya mulai membaca Dalam Pangkuan Sunnah-Yusuf Qaradhawy

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s