Malam Terakhir di Solo


Perhaps love is like a resting place

A shelter from the storm

It exists to give you comfort
It is there to keep you warm

And in those times of trouble

When you are most alone

The memory of love will bring you home

Ada rasa berat yang tak tertahan saat menyadari bahwa esok tanggal sepuluh Januari saya akan pulang ke rumah. Menurut saya ‘pulang’ tentu adalah ide bagus. Saya telah menantikannya sepanjang semester ini. Tapi malam ini lain. Maka demi alasan tak rasional itu, saya membuka kardus berisi materi, tugas, proposal, dan hal-hal lain yang bercerita tentang 2013 pada saya. Oh iya, demi kesan romantis, saya menyenandungkan lagu Perhaps Love-John Denver lirih (kalau keras-keras bisa bahaya)

Saya menghela nafas berat merenungkan betapa banyak hal yang terjadi di semester tiga ini. Jujur, memang tak begitu berat seperti tahun sebelumnya. Hanya saja, tahun ini seperti benar-benar berjalan di tempat. Saya sering merasa khawatir dan resah akan hal-hal yang sebenarnya tak begitu penting, saya sering merasa cemburu dan frustasi akan hal-hal yang tak ada kaitan satu ujung kuku pun dengan kehidupan yang saya jalani. Dan pada akhirnya, saya mulai sadar bahwa saya ingin tetap di Solo, kota yang kini saya tinggali. Bukannya ‘pulang’.

Saya merenung. Mengirimkan sebuah pesan pendek pada seorang kawan. Hanya ingin curhat, tanpa perlu tanggapan.

Setelah berpuas diri merenung, saya tersadar untuk sesaat tentang apa yang saya rasakan. Dalam bahasa yang lebih sederhana saya menyebutnya : Mengenang

Yunda saya pernah menulis di blognya (yang kemudian saya catat di sticky notes): Kau pikir, hari ini apa yang kita kerjakan? Kita sedang membentuk kenangan. Kita sedang membunuh waktu dengan hal-hal yang hanya ingin kita kerjakan.”

Yep, saya rasa ia benar. Setiap waktu yang terbunuh memiliki ingatan dan kenangannya sendiri-sendiri. Ada yang membahagiakan, ada yang menyedihkan, ada yang lucu, ada yang menyebalkan. Tergantung kau menamai apa perasaaan itu.

Tanpa kenangan hidup ini menjadi pudar. Kenangan ada dan hadir untuk dimengerti, untuk dikonsumsi seperti candu dan dikunyah-kunyah dalam akal pikiran ini,

And some say love is holding on

And some say letting go

And some say love is everything

And some say they don’t know

Saya hanya ingin bilang: Saya tidak tahu.

 Surakarta, 9 Januari 2014

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s