Rindu yang Berujung Surga


Kamis, 16 Januari 2014

Seorang kawan sedang membaca Dunia Sophie. Ia meminta pendapat saya mengenai Descartes. Kata saya: Dia menciptakan yang irrasional di dalam nalar.

Saya pernah membaca sebuah buku yang berkata kurang lebih begini: sebagian orang menyatakan bahwa Descartes adalah peletak dasar-dasar filsafat subjektivisme. Argumentasinya mengarah pada terciptanya kepuasan dan terbentuk dalam format wacana pembuktian induktif. Setiap orang boleh saja berkata: “Saya berpikir, maka saya ada”, akan tetapi kata-kata itu jelas lebih bermakna dari sebuah ungkapan. Sebab, ungkapan tersebut telah menjelaskan sebuah usaha untuk membangun konsep subjektivisme atau konsep ego sebagai subjek berpikir secara orisinil. Dari sini, kita bisa ambil kesimpulan bahwa filsafat Descartes dibangun di atas kekaburan antara rasio dan irrasio. Itu kata Michael Foucault.

Selamat membaca lagi. Saya tak tahu banyak. Saya hanya membaca, sama sepertimu. Kau boleh menyanggah, seperti biasa.

Hari ini saya membaca buku berjudul Rindu yang Berujung Surga karya Abul Miqdad Al-Madany. Buku ini saya beli pada 1 November 2010. Sudah beberapa kali saya baca, tapi hari ini entah kenapa saya ingin membacanya lagi.

Buku ini berisi kisah perjalanan para ulama salaf baik itu berupa pesan, ucapan maupun tindakan yang mereka telah lakukan untuk kemudian direnungkan diambil hikmahnya.

Salah satu bab dalam buku ini berkisah mengenai murid Imam As Syafi’iy yang bernama Al Muzany. Ia pernah bertanya pada gurunya mengenai keraguannya tentang tauhid. Setelah menanyakan hal-hal yang bisa Al Muzany indra namun belum ia pahami dengan baik, As Syafi’iy menjawab: “Sesuatu yang dapat engkau lihat dengan mata kepalamu sendiri saja engkau tak mengetahuinya, lalu bagaimana mungkin engkau ingin tahu bahkan meragukan tentang Allah yang tidak dapat engkau lihat dengan mata kepalamu sendiri?”

Beliau kemudian bertanya mengajukan pertanyaan mengenai wudhu, namun Al Muzany salah menjawabnya. Beliau pun berkata, “Sungguh mengherankan, sebuah perkara yang engkau butuhkan lima kali sehari saja tidak engkau ketahui, lalu engkau memaksa diri menggugat tentang Allah, Sang Khaliq?” Kemudian beliau menyarankan membaca QS Al Baqarah: 163-164.

Keraguan memang selalu menggoda. Beberapa menganggapnya tamasya intelektual, beberapa lainnya menganggap sebagai keharusan seorang cendekiawan. Nalar Descartes bertujuan untuk mendapatkan kepastian mengenai hakikat kehidupan, dia ingin memulai dengan menyatakan bahwa pertama-tama orang harus meragukan segala sesuatu. Descartes merasa, ia harus membebaskan dirinya dari pengetahuan yang diwarisi atau diterima sebelum ia menyusun filsafatnya sendiri. Lebih lanjut, ia malah bertambah ragu, sebab ia mulai tak dapatmempercayai indera-indera yang dimilikinya sebab mungkin mereka memperdayanya.

Pada akhirnya, yang ia yakini adalah bahwa saat ia ragu, maka ia sedang berpikir, dan saat ia sedang berpikir pastilah ia makhluk yang berpikir. Cogito, ergo sum. Bedanya, kita telah menemukan posisi subjektif kita atas dasar tauhid yang melandasi keimanan kita pada kitabullah yang menjadi pedoman dalam menjalani kehidupan dan menjawab segala pertanyaan.

Semoga keraguan itu mampu mengantar kita untuk menyadari bahwa akal (sebagaimana anggota tubuh lainnya) memiliki kelemahan dan keterbatasan. Di luar batas jangkauannya, ia tak akan sanggup bekerja, dan itulah saat-saat terindah dalam hidup, saat kita menyerahkan segalanya pada Sang Mahasegala, Allah Azza wa jalla.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s