Mas Marco: Sama Rasa Sama Rata


Jum’at,17 Januari 2014

Hari ini, saya membaca Puisi Indonesia Sebelum Kemerdekaan (Sebuah Catatan Awal) yang disusun oleh Bapak Sapardi Djoko Damono.

Buku ini membahas mengenai kapan sastra Indonesia lahir dan perkembangannya. Hal ini penyusun telusuri dari media cetak yang berkembang sekitar pertengahan abad ke 19 yang umumnya berupa puisi agama (Nasrani) berbahasa Melayu. Namun, seiring dengan pengaruh kebudayaan barat, para penulis puisi kita mempertimbangkan cara penulisan baru yang kemudian melahirkan angkatan Pujangga Baru dengan segala inkonsistensinya. Meskipun demikian, tradisi lisan yang kuat menyebabkan bentuk-bentuk seperti syair dan pantun menjadi pilihan penting penulisan puisi.

Salah satu yang menarik dari buku ini adalah ketika penyusun membahas mengenai Mas Marco Kartodikromo, seorang yang selama ini saya kenal sebagai tokoh awal pendiri Partai Komunis Indonesia dalam buku Zaman Bergerak karya Takashi Shiraishi.

Saya akhirnya membaca Marco dari perspektif ‘lain’ dari yang selama ini saya ketahui. Selain aktif menjadi wartawan, ternyata ia juga seorang novelis dan sastrawan.

Setelah Medan Prijaji mati, pada tahun 1914 ia menerbitkan mingguannya sendiri yang ia beri nama Dunia Bergerak. Lewat mingguan ini, ia menyuarakan pembelaannya terhadap kaum pribumi jawa yang miskin. Meskipun awalnya menyuarakan kritik lewat beberapa surat dan artikel, pada akhirnya sastra-lah yang dipilih Mas Marco sebagai alat perjuangan.

Ia pernah menerbitkan buku puisi berjudul Syair Rempah-rempah sebagai bentuk tanggapannya terhadap situasi sosial politik pada tahun 1918. Buku yang berisi delapan syair itu menunjukkan keburukan pemerintah kolonial di Hindia Belanda yang menyebabkan kesengsaraan rakyat. Salah satu syair dalam buku tersebut berjudul Sama Rasa dan Sama Rata

.

Dulu kita suka kroncongan

Tapi sekarang suka terbangan

Dalam SI Semarang yang aman

Pergerak keras ebeng-ebengan

Ini sair nama: Sama Rasa

Dan sama Rata itulah nyata

Tapi bukan sair bangsanya

Yang menghela kami di penjara

Syair di atas ditujukan pada orang-orang Sarekat Islam untuk menyadarkan mereka bahwa prinsip sama rasa sama rata harus diterapkan di dunia ini. Tentu ini berlandaskan pada kenyataan bahwa Marco memang aktif sebagai anggota dari Sarekat Islam. Dalam karyanya, Mas Marco menekankan pandangan hidup orang Jawa yang menyatakan bahwa watak satria dan pandita harus menyatu dalam diri kita. Selain mesti berani berperang dan berjuang, seseorang haruslah memberikan perhatian pada hal-hal rohaniah.

Jalan kemardika’an amat susah

Buat orang yang hatinya lemah

Dan berjalan setengah-setengah

Tidak bisa dapat yang diarah

Dalam syair tersebut, Mas Marco memberikan semangat pada pembaca untuk berani melakukan perjuangan demi kemerdekaan. Ia menyarankan pada pembacanya agar berani menghadapi bahaya. Meskipun, dalam beberapa nasehat yang ia sampaikan pun, ia tak menampik bahwa “Saya hanyalah berkata saja/ Tak tentu bisa melakukannya”

NB. Adhytiawan, kawanku di Himpunan sangat mengagumi tokoh ini. Baginya, Mas Marco adalah gambaran seorang pejuang yang ideal. “Sumpah Lik, dia keren banget.”Begitu kata Adhyt. Eniewi, Terimakasih telah mengenalkanku dengan Mas Marco.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s