Mimbar Pendidikan No.3/XIV/1995


Purbalingga, 24 januari 2014

Selama tiga hari terakhir ini saya membaca jurnal pendidikan (Mimbar Pendidikan No.3/XIV/1995) dengan diselingi novel dan teenlit yang saya baca ulang (Mutiara di Kota Melbourne dan Nggak Matre sih, Tapi..). Agak aneh memang, biasanya orang pasti akan membaca jurnal terbaru, bukannya jurnal yang terbit sewindu lalu macam saya. Tapi saya kira itu tak jadi soal. Kanda Tori, senior saya di Himpunan pernah meminjamkan sebuah majalah terbitan tahun 1985 yang berisikan sejarah awal perkembangan dakwah kampus di Indonesia. Malah, dari majalah itu saya seolah menjadi seorang yang hidup di tahun tersebut dan menyaksikan sendiri kondisi riil yang dihadapi bangsa, khususnya mahasiswa Islam Indonesia.

Mimbar Pendidikan edisi ini membahas mengenai berbagai persoalan pendidikan yang terjadi di akhir era orde baru. Salah satu tulisan yang menarik perhatian saya adalah artikel yang ditulis oleh Bapak Zamroni, Ph.D, salah satu pakar pendidikan dari IKIP Yogyakarta (sekarang UNY) berjudul Etos Bangsa dan Pembinaan Nasionalisme Kaum Terpelajar.

Penulis menegaskan bahwa nasionalisme yang bersifat dinamis merupakan jawaban atas struktur sosial yang ada. Ia mengkritik kuatnya kekuasaan pemerintah dan lemahnya kontrol masyarakat yang pada akhirnya merugikan rakyat dikarenakan kebijakan yang diambil hanya berpihak pada beberapa elite. Selain itu, budaya birokrasi yang cenderung dikuasai elite pun dituding mematikan kreativitas dan inisiatif masyarakat.

Lebih lanjut ia menguraikan mengenai peranan pendidikan dalam mengembangkan nasionalisme. Ia menilai iklim kelas yang selama ini dirasa kondusif dalam mengembangkan nasionalisme malah merupakan ruang yang mematikan nasionalisme. Sebab, suasana kelas yang terbangun sangatlah tertutup dan ketat serta didominasi oleh pendapat guru yang didasarkan pada buku-buku teks, sementara siswa tidak diberi kesempatan untuk menyampaikan pendapat yang berbeda.

Penulis pun mempertanyakan: apakah guru merupakan birokrat atau pekerja profesional?

Ia menulis: “Guru bukan enterpreneur individual, juga bukan seseorang yang berpraktek sebagai pribadi, meskipun guru memiliki kode etik dan kebebasan bertindak dalam mengambil keputusan atas pekerjaannya. Di sekolah, karena pendidikannya guru seharusnya merupakan pekerja profesional. Namun kenyataannya guru lebih cocok kalau disebut pekerja profesional dalam setting birokrasi.”

Baginya, siswa perlu diajak belajar dalam lingkungan yang kondusif dimana isu-isu strategis dibahas secara terbuka dan akademis. Ia memberi contoh beberapa pertanyaan tersebut: “….misalnya, perlukah dwi fungsi abri diteruskan? Mengapa jabatan gubernur dibatasi dua kali periode sedang masa jabatan presiden tidak dibatasi? Bisakah siswa diperlakukan secara adil tanpa memandang latar belakang sosial tertentu? Apakah jumlah anggota DPR yang mewakili ABRI sepadan dengan jumlah personil ABRI sendiri?..”

Di akhir, ia menegaskan bahwa meskipun lembaga pendidikan (sekolah) hidup dalam suatu sistem politik, namun sekolah bukanlah lembaga politik. Karenanya, tugas mengembangkan nasionalisme di kalangan peserta didik perlu dilakukan tanpa indoktrinasi, melainkan dengan kemampuan kritis dan analitis sehingga peserta didik mampu menarik kesimpulan yang genuine atas problem yang dihadapi. Tugas ini mesti diemban oleh guru yang memiliki otonomi, keberanian, dan dedikasi dalam mengembangkan potensi peserta didiknya.

**

Agaknya artikel yang ditulis sewindu lalu ini masih relevan untuk dikaji di era kini. Membandingkan apa yang Bapak Zamroni tulis dengan kritik yang juga sering diungkapkan Eko Prasetyo dan Darmaningtyas, saya rasa mampu membuat kita (utamanya para calon pendidik) merenung sejenak untuk membangun kesadaran kritis bahwasanya sebagai insan pendidik kita telah mewarisi persoalan yang mengakar dan mengurat nadi. Kita tidak bisa mengelak dari amanat ini, detik ini hingga tahun-tahun mendatang.

Bismillah.. Semoga kita bisa. 

3 tanggapan untuk “Mimbar Pendidikan No.3/XIV/1995

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s