Barisan Sakit Hati


Purbalingga, 27 Januari 2014

Membuktikan diri terbuka, bukankah dengan mengatakan bahwa diri sudah tidak tertutup, tapi dengan kata dan karya yang menunjukkan dan mengesankan keterbukaan kita. –Ahmad Wahib

Di era kini, banyak orang yang akui diri sebagai golongan moderat yang secara substansial menerima keberagaman sebagai fitrah individu. Faktanya, tutur tak selalu sejalan dengan laku. Mereka senantiasa dihantui ketakutan bahwa yang memimpin sebuah lembaga bukan dari in-groupnya. Cih!

Mungkin aku hanyalah barisan sakit hati yang bermental naif, yang selalu dijejali kata-kata Fathi Yakan dalam buku Robohnya Dakwah di Tangan Da’i.

Mungkin.

Sepanjang yang kupahami, aku berhimpun dalam jamaah ini bukan hanya disaat aku yakin pada nilai-nilai yang diperjuangkan serta marhalah yang mesti dituntaskan. Adakalanya aku memberontak terhadap nilai-nilai yang tak bisa kuterima, meki pada akhirnya aku tetap bertahan, sebab yang kutahu, ada hal-hal yang memang patut untuk diperjuangkan secara kolektif, bersama dalam sebuah jama’ah.

Kembara berkata padaku bahwa yang kupahami sebagai jama’ah keliru. Ada beda antara jama’ah, harakah, dan ormas. Aku mengiyakan. Kami sama-sama tak membahas lebih lanjut mengenai hal ini karena kami merasa sudah mengerti pikiran satu sama lain. Seperti aku yang mengerti mengapa ia bertahan dengan argumen bahwa perjuangan menegakkan Islam tak mesti dilakukan dengan bergabung dalam sebuah jama’ah, harakah, maupun ormas sementara disaat yang sama ia menunjukkan afiliasi berlebih pada Majelis Mujahidin Indonesia (dia bilang nggak). Diantara semua paradoks dalam pemikiran kami, ada batas-batas yang membuat kami bisa saling memaklumi pemahaman masing-masing, dan itu membuatku benar-benar bersyukur.

Beberapa waktu lalu aku membuka blog teman SMA-ku, dalam tulisannya ia berkomentar mengenai pentingnya persatuan ummat. Ia berpandangan bahwa hal itu merupakan persoalan paling strategis yang mesti dipecahkan dalam waktu dekat mengingat semakin beragamnya ormas Islam di Indonesia yang malah saling ‘serang’ satu sama lain, padahal satu dengan lainnya memiliki tujuan yang baik.

Masalahnya, setiap kali orang berpikir ingin menyatukan ummat dan membentuk wadah baru, wadah baru itu pun pada akhirnya menjadi salah satu wadah yang semakin menambah beragamnya golongan. Nah?

Aku kira yang kita perlukan saat ini adalah menerima perbedaan itu sebagai rahmat. Normatif memang, namun susah diupayakan. Katup keterbukaan kadangkala menjadi semacam lip service semata. Padahal, hal ini penting mengingat setidaknya, pada tingkatan yang paling mendasar (hati) kita tak akan menghujat dan menyalahkan ikhtiar masing-masing golongan.

Mau bergabung atau tidak sudah jadi hak masing-masing. Kukira, meskipun seorang tak bergabung, pastilah ada semacam kecenderungan ideologis pada salah satu golongan itu, atau kecenderungan pada yang ia yakini sendiri sebagai kebenaran. Contohnya: Kembara dengan ‘netralitas MMI-nya’ (sekali lagi, dia bilang nggak) dan Joseph dengan ‘non-ideologis batman-nya’.

Bagiku tak jadi soal dengan penilaian orang terhadap mereka. Toh, mereka kelihatan ikhlas menjalaninya. Tak begitu peduli dengan benar-salah penilaian orang. Hanya saja, yang membuatku agak kurang nyaman adalah sebutan sempalan dan barisan sakit hati untuk beberapa diantara kami yang …..(ya, kau tau lah).

Purbalingga, 28 Januari 2014

Masih tentang Barisan Sakit Hati

Pada 9 Januari lalu aku bertemu seniorku. Kami mengobrol panjang lebar dari ba’da dhuhur hingga menjelang ashar mengenai nafas panjang gerakan eksternal mahasiswa. Mulai dari beberapa isu strategis, fungsi organisasi yang tidak berjalan, transfer ideologi yang gagal, dan post power syndrome yang melanda alumni beberapa tahun ini yang menyebabkan ditelantarkannya pemegang estafet kepemimpinan setelahnya (dalam bahasaku, taurits yang ngadat).

Harus kuakui, aku malu dan sedikit canggung. Sudah agak lama rasanya aku tak peduli lagi pada gerakan dan segala tetek bengeknya. Aku merasa bingung dan tak bisa berkata-kata. Aku belum mampu mempertanyakan hal-hal dengan begitu gamblang. Ada semacam perasaan traumatis yang melanda dalam diri: sebuah ketakutan dinilai menyimpang dan berbeda. Jadi dalam banyak jeda, kami hanya diam sambil memakan makanan yang terhidang di meja. Aku tak menyangkal, juga tak mengiyakan. Aku benar-benar hanya bisa diam.

Sudah sewajarnya memang seniorku akan kecewa, hanya karena alasan trumatis dan ketakutan tak beralasan di cap sempalan dan barisan sakit hati aku mundur dari gelanggang perang. Padahal menurutnya, dinamisasi akan membuat kami lebih banyak belajar. Bukan hanya aku yang butuh jawaban dari pertanyaan-pertanyaanku, teman-temanku yang lain butuh pertanyaan untuk membuat mereka berpikir tentang jawaban.

Namun otakku dengan segera mengambil rasionaliasasi atas sikap diam dan tak acuhku. Ia menegakkan argumentasi apologis untuk menutupi kelemahan dan ketidakikhlasanku.

Seniorku menghela nafas. Ia berseloroh, “Kata orang, ada dua tipe manusia dalam pergerakan: mereka yang berjuang di struktur dengan kemampuan taktisnya dan mereka yang memilih menjadi resi, mengembara dalam kedalaman ilmu dan membangun konsepsi untuk menyegarkan ide-ide perjuangan. Kamu kok nggak di dua-duanya?”

Hari ini aku memikirkan lagi semua yang terjadi, rasa-rasanya aku mesti belajar berterus terang minimal terhadap diriku sendiri sebab belakangan ini aku tak bisa memahami apa yang betul-betul sedang kupikirkan. Bukan hanya diri, pikiranku pun memakai topeng! Semakin dibuka, semakin banyak topeng yang menutup jernihnya pikiran. Mau masuk struktur kek, mau jadi resi kek, jujur dulu!

2 tanggapan untuk “Barisan Sakit Hati

  1. Hem…………………^_^sulit rasanya memaknai apa yang sedang kau rasakan adikku, tapi ku akui sejujurnya kau memiliki harapan kebaikan untk semua #egomu masih terlalu besar

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s