Rindu Apresiasi


Purbalingga, 26 Januari 2014

Sebetulnya dengan menulis di blog, saya merasa kebebasan saya terpasung. Mengapa? Pertama, saya tidak bisa menuliskan dengan terang tokoh-tokoh dalam tulisan saya, itulah mengapa harus ada nama Alfa, Kembara, Joseph, dan Kenzi. Kedua, saya tidak bisa menggambarkan kejengkelan saya dengan bahasa kasar yang saya kira cukup menyenangkan untuk dituliskan. Ketiga, demi alasan hormat menghormati saya tidak bisa menyuarakan ketidaksepakatan saya pada berbagai hal dengan bahasa yang lugas. Tapi, sejujurnya saya katakan dari hati saya yang terdalam: saya rindu apresiasi. Menyenangkan rasanya melihat bahwa setiap hari pengunjung di blog ini bertambah, berpikir bahwa mungkin orang membaca tulisan saya dan mengenal saya.

Ah, tapi parahnya belakangan ini saat saya menulis saya mulai memikirkan tentang orang lain yang membaca tulisan saya. Dalam benak saya, ada semacam hadirin empirik yang menguji setiap kata yang saya tuliskan, dan itu membuat saya makin berhati-hati merangkai kata. Menyebalkan. Tidak lepas. Tidak bebas. Tapi seperti saya bilang diawal: saya rindu apresiasi.

Umberto Eco menulis dalam catatan akhir untuk bukunya, The Name of The Rose: Seorang anak kecil bicara dalam bahasa ibunya dengan lancar meskipun ia tak akan pernah bisa menuliskan tata bahasanya. Aturan mengenai hal itu sudah dikenal dengan baik meskipun tidak disadari juga oleh anak itu. Pakar tata bahasa hanyalah sekedar seseorang yang tahu cara dan mengapa anak itu menguasai bahasa tersebut.

Ada kerinduan meledak-ledak dalam diri saya untuk bisa menjadi anak kecil itu. Ia berbicara dengan bahasa yang lugas, tanpa tedeng aling-aling, sekenanya, tidak begitu mempermasalahkan adakah kesalahan dengan tata bahasanya, adakalah keganjilan dalam struktur kalimatnya. Apakah itu akan menyinggung atau menyakiti pendengarnya.

Saya ingin blog ini menampung setiap kata, setiap kalimat, setiap pemikiran yang tak pernah bisa saya ungkapkan dengan bahasa lisan oleh sebab keterbatasan tutur dalam beretorika, serta kerendahdirian yang seringkali menguasai saya tanpa bisa saya kendalikan. Makanya, saya ingin menghidupkan Alfa (sosok yang menghadirkan cinta masa remaja untuk saya), Joseph (sang guru kehidupan), Kembara (kembaran identik -ideologis), serta Kenzi (seorang sahabat rahasia).

Kata Umberto (lagi): Untuk membangun sebuah kisah, pertama-tama kau harus membangun sebuah dunia, melengkapinya sebanyak mungkin sampai benda-benda yang paling kecil.

Tapi, darimana saya akan memulainya?

Kenzi, kamu ingat film Inception? Andaikan saya harus menciptakan dunia baru di alam mimpi, maka hal pertama yang akan saya ciptakan adalah hujan (Kembara juga menyukainya).  Saya akan memerlukan awan dan titik air. Dibawahnya ada payung. Siapa yang memegang? Mm, mungkin seorang lelaki tua. Bagaimana lelaki tua itu? Akan saya berikan suatu kesedihan karena ia telah kehilangan segala yang ia miliki (isteri, harta, anak dan cucu). Setelahnya, barulah saya akan menulis sambil menerjemahkan dalam kata-kata. Entahlah Kenzi, agak sulit saya rasa untuk lebih jujur. Apakah kamu akan membenci saya karena saya mulai menyukai topeng?

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s