Kepada Alfa: Jalanan Solo yang Murung


Hai, apa kabar Alfa? Lama sekali aku tak lagi menulis surat padamu ya? Apa kamu merindukan surat-suratku seperti aku merindukan masa-masa saat kita belia dulu? Aku ragu. Perasaan-perasaan itu rasanya jauh terkubur oleh segala rutinitas yang menyita hari-hari kita dengan seperangkat tugas, kegiatan, dan bumbu-bumbu rencana.

Semalam, Gunung Kelud meletus (aku sedang menginap di kos Mila). Aku tak tahu pasti kapan waktunya terjadi. Aku bahkan tak mendengar dentuman ledakannya yang (katanya) dahsyat. Seingatku, sehabis aku membaca buku mengenai Konsep Dasar Politik Islam, aku tertidur karena lelah. Jam dua aku bangun karena haus, saat itulah baru kusadari telah bertumpuk debu-debu vulkanik di depan kamar. Ah, aku begitu pulas rupanya.

Seharian ini aku tak keluar kamar. Jadi, kuhabiskan waktu dengan membaca buku dan online medsos. Aku membaca (lebih tepatnya membuka halaman-halaman terakhir) Wisanggeni Membakar Api karya Pitoyo Amrih dan beberapa sub bab buku La Tahzan Dr. Aidh Al Qarny.

Sorenya aku pulang ke asrama. Aku melihat jalanan Solo begitu kelabu, kelabu yang murung. Daun-daun yang hijau tertutup debu vulkanik, debunya beterbangan sepanjang jalan, orang-orang memakai masker dan jas hujan, dan segalanya terjadi dalam gerak lambat yang melenakan.

Selama dua puluh menit di atas sepeda motorku aku merasakan bergumpal-gumpal rasa yang secara eksplosif menerobos keluar, sebuah rasa penyatuan yang murni dengan warna kelabu yang menggantung di langit Solo, yang menerabas jalanan, dan menjadi satu dengan semesta raya.

Di depan Taman Balekambang aku berhenti sejenak dan merasakan angin bercampur debu membelai wajahku lembut. Kupejamkan mata, tak mempersilahkan debu-debu jalanan mengganggu penglihatanku. Lalu waktu rasanya berhenti dan aku sendiri, dalam dunia yang mati dan sunyi, seirama dengan warna kelabu yang murung ini. Aku berbisik, menyebutkan satu nama yang kurindu. Dan aku merasa lega.

Aku belajar diam dari yang cerewet, toleransi dari yang tidak toleran, dan kebaikan dari yang jahat. Namun anehnya, aku tidak pernah merasa berterimakasih pada guru-guruku ini.” Demikian Kata Kahlil Gibran suatu waktu. Agaknya, ini pula yang kurasa saat sepanjang sore aku berkendara.

Hm, rasanya aku mesti berterimakasih pada debu vulkanik yang membuat Solo hari ini terlihat begitu mempesona, anggun, dan cantik, meskipun murung, yang membuatku merasa sedikit bercahaya dalam kemurungan kota yang seolah mati.

Oh iya, Aku merindukanmu.

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s