Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin (Zainab Al Ghazali) Part 1


-Tentang Sebuah Keteguhan Hati

Mulanya, saya mengenal tokoh pejuang wanita bernama Zainab Al Ghazali dari buku berjudul Kontribusi Muslimah di Mihwar Daulah karya Sumaryatin Zarkasyi tiga tahun silam. Buku ini merupakan salah satu seri dari seratus seri buku pengokohan Tarbiyah terbitan Era Intermedia.

Salah satu bab di buku tersebut menerangkan kontribusi muslimah dalam marotibul ‘amal kelima yakni islahu al hukumah. Penulis memaparkan kisah hidup Sayidah Zainab Al Ghazali sebagai percontohan bagi wanita muslimah untuk berperan aktif dalam ranah publik dan politik dengan mengadvokasi masyarakat untuk memperoleh hak-hak yang dirampas oleh pemerintah.

Zainab Al Ghazali adalah seorang yang sepanjang hidupnya telah membentuk dirinya sebagai pribadi yang memiliki ambisi yang kuat dan tekad yang membara. Ia adalah sosok muslimah yang cerdas dan kuat pendiriannya dalam memperjuangkan apa yang ia yakini sebagai kebenaran.

Beberapa hari lalu, seorang kawan meminjamkan saya buku yang sayidah tulis berjudul Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin. Buku ini mengisahkan perjuangan hidupnya sebagai Ketua Umum Jamaah Muslimat di Mesir saat rezim Gamal Abdul Naser berkuasa.

Kisah dalam buku ini dimulai saat Zainab Al Ghazali harus menjalani perawatan di rumah sakit karena ‘kecelakaan’ lalu lintas yang dialaminya pada bulan Februari 1964, saat itu pemerintah membuat surat keputusan pembubaran Jamaah Muslimat yang ditolaknya mentah-mentah. Penolakan itu membuat pemerintah memaksanya untuk melakukan penggabungan organisasi Jamaah Muslimat ke dalam Front Persatuan Sosialis.

Setelah siasat yang dilakukannya untuk menggagalkan rencana Dinas Intelejen Mesir berhasil, ia kembali mendapat bujukan dari Dinas Intelejen mesir. Namun seperti yang sudah-sudah, ia berkata lantang dan tegas: TIDAK! untuk sebuah rezim tiran.

Jamaah Muslimat yang didirikan tahun 1358 H mendapat tawaran dari Asy Syahid Hasan Al Banna untuk melebur ke dalam Ikhwanul Muslimin sebagai bagian Wanita Muslimat, akan tetapi permintaan fusi tersebut ditolaknya meskipun ia tetap sepakat untuk mempererat hubungan kedua lembaga tersebut.

Namun, sehari setelah pembubaran Ikhwanul Muslimin tahun 1948 Zainab Al Ghazali berbaiat pada Allah di hadapan Hasan Al Banna untuk berjuang melancarkan dakwah Islam sebagaimana yang dicita-citakan oleh Ikhwanul Muslimin. Tak lama setelahnya, Hasan Al Banna pun syahid menemui Tuhannya dan jabatan mursyid ‘am Ikhwanul Muslimin dilimpahkan pada Imam Hasan Al Hudhaibi.

Ketika pada pertengahan 1956 gelombang tahanan pemerintahan Abdul Naser dibebaskan, Zainab Al Ghazali beserta beberapa anggota Wanita Ikhwanul Muslimin menggalang bantuan dana demi meringankan beban para tahanan yang tersiksa, terutama anak-anak dan para yatim. Kemudian, pada 1958 bersama Abdul Fattah Ismail ia memulai menyusun konsep pengkaderan pertamanya yang meletakkan metode pendidikan Islam, yaitu pendidikan individu muslim yang sadar akan kewajibannya untuk Tuhannya, penataan masyarakat muslim yang sadar akan diri dan kewajiban yang diembannya serta terpisah dari masyarakat jahiliyah. Konsep ini semakin dimatangkan ketika pada tahun 1962 Sayid Qutb memberikan berkas berjudul Ma’alim fii Thariq yang ditulisnya dari dalam penjara untuk dijadikan pedoman dalam proses pendidikan, pembentukan, persiapan, dan penanaman aqidah tauhid dalam jiwa para pemuda yang dibinanya secara sembunyi-sembunyi dalam kumpulan antara 5-10 orang pemuda.

Rencananya, pendidikan ini akan berlangsung selama tiga belas tahun. Setelah 13 tahun berlalu, maka akan diadakan survei kembali di seluruh negeri untuk mencatat pengikut dakwah Islam. Apabila 75% jumlahnya, maka mereka akan mencanangkan penerapan hukum Islam di negara. Apabila hanya 25%, maka mereka akan mengulang pendidikan kader selama 13 tahun lamanya. Zainab Al Ghazali meyakini bahwa ia tidak boleh menghentikan upaya pendidikan Islam ini dari generasi ke generasi.

Membaca dua bab kisah Zainab Al Ghazali yang tetap berdiri tegak ketika para intelejen datang untuk menundukkannya membuat saya merinding dan tercengang. Saya melihat sinar kecerdasan yang terpancar dari tatapan dan tutur katanya. Saya melihat ketegaran tanpa banding yang tak berkarat oleh waktu, ia tetap berdiri dan tetap teguh dengan pendiriannya memperjuangkan kebenaran atas nama dakwah illallah.

(bersambung)

Satu tanggapan untuk “Perjuangan Wanita Ikhwanul Muslimin (Zainab Al Ghazali) Part 1

  1. assalamualaikum warohmatullah… permisi admin, saya mau tanya referensi2 buku tentang biografi Zainab al-ghazali. karena saya sedang menliti tentang beliau dan tafsirnya, tetapi saya kesulitan mencari referensinya. terimaksih

    Suka

Aku membuka ruang kritik dan saran untuk memperbaiki kualitas diri setiap waktu, karena itu, tinggalkanlah jejak dengan memberi komentar. Terimakasih :)

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout /  Ubah )

Foto Google

You are commenting using your Google account. Logout /  Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout /  Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout /  Ubah )

Connecting to %s